Archive for the 'wawancara' Category

17
Nov
08

Sifat Sentimentil Hambat Karir Perempuan

Bagi perempuan menaklukkan diri sendiri bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan. Sehingga wajarlah bila musuh utama perempuan dalam meraih puncak kariernya adalah ketidakmampuan mengendalikan sifat-sifat sentimentil.”terus terang, musuh utama perempuan sekarang justru muncul dari dalam dirinya sendiri. Contohnya adalah mudah tersinggung, sangat perasa, rasa curiga yang berlebihan, kurang memiliki kepribadian, dan lain-lain,” papar pemerhati masalah perempuan Dra. Agnes Sekar Supenni. Sifat-sifat ini, lanjut Agnes, ujung-ujungnya membentuk mental perempuan menjadi kelompok yang terpinggirkan (marginal) dan dianggap sebagai manusia kelas dua sesudah kaum laki-laki.

Dari sekian banyak sifat sentimentil yang sangat sulit dikendalikan oleh perempuan adalah rasa iri dan dengki terhadap kemajuan orang lain. Kedua sifat ini, secara sosial dan agama pun tidak baik. Menurut PNS di Setda Prov. ini, umumnya perempuan yang memiliki sifat sifat iri dan dengki adalah orag-orang yang tidak memiliki kualitas SDM yang baik, kurang menghayati ajaran agama yang dia anut dan selalu memiliki negative thinking terhadap orang lain.

Lebih jauh, tipe perempuan ini selalu tidak senang perempuan lain maju, selalu melihat orang lain pada sisi negatifnya. Bahkan untuk memuaskan rasa iri dan dengkinya ia selalu berupaya menyebarkan isu-isu yang dia buat guna mencemarkan nama baik orang lain.

mereka tidak akan pernah bisa maju. Karena hari-harinya cuma dihabiskan untuk memikirkan orang lain tanpa memikirkan upaya-upaya untuk memajukan dirinya sendiri,”tukas Kabag Bantuan dan Kerjasama luar Negeri pada Unit Penanganan Sosial (UPS) Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah ini.

Lalu bagaimana menghilangkannya?dikatakan Agnes bahwa sifat iri dan dengki bisa diarahkan pada hal yang positif. Artinya, dengan selalau berupaya menjadikan kemajuan dan kesuksesan orang lain untuk memotivasi dan mendorong dia agar lebih maju dan mampu berprestasi.

Iklan
17
Nov
08

Mentalitas Perempuan

Topik tentang perempuan yag semakin gencar dibicarakan dan diangkat media massa ternyata semaki mendorong lahirnya berbagai wacana dan konsep tentang peran, kedudukan, sampai hak dan kewajiban perempuan dalam seluruh totalitas kehidupan perempuan di indonesia. Salah satu perempuan Indonesia, Dra. Agnes Sekar Supenni turut menuangkan pemikirannya. Mentalitas, menurut Agnes, adalah sikap mental manusia yang diwarisakan baik secara individu maupun kolektif. Ai juga bisa dibentuk oleh sejarah dan budaya di masa lampau. Mentalitas adalah keseluruhan isi dari alam pikiran dan jiwa manusia dalam menanggapi lingkungannya.

Dalam sikap mental itu atau mentalitas itu tergantung nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman tertingggi bagi kelakuan manusia. Sehubungan konsep mentalitas tersebut, Agnes menemukan 8 kelemahan mentalitas perempuan yang dianggapnya sebagai kendala dalam memperjuangkan keadila dan keseteraan gender. Pertama, perempuan Indonesia itu kurang mandiri. Sifat ini kita warisi dalam budaya kita yang komunal atau kekeluargaan. Semua keinginan perempuan harus mendapat ijin dari kedua orangtua atau saudara yang lebih tua. Kedua, kurang menghargai waktu. Ada pendangan bahwa waktu tidak terlalu penting dalam kehidupan kita, dan kita tidak terbiasa membuat manajemen waktu untuk mengatur aktifitas kita. Bahkan ada persepsi bahwa kehidupan ini dianggap tidak ditentukan oleh waktu. Mentalitas kurang menghargai waktu ini contohnya bisa dilihat pada aktifitas PNS, datang siang, pulangnya cepat, belanja di kantor, ngobrol, merumus nomor kupon putih, dan lain-lain kata Agnes. Ketiga,”perempuan Indonesia itu terlalu perasa” ujar Agnes. Da yang keempat, kita masih mentabukan politik. Menurut perempuan yanga ktif di Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Kalimantan Tengah ini, sejak jaman Siti urbaya, politik dianggap bagiannya kaum lelaki. Sedangkan bagian perempuan adalah urusan-urusan domestik atau bagian dalam da belakang (kalau dianalogikan sebagai rumah, red).

