Arsip untuk November 17th, 2008

17
Nov
08

Teknologi Informasi dan Perempuan

Di era globalisasi, perkembangan teknologi informasi melalui media membuka kesempatan bagi kaum perempuan khususnya untuk terjun ke dunia publik. Reformasi membawa tuntutan yang besar kepada perubahan sistem informasi, perempuan sendiri masih mempunyai kapasitas yang relatif rendah untuk bisa melayani segala perubahan. Saat ini perempuan yang memiliki kemampuan dan disiplin ilmu yang tinggi bnayak sekali, tapi motivasi dan minat untuk menekuni perangkat teknologi canggih sedikit seklai. Berpijak dari sejarah bahwa informasi bagi perempuan berada dalam kondisi yang lebih baik, ketika masa R.A. Kartini yang hidup dam keterkungkungan, dengan tradisi yang melekat berubah kepada era reformasi yang mengubah kehidupan kaum perempuan. Perubahan itu nampak pada kehidupan yang berfase kebebasan menuju fase kepemimpinan.

Ketertinggalan kaum perempuan tentang teknologi informasi dan komunikasi membatasi pengembangan minatnya dan menyebabkan perempuan masih lebih banyak terkonsentrasi pada bidang pekerjaan yang khas perempuan (female jobs). Agar perempuan memiliki kemmapuan penguasaan keterampilan mengoperasionalkan perangkat yang menggunakan teknologi canggih, perempuan diharapkan dapat meningkatkan SDM yangs esuai dengan situasi dan kondisi masa kini, juga diperlukan pemahaman bahwa teknologi informasi bukan milik kaum pria saja, sehingga menghilangkan anggapan bahwa perempuan kurang pandai atau kurang pintar melakukan pekerjaan yang berbau elektronik.

Pemerintah menyadari bahwa faktor manusia sangat urgent dalam pembangunan. Manusia meerupakan kekuatan utama pembangunan, dimana SDM mendapat penekanan lebih besar. Pembangunan yang ingin mewujudkan masyarakat adil dan makmur, maka partisipasi masyarakat diharapkan, tidak terkecuali kaum wanitanya. Dengan demikan wanita mempunyai hak dan peluang yang sama dengan pria, untuk dapat berkiprah dalam pembangunan. Hal ini yang mengkondisikan pembangunan dengan mengoperasionalkan perangkat teknologi canggih. Untuk itu penyadaran atas teknologi informasi harus ditingkatkan sejalan dengan perubahan atas konsepsi “Information is Power”.

TEKNOLOGI INFORMASI DAN PEREMPUAN (2)

Kesulitan yang banyak dijumpai kaum perempuan untuk berkiprah menggunakan teknologi informasi dan komunikasi merupakan tantangan bagi kaum perempuan sendiri untuk meningkatkan kemampuan dirinya agar bisa memposisikan di era teknologi informasi ini. Bahkan terdapat mitos bahwa teknologi informasi dan komunikasi merupakan hal yang mau tidak mau pasti akan datang dengan sendirinya melanda dunia sehingga siapa saja yang tidak menerapkannya akan tertinggal. Masyarakat tidak akan mampu menolak kebutuhan informasi untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Ketergantungan masyarakat terhadap informasi akan sangat tinggi, daam ilmu komunikasi disebut sebagai “Information society” (masyarakat informasi).

Tidak terkecuali kaum perempuan, perempuan harus mensosialisasikan keberadaanya di tengah-tengah masyarakat, berperan dalam teknologi informasi dan komunikasi, untuk kepentingan bersama masyarakat, kepentingan bangsa, negara dan agama. Keterbukaan jalan informasi merupakan “highway” bagi dunia informasi dengan diimbangi dengan kemampuan yang sesuai dengan dinamika sosial masyarakat, sebab posisi perempuan dinyatakan berhasil apabila masyarakat turut merasakan manfaatnya. Keterlibatan perempuan dalam teknologi informasi dan komunikasi jumlahnya sedikit, hal ini dapat dilihat dari rendahnya akses, kontrol, partisipasi dan manfaat pembangunan yang dapat dinikmati masyarakat.

Bahkan ada anggapan perempuan belum mampu berkomunikasi utnuk membangkitkan kepercayaan, sebab dianggap belum siap dan belum bisa menunjukkan keterlibatanya dalam mengoperasionalkan perangkat teknologi canggih. Perempuan yang memahami teknologi informasi dan komunikasi adalah yang memiliki kemampuan dan kemahiran dalam memainkan peran gandanya, tahu menempatkan diri dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi prioritas yang bisa memberikan manfaat bagi keluarganya, masyarakat, nusa bangsa dan agama. Namun kadang hal ini jauh dari kenyataan yang ada, kebanyakan yang mengoperasionalkan teknologi informasi dan komunikasi adalah kaum pria. Pengusaaan teknologi informasi dan komunikasi tidak lepas dari pembangunan pemberdayaan perempuan. Karena pembangunan pemberdayaan perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan.

Pembanguanan pemberdayaan manusia yang menyeluruh untuk membangun tata kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara serta mewujudkan kemajuan di segala bidang. Masa kini perempuan diharapkan mampu berperan dan berpartisipasi dalam pengembangan teknologi informasi dan komunikasi dan meningkatkan kualitas diri melalui berbagai saluran yang tersedia.

17
Nov
08

Sifat Sentimentil Hambat Karir Perempuan

Bagi perempuan menaklukkan diri sendiri bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Sehingga wajarlah bila musuh utama perempuan dalam meraih puncak kariernya adalah ketidakmampuan mengendalikan sifat-sifat sentimentil.”terus terang, musuh utama perempuan sekarang justru muncul dari dalam dirinya sendiri. Contohnya adalah mudah tersinggung, sangat perasa, rasa curiga yang berlebihan, kurang memiliki kepribadian, dan lain-lain,” papar pemerhati masalah perempuan Dra. Agnes Sekar Supenni. Sifat-sifat ini, lanjut Agnes, ujung-ujungnya membentuk mental perempuan menjadi kelompok yang terpinggirkan (marginal) dan dianggap sebagai manusia kelas dua sesudah kaum laki-laki.

Dari sekian banyak sifat sentimentil yang sangat sulit dikendalikan oleh perempuan adalah rasa iri dan dengki terhadap kemajuan orang lain. Kedua sifat ini, secara sosial dan agama pun tidak baik. Menurut PNS di Setda Prov. ini, umumnya perempuan yang memiliki sifat sifat iri dan dengki adalah orag-orang yang tidak memiliki kualitas SDM yang baik, kurang menghayati ajaran agama yang dia anut dan selalu memiliki negative thinking terhadap orang lain.

Lebih jauh, tipe perempuan ini selalu tidak senang perempuan lain maju, selalu melihat orang lain pada sisi negatifnya. Bahkan untuk memuaskan rasa iri dan dengkinya ia selalu berupaya menyebarkan isu-isu yang dia buat guna mencemarkan nama baik orang lain.

mereka tidak akan pernah bisa maju. Karena hari-harinya cuma dihabiskan untuk memikirkan orang lain tanpa memikirkan upaya-upaya untuk memajukan dirinya sendiri,”tukas Kabag Bantuan dan Kerjasama luar Negeri pada Unit Penanganan Sosial (UPS) Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah ini.

Lalu bagaimana menghilangkannya?dikatakan Agnes bahwa sifat iri dan dengki bisa diarahkan pada hal yang positif. Artinya, dengan selalau berupaya menjadikan kemajuan dan kesuksesan orang lain untuk memotivasi dan mendorong dia agar lebih maju dan mampu berprestasi.

17
Nov
08

Perempuan Harus Independen Dan Proaktif

Teman saya banyak mengkritik tentang banyaknya kegiatan ilmiah (seminar, lokakarya, konferensi) dan pelatihan dalam upaya mengangkat derajat dan martabat perempuan agar setara dengan laki-laki. Namun dampak dari berbagai kegiatan tersebut masih belum tampak. Ada apa gerangan masalahnya? dari diskusi singkat tersebut diskusi beralih kepada upaya untuk mencari akar permasalahannya. Saya mengajukan satu topik pembahasan bahwa ketertinggalan kaum perempuan hingga saat ini adalah akibat keterikatan mereka dengan mitos-mitos masa lalu. Misalnya perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena pada akhirnya bekerja di dapur juga; perempuan hanya bekerja pada ruang domestik; perempuan adalah subordinatif; perempuan adalah ibu rumah tangga; perempuan adalah harta dan perhiasan bagi kaum lelaki; istri harus tunduk pada suaminya; dan masih banyak lagi mitos-mitos lainnya. Menurut kacamata awam, mitos-mitos seperti ini hanyalah merupakan sederetan kata-kata atau kalimat yang sudah basi dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita sekarang ini. Namun kalau kita mau mengkajinya secara kritis, tentu saja mitos-mitos tersebut memiliki korelasi yang kuat dengan kehidupan kaum perempuan dewasa ini. Dan mitos-mitos seperti inilah, menurut saya, yang menghambat perempuan untuk maju pada segala aspek kehidupan dalam masyarakat.