Sikap mental lainnya yang dianggap Agnes sebagai kelemahan mentalitas kaum perempuan Indonesia adalah sifat iri dan dengki, malas membaca, emosional, dan yang terakhir terikat pada mitos. Analisa kelemahan sikap mental perempuan Indonesia yang dikemukakan Agnes juga dlengkapi dengan rekomendasi sikap mental yang sebaiknya dimiliki oleh perempuan Indonesai, terutama perempuan yang bekerja sebagai PNS. Menurutnya, mentalitas yang ia ajukan adalah sikap mental perempuan modern dalam era globalisasi searang ini.

Mentalitas perempuan Indonesia modern dalam konsep Agnes yang pertama adalah kemandirian. Perempuan tetap membutuhkan orang lain termasuk pria, amun hendaknya cobalah untuk tidak gampang meminta bantuan, kalau bisa kerjaka sendiri. “dengan begitu perempuan membangun sikap mandiri namun tetap bekerja sama dengan lingkungannya,” ungkapnya. Hal berikutnya yang direkomendasikan Agnes adalah perempuan Indonesia adalah harus belajar menghargai waktu. Selain itu perempuan menumbuhkan minat baca pada diri sendiri agar pengetahuannya bertambah. Dengan dunia politik pun kaum perempuan tidak boleh lagi merasa anti, bahkan harus mulai mencoba terlibat dalam dunia politik. Sikap mental lain yang diperlukan oleh perempuan Indonesia menurut Agnes adalah sikap bertanggung jawab, rajin, jujur dan disiplin namun tetap menjaga etika dan kelemah lembutan yang menjadi ciri khas kodrati kaum perempuan. Kompleksnya kehidupan sosial sekarang ini harus dihadapi perempuan indonesia dengan upaya berpikir kritis dan rasional. Dengan demikian perempuan akan mampu menyaring berbagai hal yang mencoba masuk dalam hidupnya, misalnya yang berupa tawaran-tawaran yang sekarang ini banyak yang tidak bertanggung jawab.

Mengakhiri pemikirannya tentang konsep mentalitas perempuan Indonesia, Agnes mengingatkan kembali kedudukan perempuan yang secara kodrati menjadi ibu bagi anak-anaknya, istri bagi suaminya. Perempuan modern akan menyandang peran selain sebagai istri dan ibu. Oleh karena perempuan harus pandai memainkan perannya disetiap kedudukan tersebut.

17
Nov
08

Hindari Kekerasan Perempuan

Sangatlah menarik membaca rencana Program Kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan RI yang baru, Dr. Meutia Farida Hatta. Sosialisasi Undang-undang tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga merupakan program utama yang menjadi prioritas pada 100 hari pertama untuk mengawali kepemimpinannya sebagai Menteri. Kendatipun kita masih belum mengenal lebih jauh dengan profil Dr. Meutia Farida Hatta. “namun sebaiknya kita lebih optimis dan menaruh harapan lebih banyak kepadanya. Sebagai menteri yang baru, beliau tentu tidak bisa bekerja sendiri. Apalagi masalah yang berhubungan dengan perempuan sangat kompleks dan dinamis, sehingga dibutuhkan keahlian dan kesabaran untuk menanganinya.

Oleh sebab itu penanganan masalah perempuan adalah tugas kita semua baik lelaki maupun perempuan,”ungkap Sekretaris Krida Wanita Swadiri Dra. Agnes Sekar Supenni. Agnes sangat optimistis masalah perempuan akan dapat diselesaikan dengan baik, asal ditangani secara bersama-sama, ilmiah dan professional. Khusus mengenai sosialisasi Undang-undang tentang Kekerasaan Dalam Rumah Tangga, menurut Agnes adalah suatu program ynag sudah lama dicanangkan, namun masalahnya sosialisasi program tersebut masih kurang optimal karena terkendala masalah dana dan tenaga.