Topik inilah yang akhir-nya berkembang dalam diskusi kami dan digarisbawahi oleh teman saya itu. Mitos-mitos tersebut secara tidak langsung melemahkan motivasi dan mentalitas kaum perempuan untuk maju dan berinovasi, lebih-lebih bila kariernya akan melebihi atau menyaingi suaminya. Sebagian akibat dari mentalitas seperti itu, perempuan menjadi pasif, tidak proaktif, merasa bersalah, selalu tergantung pada suami dan atasannya, dan lebih banyak bersifat menunggu pada kebijakan suami dan atasan dalam mengambil keputusan. Mentalitas seperti ini, menurut hemat saya, sudah kurang relevan lagi dengan perkembangan jaman, era globalisasi dan modernisasi yang menuntut kita untuk bertindak dan berpikir secar efisien, efektif, transparan, objektif, jujur, bertanggung jawab, independen (mandiri) dan proaktif.

Harus Independen

Adalah Raden Adjeng Kartini, wanita yang sangat polos dan berpikiran maju, yang memulai suatu gebrakan untuk mendobrak berbagai mitos-mitos di atas. Bagi seorang R.A. Kartini, masa depan yang cerah, pendidikan yang tinggi, kedudukan yang bergengsi, cita-cita untuk meraih bintang di langit, bukan hanya porsinya kaum lelaki, tetapi merupakan porsi kaum perempuan juga.

Timbulnya obsesi Kartini yang begitu kuat untuk mendobrak mitos-mitos di atas adalah akibat adanya kecenderungan bahwa perempuan selalu dinomorduakan di banding anak laki-laki. Perempuan hanyalah sebagai objek yang dijadikan perhiasan dan harta bagi kaum lelaki. Sebagai seorang istri, perempuan harus mengabdi kepada suaminya, dan dalam segala hal perempuan juga harus mengalah untuk kepentingan kaum lelaki. Masih relevankan perjuangan Kartini tersebut untuk kehidupan perempuan pada saat ini? Tentu saja sangat relevan. Nilai-nilai yang tersirat dalam perjuangan Kartini adalah mengharapkan kepada kaum perempuan supaya tidak terikat dengan mitos-mitos masa lalu, perempuan juga tidak boleh terikat dengan orang lain dalam upaya perjuangannya mensetarakan kehidupan mereka dengan kaum laki-laki. Yang menjadi masalah adalah banyak perempuan takut untuk mendobrak mitos-mitos masa lalu yang sebenarnya sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan perempuan dewasa ini. Ketakutan tersebut sebenarnya cukup beralasan karena masih berhubungan dengan nilai-nilai budaya dan agama. Nilai budaya kita juga yang menganut paham patriarkat juga sama dengan sistem politik yang menganut garis vertikal, yaitu adanya atasan dan bawahan. Bawahan dalam mencapai suatu tujuan harus mendapat restu dari atasan.

Demikian juga nilai budaya kita mengajarkan agar yang muda selalu menghormati yang tua, dan setiap rencana anak-anak harus mendapat restu dari orang tua atau wali mereka. Demikian juga halnya dengan nilai-nilai agama yang kita anut, pada umumnya meletakkan kaum perempuan sebagai pelengkap (subordinat) bagi kaum laki-laki. Bahkan perempuan dianjurkan untuk tunduk kepada lelaki/suaminya sebagaimana ia tunduk kepada Allah atau Tuhan Yang Maha Esa.

PEREMPUAN MASIH TERIKAT DENGAN MITOS MASA LALU. PADA SUATU HARI SAYA KEDATANGAN TAMU, SEORANG AKTIVIS PEREMPUAN DAYAK YANG SANGAT CONCERN DENGAN KEHIDUPAN PEREMPUAN HINGGA SEKARANG. PADA PERTEMUAN TERSEBUT TERJADILAH SEDIKIT DISKUSI CUKUP HANGAT.

KaltengPos, 29 Juli 2003

PEREMPUAN HARUS INDEPENDEN DAN PROAKTIF (2)

Sudah saatnya kita sebagai kaum perempuan berpikir secara kritis dan tanggap zaman. Artinya kita harus pandai menilai berbagai aspek warisan budaya kita yang sudah kurang relevan lagi. Dalam kondisi dewasa ini dan menyesuaikan diri kita dengan perkembangan jaman. Perempuan, apakah ia sebagai ibuv rumah tangga atau sebgaia wanita karier, seharusnya proaktif dalam merencanakan dan mengambil keputusan. Bukan saatnya lagi kaum perempuan harus menunggu dan bersifat pasif dalam kegiatan pembangunan.

Perempuan Harus Proaktif

Adalah Raden Adjeng Kartini, wanita yang sangat polos dan berpikiran maju, yang memulai suatu gebrakan untuk mendobrak berbagai mitos-mitos di atas. Bagi seorang R.A. Kartini, masa depan yang cerah, pendidikan yang tinggi, kedudukan yang bergengsi, cita-cita untuk meraih bintang di langit, bukan hanya porsinya kaum lelaki, tetapi merupakan porsi kaum perempuan juga.

Timbulnya obsesi Kartini yang begitu kuat untuk mendobrak mitos-mitos di atas adalah akibat adanya kecenderungan bahwa perempuan selalu dinomorduakan di banding anak laki-laki. Perempuan hanyalah sebagai objek yang dijadikan perhiasan dan harta bagi kaum lelaki. Sebagai seorang istri, perempuan harus mengabdi kepada suaminya, dan dalam segala hal perempuan juga harus mengalah untuk kepentingan kaum lelaki. Masih relevankan perjuangan Kartini tersebut untuk kehidupan perempuan pada saat ini? Tentu saja sangat relevan. Nilai-nilai yang tersirat dalam perjuangan Kartini adalah mengharapkan kepada kaum perempuan supaya tidak terikat dengan mitos-mitos masa lalu, perempuan juga tidak boleh terikat dengan orang lain dalam upaya perjuangannya mensetarakan kehidupan mereka dengan kaum laki-laki. Yang menjadi masalah adalah banyak perempuan takut untuk mendobrak mitos-mitos masa lalu yang sebenarnya sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan perempuan dewasa ini. Ketakutan tersebut sebenarnya cukup beralasan karena masih berhubungan dengan nilai-nilai budaya dan agama. Nilai budaya kita juga yang menganut paham patriarkat juga sama dengan sistem politik yang menganut garis vertikal, yaitu adanya atasan dan bawahan. Bawahan dalam mencapai suatu tujuan harus mendapat restu dari atasan.

Demikian juga nilai budaya kita mengajarkan agar yang muda selalu menghormati yang tua, dan setiap rencana anak-anak harus mendapat restu dari orang tua atau wali mereka. Demikian juga halnya dengan nilai-nilai agama yang kita anut, pada umumnya meletakkan kaum perempuan sebagai pelengkap (subordinat) bagi kaum laki-laki. Bahkan perempuan dianjurkan untuk tunduk kepada lelaki/suaminya sebagaimana ia tunduk kepada Allah atau Tuhan Yang Maha Esa.

MITOS-MITOS DEMIKIAN MENURUT SAYA TELAH MEMBENTUK MENTALITAS DAN PERILAKU KAUM PEREMPUAN SEHINGGA MENGHAMBAT MEREKA UNTUK MAJU. BISAKAH KITA MEWARISKAN NILAI-NILAI PERJUANGAN R.A KARTINI AGAR BERANI DAN MAMPU MENDOBRAK MITOS-MITOS YANG SUDAH TIDAK RELEVAN LAGI DENGAN KEHIDUPAN PEREMPUAN DEWASA INI?

17
Nov
08

Mentalitas Perempuan

Topik tentang perempuan yag semakin gencar dibicarakan dan diangkat media massa ternyata semaki mendorong lahirnya berbagai wacana dan konsep tentang peran, kedudukan, sampai hak dan kewajiban perempuan dalam seluruh totalitas kehidupan perempuan di indonesia. Salah satu perempuan Indonesia, Dra. Agnes Sekar Supenni turut menuangkan pemikirannya. Mentalitas, menurut Agnes, adalah sikap mental manusia yang diwarisakan baik secara individu maupun kolektif. Ai juga bisa dibentuk oleh sejarah dan budaya di masa lampau. Mentalitas adalah keseluruhan isi dari alam pikiran dan jiwa manusia dalam menanggapi lingkungannya.

Dalam sikap mental itu atau mentalitas itu tergantung nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tertingggi bagi kelakuan manusia. Sehubungan konsep mentalitas tersebut, Agnes menemukan 8 kelemahan mentalitas perempuan yang dianggapnya sebagai kendala dalam memperjuangkan keadila dan keseteraan gender. Pertama, perempuan Indonesia itu kurang mandiri. Sifat ini kita warisi dalam budaya kita yang komunal atau kekeluargaan. Semua keinginan perempuan harus mendapat ijin dari kedua orangtua atau saudara yang lebih tua. Kedua, kurang menghargai waktu. Ada pendangan bahwa waktu tidak terlalu penting dalam kehidupan kita, dan kita tidak terbiasa membuat manajemen waktu untuk mengatur aktifitas kita. Bahkan ada persepsi bahwa kehidupan ini dianggap tidak ditentukan oleh waktu. Mentalitas kurang menghargai waktu ini contohnya bisa dilihat pada aktifitas PNS, datang siang, pulangnya cepat, belanja di kantor, ngobrol, merumus nomor kupon putih, dan lain-lain kata Agnes. Ketiga,”perempuan Indonesia itu terlalu perasa” ujar Agnes. Da yang keempat, kita masih mentabukan politik. Menurut perempuan yanga ktif di Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Kalimantan Tengah ini, sejak jaman Siti urbaya, politik dianggap bagiannya kaum lelaki. Sedangkan bagian perempuan adalah urusan-urusan domestik atau bagian dalam da belakang (kalau dianalogikan sebagai rumah, red).