Kemudian sasaran sosialisasi tentang kekerasan dalam rumah tangga pada umumnya hanya diikuti oleh perempuan, padahal aktor kekerasan dalam rumah tangga yaitu laki-laki (suami) tidak tersentuh oleh program sosialisasi. Kekerasan dalam rumah tangga dapat digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu : kekerasan fisik dan kekerasan non fisik. “kekerasan fisik yaitu perbuatan yang sifatnya menyakiti pihak lain secara fisik, seperti : tinju, cubitan, tempeleng, tandang, tusuk, dipukul, diinjak, pemaksaan melakukan hubungan seksual, dan lain-lain. Sedangkan kekerasan non fisik adalah kekerasan yang sifatnya tidak langsung secara fisik yang bersifat psikologis dan pembatasan hak misalnya penghinaan, sumpah serapah, pemaksaan menggunakan alat kontrasepsi pada istri, pembatasan pemberian nafkah/uang belanja, larangan bagi perempuan untuk mencari ilmu, serta mengembangkan karier, perselingkuhan dan poligami oleh laki-laki, pengurungan dalam rumah, pemaksaan melakukan aktivitas seksual, pemasungan hak politik perempuan, pemaksaan perkawinan, melarang ikut kegiatan sosial, mengeksploitasi anak-anak dan istri bekerja di rumah, dan lain-lain,” ungkapnya panjang lebar.

Sehubungan dengan program sosialisasi undang-undang kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dalam tiga bulan pertama, Agnes menyarankan agar yang menjadi sasaran dalam sosialisasi tersebut adalah semua unsur yang terlibat dalam rumah tangga, yaitu laki-laki atau pihak suami, perempuan sebagai istri dan anak-anak. Di samping itu yang tidak kalah pentingnya adalah semua dinas/instansi/lembaga, unsur legislastif, eksekutif dan yudikatif. Dukungan dari pemerintah (Gubernur, Walikota dan Bupati) sangat menentukan keberhasilan dari sosialisasi Undang-undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

17
Nov
08

Hilangkan Mitos Perempuan

Sudah saatnya kaum perempuan berpikir secara kritis dan tanggap atas perkembangan jaman. Ini berarti kaum hawa harus pandai-pandai menilai berbagai aspek warisan budaya. Terutama yang kurang relevan dengan kondisis saat ini, yang cenderung memposisikan perempuan ke tingkatan manusia kelas dua sesudah kaum Adam. Menurut Dra. Agnes Sekar Supenni, suda saatnya perempuan melepasakan belenggu mitos-mitos yang selama ini membuat mereka terpuruk. Seperti, perempuan harus di dapur, lebih lemah dari laki-laki dan selalu memutuskan sesuatu dengan perasaaan.

Perempuan, baik dia ibu rumah tangga atau sebagai wanita karier, seharusnya proaktif dalam merencanakan dan mengambil keputusan. Bukan saatnya lagi kaum perempuan harus menunggu dan bersifat pasif dalam kegiatan pembangunan.

Perempuan perempuan harus belajar dan berani menampilkan dirinya di tengah publik dan menunjukkan bahwa perempuan sesungguhnya memiliki kemampuan yag tidak kalah dibanding laki-laki. “terus terang, banyak ide-ide brillian kaum perempuan yang terhambat untuk keluar dan untuk dibagikan kepada orang lain akibat merasa bersalah dan pasif,”kata Kabag Bantuan dan Kerjasama luar Negeri pada Unit Penanganan Sosial (UPS) Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah ini.

* wawancara dilakukan dengan salah satu koran daerah

17
Nov
08

Diklat Kerasipan

Gunung Mas-Guna meningkatkan kesadaran dan kepedulian tinggi terhadap arsip sebagai aset Negara, digelar Diklat Apresiasi Kearsipan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gunung Mas. Acara yang dihadiri sekitar 80 pejabat di unit-unit kearsipan dan pejabat dari tata usaha dari Badan, Dinas serta Unit Satuan Kerja Kabupaten Gunung Mas.

Kegiatan Diklat tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Gunung Mas diwakili Asisten III Drs. Hendri Demas, kemarin dan akan berlangsung selama dua hari mulai tanggal 6 hingga 7 Desember 2004. Kepala Bidang Arsip Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Dra. Agnes Sekar Supenni dalam sambutannya mengatakan, publik umumnya masih belum memiliki kesadaran dan kepedulian yang tinggi terhadap arsip sebagai aset Negara. Hal ini ternyata bukan terjadi pada masyarakat yang memiliki pendidikan yang cukup tinggi, bahkan masyarakat intelektual pun masih menganggap arsip sebagai tumpukan kertas yang tak berguna. Sehingga akibatnya tidak ada perhatian yang cukup kearah tersebut serta sering kali arsip ditelantarkan begitu saja tanpa memiliki tampat yang layak.“pengelolaan asip sangat penting agar arsip tidak hilang atau tercecer, sehingga pada akhirnya dapat menggangu roda pemerintahan dan pembangunan,”terang Agnes. Selain itu dijelaskan kenyataan tersebut menunjukkan sampai saat ini pengelolaan arsip yang dilakukan oleh sebagian besar instansi pemerintahan bukan dilaksanakan secara baik dan benar. Sehingga mengakibatkan banyak arsip yang sulit ditemukan atau hilang sama sekali. “hal ini tampaknya menjadi fenomena yang keliru tentang penanganan bidang kearsipan,” imbuhnya.