Sikap mental lainnya yang dianggap Agnes sebagai kelemahan mentalitas kaum perempuan Indonesia adalah sifat iri dan dengki, malas membaca, emosional, dan yang terakhir terikat pada mitos. Analisa kelemahan sikap mental perempuan Indonesia yang dikemukakan Agnes juga dlengkapi dengan rekomendasi sikap mental yang sebaiknya dimiliki oleh perempuan Indonesai, terutama perempuan yang bekerja sebagai PNS. Menurutnya, mentalitas yang ia ajukan adalah sikap mental perempuan modern dalam era globalisasi searang ini.

Mentalitas perempuan Indonesia modern dalam konsep Agnes yang pertama adalah kemandirian. Perempuan tetap membutuhkan orang lain termasuk pria, amun hendaknya cobalah untuk tidak gampang meminta bantuan, kalau bisa kerjaka sendiri. “dengan begitu perempuan membangun sikap mandiri namun tetap bekerja sama dengan lingkungannya,” ungkapnya. Hal berikutnya yang direkomendasikan Agnes adalah perempuan Indonesia adalah harus belajar menghargai waktu. Selain itu perempuan menumbuhkan minat baca pada diri sendiri agar pengetahuannya bertambah. Dengan dunia politik pun kaum perempuan tidak boleh lagi merasa anti, bahkan harus mulai mencoba terlibat dalam dunia politik. Sikap mental lain yang diperlukan oleh perempuan Indonesia menurut Agnes adalah sikap bertanggung jawab, rajin, jujur dan disiplin namun tetap menjaga etika dan kelemah lembutan yang menjadi ciri khas kodrati kaum perempuan. Kompleksnya kehidupan sosial sekarang ini harus dihadapi perempuan indonesia dengan upaya berpikir kritis dan rasional. Dengan demikian perempuan akan mampu menyaring berbagai hal yang mencoba masuk dalam hidupnya, misalnya yang berupa tawaran-tawaran yang sekarang ini banyak yang tidak bertanggung jawab.

Mengakhiri pemikirannya tentang konsep mentalitas perempuan Indonesia, Agnes mengingatkan kembali kedudukan perempuan yang secara kodrati menjadi ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminya. Perempuan modern akan menyandang peran selain sebagai istri dan ibu. Oleh karena perempuan harus pandai memainkan perannya disetiap kedudukan tersebut.

17
Nov
08

Layanan Informasi Dan Komunikasi

Banyak orang belum menyadari akan pentingnya peranan sistem informasi terutama untuk mendukung kegiatan-kegiatan di Instansi Pemerintah, bahwa pelayanan informasi merupakan penunjang pokok dari pusat informasi organisasi yang dimilikinya dan berkepentingan untuk organisasi tersebut, karena peranannya yang begitu penting sebagai penunjang pemanfaatan admnistrasi yang lebih transparan. Pelayanan informasi dan komunikasi dapat berfungsi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Untuk itu layanan informasi harus selalu dipelihara sehingga dapat membuat nilai-nilai dari pelayanan informasi tersebut tersedia serta dapat digunakan.

Tidak jarang pekerjaan seringkali terhambat karena informasi yang diperlukan tidak dapat ditemukan sebagai akibat sistem informasi yang belum terstruktur, namun perlu disadari bahwa dimasa era globalisasi ini secara transparan dapat dirasakan kepentingan pelayanan informasi dan komunikasi, kerana ternyata bahwa pelayanan informasi merupakan sumber yang dapat dipercaya dan valid. Sebab tanpa adanya layanan informasi, data yang kita terima kurang utuh dan selanjutnya mungkin akan banyak menimbulkan masalah-masalah atau pertanyaan-pertanyaan. untuk itu dalam rangka menunjang maksud diatas dan memudahkan pengguna dalam mengakses data yang terdapat dalam pelayanan infromasi, maka perlu ditetapkan adanya etika berkomunikasi melalui layanan informasi.

Meski layanan informasi diperlukan dalam berbagai keperluan, namun tidak berarti merupakan cara yang paling baik untuk berkomunikasi. Ada sedikitnya 5 faktor yang harus dipertimbangkan oleh si pembuat Layanan Informasi dan komunikasi sebelum menyampaikan pesannya kepada orang yang dituju, yaitu :

  1. Subyek yang akan disampaikan

Sangat perlu untuk mempertimbangkan apakah informasi yang akan dikirim bersifat sensitif, mungkin sebenarnya akan lebih baik apabila disampaikan melalui media lainnya.

  1. Keberadaan penerima layanan

Layanan infromasi biasanya digunakan karena alasan kemudahan dan kenyamanan dalam penulisannya. Namun, ada kalanya layanan informasi bukanlah cara yang terbaik untuk berkomunikasi dengan orang lain, misalnya suatu pesan perlu disampaikan kepada seseorang yang berada di satu gedung kantor yang sama, padahal dengan menemui orang tersebut secara langsung mungkin lebih produktif, khususnya apabila orang tersebut banyak menerima layanan informasi pada hari tertentu.

  1. Kecepatan penyampaian surat

Pesan layanan informasi dapat dikirimkan dengan mudah dan cepat, yang membuat layanan ini menjadi salah satu cara yang baik untuk menyampaikan informasi perlu disampaikan secara cepat dan si penerima surat sedang menunggu kedatangan surat tersebut. Namun apabila informasi darurat perlu disampaikan , alangkah lebih baik apabila dilakukan melalui telepon.

  1. Kecepatan untuk menerima jawaban

Meskipun layanan informasi dapat dikirimkan dengan mudah dan cepat. Namun tidak ada garansi bahwa pesan surat tersebut akan segera dibaca atau ditindaklanjuti segera.

Salah satu keuntungan dari pengguna Layanan Informasi adalah bahwa pesan tersebut dapat direspon oleh penerima surat pada waktu yang tepat. Apabila suatu pesan perlu ditindaklanjuti segera akan memerlukan suatu keputusan, maka Layanan Informasi mungkin bukanlah cara yang paling baik mengkomunikasikan informasi. Berbicara secara langsung dengan orang yang dituju dan mengirimkan layanan informasi untuk konfirmasi adalah solusi yang tepat.

17
Nov
08

Hindari Kekerasan Perempuan

Sangatlah menarik membaca rencana Program Kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan RI yang baru, Dr. Meutia Farida Hatta. Sosialisasi Undang-undang tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga merupakan program utama yang menjadi prioritas pada 100 hari pertama untuk mengawali kepemimpinannya sebagai Menteri. Kendatipun kita masih belum mengenal lebih jauh dengan profil Dr. Meutia Farida Hatta. “namun sebaiknya kita lebih optimis dan menaruh harapan lebih banyak kepadanya. Sebagai menteri yang baru, beliau tentu tidak bisa bekerja sendiri. Apalagi masalah yang berhubungan dengan perempuan sangat kompleks dan dinamis, sehingga dibutuhkan keahlian dan kesabaran untuk menanganinya.

Oleh sebab itu penanganan masalah perempuan adalah tugas kita semua baik lelaki maupun perempuan,”ungkap Sekretaris Krida Wanita Swadiri Dra. Agnes Sekar Supenni. Agnes sangat optimistis masalah perempuan akan dapat diselesaikan dengan baik, asal ditangani secara bersama-sama, ilmiah dan professional. Khusus mengenai sosialisasi Undang-undang tentang Kekerasaan Dalam Rumah Tangga, menurut Agnes adalah suatu program ynag sudah lama dicanangkan, namun masalahnya sosialisasi program tersebut masih kurang optimal karena terkendala masalah dana dan tenaga.

Kemudian sasaran sosialisasi tentang kekerasan dalam rumah tangga pada umumnya hanya diikuti oleh perempuan, padahal aktor kekerasan dalam rumah tangga yaitu laki-laki (suami) tidak tersentuh oleh program sosialisasi. Kekerasan dalam rumah tangga dapat digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu : kekerasan fisik dan kekerasan non fisik. “kekerasan fisik yaitu perbuatan yang sifatnya menyakiti pihak lain secara fisik, seperti : tinju, cubitan, tempeleng, tandang, tusuk, dipukul, diinjak, pemaksaan melakukan hubungan seksual, dan lain-lain. Sedangkan kekerasan non fisik adalah kekerasan yang sifatnya tidak langsung secara fisik yang bersifat psikologis dan pembatasan hak misalnya penghinaan, sumpah serapah, pemaksaan menggunakan alat kontrasepsi pada istri, pembatasan pemberian nafkah/uang belanja, larangan bagi perempuan untuk mencari ilmu, serta mengembangkan karier, perselingkuhan dan poligami oleh laki-laki, pengurungan dalam rumah, pemaksaan melakukan aktivitas seksual, pemasungan hak politik perempuan, pemaksaan perkawinan, melarang ikut kegiatan sosial, mengeksploitasi anak-anak dan istri bekerja di rumah, dan lain-lain,” ungkapnya panjang lebar.

Sehubungan dengan program sosialisasi undang-undang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dalam tiga bulan pertama, Agnes menyarankan agar yang menjadi sasaran dalam sosialisasi tersebut adalah semua unsur yang terlibat dalam rumah tangga, yaitu laki-laki atau pihak suami, perempuan sebagai istri dan anak-anak. Di samping itu yang tidak kalah pentingnya adalah semua dinas/instansi/lembaga, unsur legislastif, eksekutif dan yudikatif. Dukungan dari pemerintah (Gubernur, Walikota dan Bupati) sangat menentukan keberhasilan dari sosialisasi Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

17
Nov
08

Hilangkan Mitos Perempuan

Sudah saatnya kaum perempuan berpikir secara kritis dan tanggap atas perkembangan jaman. Ini berarti kaum hawa harus pandai-pandai menilai berbagai aspek warisan budaya. Terutama yang kurang relevan dengan kondisis saat ini, yang cenderung memposisikan perempuan ke tingkatan manusia kelas dua sesudah kaum Adam. Menurut Dra. Agnes Sekar Supenni, suda saatnya perempuan melepasakan belenggu mitos-mitos yang selama ini membuat mereka terpuruk. Seperti, perempuan harus di dapur, lebih lemah dari laki-laki dan selalu memutuskan sesuatu dengan perasaaan.

Perempuan, baik dia ibu rumah tangga atau sebagai wanita karier, seharusnya proaktif dalam merencanakan dan mengambil keputusan. Bukan saatnya lagi kaum perempuan harus menunggu dan bersifat pasif dalam kegiatan pembangunan.

Perempuan perempuan harus belajar dan berani menampilkan dirinya di tengah publik dan menunjukkan bahwa perempuan sesungguhnya memiliki kemampuan yag tidak kalah dibanding laki-laki. “terus terang, banyak ide-ide brillian kaum perempuan yang terhambat untuk keluar dan untuk dibagikan kepada orang lain akibat merasa bersalah dan pasif,”kata Kabag Bantuan dan Kerjasama luar Negeri pada Unit Penanganan Sosial (UPS) Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah ini.

* wawancara dilakukan dengan salah satu koran daerah

17
Nov
08

Diklat Kerasipan

Gunung Mas-Guna meningkatkan kesadaran dan kepedulian tinggi terhadap arsip sebagai aset Negara, digelar Diklat Apresiasi Kearsipan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas. Acara yang dihadiri sekitar 80 pejabat di unit-unit kearsipan dan pejabat dari tata usaha dari Badan, Dinas serta Unit Satuan Kerja Kabupaten Gunung Mas.

Kegiatan Diklat tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Gunung Mas diwakili Asisten III Drs. Hendri Demas, kemarin dan akan berlangsung selama dua hari mulai tanggal 6 hingga 7 Desember 2004. Kepala Bidang Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Dra. Agnes Sekar Supenni dalam sambutannya mengatakan, publik umumnya masih belum memiliki kesadaran dan kepedulian yang tinggi terhadap arsip sebagai aset Negara. Hal ini ternyata bukan terjadi pada masyarakat yang memiliki pendidikan yang cukup tinggi, bahkan masyarakat intelektual pun masih menganggap arsip sebagai tumpukan kertas yang tak berguna. Sehingga akibatnya tidak ada perhatian yang cukup kearah tersebut serta sering kali arsip ditelantarkan begitu saja tanpa memiliki tampat yang layak.“pengelolaan asip sangat penting agar arsip tidak hilang atau tercecer, sehingga pada akhirnya dapat menggangu roda pemerintahan dan pembangunan,”terang Agnes. Selain itu dijelaskan kenyataan tersebut menunjukkan sampai saat ini pengelolaan arsip yang dilakukan oleh sebagian besar instansi pemerintahan bukan dilaksanakan secara baik dan benar. Sehingga mengakibatkan banyak arsip yang sulit ditemukan atau hilang sama sekali. “hal ini tampaknya menjadi fenomena yang keliru tentang penanganan bidang kearsipan,” imbuhnya.

Sedangkan bertindak sebagai Unit Ketua Penyelenggara Drs. Yansiwuh, Kepala Arsip Kabupaten Gunung Mas. Selain itu juga diadakan praktek Kearsipan Manajemen Formulir oleh Dra. Rushayati yang selanjutnya dilakukan praktek penyusunan jadwal retensi arsip.

17
Nov
08

Berbeda Tanpa Harus Berkonflik

Peningkatan kualitas perempuan merupakan kebutuhan yang tak dapat ditawar-tawar, apapun pilihan perannya. Apakah berkarir di bidang usaha, pendidikan, politik, maupun menjadi ibu rumah tangga, semuanya membutuhkan peningkatan kualitas kemampuan diri agar dapat berperan aktif dalam pembangunan. Peningkatan kualitas perempuan harus dapat dilihat secara komprehensif tidak secara parsial, karena mustahil suatu bangsa dapat bangkit dari keterpurukan jika SDMnya tidak berkualitas.

Berdasarkan asumsi ini, langkah yang seharusnya diambil dalam upaya peningkatan kualitas perempuan adalah menemukenali permasalahan yang mereka hadapi dan membentuk kesadaran kolektif. Kaum perempuan seringkali tak menyadari bahwa ia mempunyai masalah yang berkaitan dengan ketidakadilan, ketika ia mampu menemukenali permalasahan dan solusi pemecahan, maka akan menimbulkan suatu kesadaran baru tentang hak-haknya yang selama ini terabaikan. Jika kesadaran baru ini telah muncul pada setiap perempuan maka jadilah hal ini merupakan suatu kesadaran kolektif yang akan memperkuat kesadaran yang tumbuh, yakni kesadaran akan perlunya Gender Mainsteraming atau Pengarus Utamaan Gender.

PUG (PengarusUtamaan Gender) menghendaki bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam proses pembangunan, akses yang sama terhadap pelayanan serta memiliki status sosial dan ekonomi yang seimbang.

Tantangan ke depan apapun profesinya, kaum perempuan dibentuk untuk semakin professional, misalnya ibu rumah tangga yang baik yaitu ibu rumah tangga yang mampu menjadi seorang manager pengelola keuangan rumah tangga yang dalam menjalankan perannya juga harus selalu tampil professional.

Meskipun banyak kaum perempuan mulai menempati tempat-tempat strategis, tetapi hingga kini perempuan masih mengalami berbagai diskriminasi termasuk melalui peraturan-peraturan atau- ketentuan-ketentuan di lingkungan kerja yang secara idiil dan konstitusional tidak bisa dibenarkan.

Hingga sekarang masih banyak kaum perempuan yang pada umumnya masih ketinggalan dalam hal pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan peran sebagai istri dan ibu. Pemberdayaan perempuan pada dasarnya merupakan kegiatan yang bermuara pada 2 (dua) aktivitas besar, yaitu : 1. Pendidikan dan 2. Berorganisasi.

Pengetahuan dan keterampilan merupakan bekal untuk perempuan dalam mencapai PUG. Bekal tersebut merupakan awal membuka akses untuk selalu ikut terlibat dalam lingkup sosial. Bahkan dapat dikatakan untuk mengukur sejauh mana seorang perempuan itu mencapai PUG, dengan sejauh mana ia terlibat dalam kancah sosial, kekurangan pengetahuan dan keterampilan perempuan berdampak negatif sehingga sering munculnya tindakan yang salah.

Kekerasan terhadap perempuan tak jarang dalam bentuk yang tersembunyi misalnya pelecehan seksual dan larangan bergaul ke luar rumah, mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Berhasil tidaknya upaya PUG bergantung pada cara menyikapi kekurangan perbedaaan yang melekat dalam masyarakat. Perbedaan memang bisa menunjukkan jati diri orang per orang atau kelompok.

Idealnya setiap perempuan dapat melengkapi ketertinggalannya/kekurangannya, yang menjadi masalah bila di satu pihak, sikap pandang meremehkan perempuan di lain pihak dalam masyarakat perbedaan dibesar-besarkan, baik lewat nilai-nilai tentang perempuan dan potensi perempuan.

Apapun, yang menunjang pemberdayaan perempuan perlu didukung dan disebarluaskan, yang perlu terus kita yakini di balik pemberdayaan perempuan PUG, sesungguhnya ada kerinduan perempuan untuk berinteraksi sosial yang tidak mempermasalahkan perbedaan dan meremehkan perempuan. Upaya apa saja yang dapat memberdayakan perempuan dalam hidup sosial, sepatutnya didukung dan dicanangkan. Misalnya keterlibatannya dalam kancah sosial, apapun yang dilakukan sebaiknya didasari oleh sikap tidak menyembunyikan perbedaan yang memang melekat dalam masyarakat kita.

Perbedaan, tidak saja dipandang sebagai sumber konflik tetapi juga potensi memperkaya wawasan. Sikap ini perlu secara terus menerus ditularkan ke seluruh lapisan masyarakat.




MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 706.662 hits
November 2008
S S R K J S M
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.