Sedangkan bertindak sebagai Unit Ketua Penyelenggara Drs. Yansiwuh, Kepala Arsip Kabupaten Gunung Mas. Selain itu juga diadakan praktek Kearsipan Manajemen Formulir oleh Dra. Rushayati yang selanjutnya dilakukan praktek penyusunan jadwal retensi arsip.

06
Nov
08

Peningkatan Kualitas Gender

Isu tentang Gender, khususnya masalah distribusi peran perempuan dalam pembangunan, saat ini masih menjadi headline di media massa cetak dan elektronik. Tidak sedikit seminar, diskusi, lokakarya, pelatihan dan konferensi yang digelar untuk meningkatkan kualitas SDM perempuan. Namun jika mau jujur dan obyektif, kendati berbagai usaha telah dilakukan, kondisi perempuan di Kalimantan Tengah masih memprihatinkan. “Oleh karenanya, maka berbagai upaya dan program peningkatan SDM perempuan di Kalimantan Tengah harus tetap digalakkan. Hal yang menjadi pertimbangannya adalah sasaran pendidikan, jenis pendidikan, materi pendidikan, metode, evaluasi dan kemitraan,” ujar aktivis BKOW Kalimantan Tengah, Dra. Agnes Sekar Supenni.

Di Kalimantan Tengah sendiri ujar Agnes, dari total populasi 1.823.715 jiwa. jumlah penduduk perempuan mencapai 885.399 (48.54%). Dari jumlah tersebut, terdapat 64.61% usia produktif yang dapat dijadikan aset daerah.

Data tersebut memperlihatkan bahwa perempuan memiliki potensi dan kemampuan besar dan sama dengan kaum lelaki. “hanya masalah SDM saja yang masih rendah. Terdapat 25.57% penduduk usia 10-25 tahun yang putus sekolah, dan porsi yang banyak adalah perempuan sebesar 51%. Data ini menunjukkan masih banyak perempuan yang hanya tamat SD/sederajat.
Hal ini dapat dipahami karena laki-laki memiliki akses yang lebih luas dan leluasa di ruang publik, sedangkan perempuan lebih banyak dibatasi oleh peran yang sudah melekat pada ruang domestik,”ujarnya.

Program peningkatan kualitas SDM perempuan dimaksud, ujarnya merupakan perwujudan GBHN Tahun 1999 yang mengamanatkan untuk meningkatkan kedudukan dan peran perempuan melalui kebijakan nasional menuju terwujudnya keadilan dan kesetaraan jender. Selanjutnya meningkatkan kualitas peran dan kemandirian organisasi perempuan. “Peningkatan kualitas SDM perempuan hanya dapat dilakukan dengan pendidikan. Mengapa?., karena tujuan pendidikan adalah merubah cara berpikir tradisional menjadi berpikir ilmiah,” pungkasnya.

Untuk meningkatkan kualitas SDM perempuan di Kalimantan Tengah menurutnya, bias ditempuh melalui tiga jalur pendidikan formal, informal dan non formal. Dari keseluruhan program peningkatan SDM tersebut, yang menjadi skala prioritas bagi perempuan Kalteng lima tahun ke depan adalah pengetahuan dan keterampilan, yang berhubungan dengan pemerintahan, Hukum dan HAM, kepemimpinan dan politik.

“Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mempersiapkan kaum perempuan lebih banyak lagi terlibat di dalamnya. Pertimbangan ini diambil berdasarkan kondisi obyektif dewasa ini, masih banyak Parpol enggan merekrut perempuan untuk memenuhi kuota 30%., dengan alasan perempuan belum memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai dalam berpolitik,”ujarnya.

Untuk itu harapannya kepada Pemerintah Daerah, dalam hal ini Biro Pemberdayaan Perempuan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, perlu mengintensifkan program strategis pendidikan perempuan yang sudah ada. Bidang-bidang tersebut meliputi bidang pemerintahan, hukum, HAM, kepemimpinan dan politik bagi perempuan di Kalimantan Tengah, serta anggaran dana yang memadai untuk mendukung kegiatan tersebut.

* Dari wawancara dengan salah satu koran lokal Kalimantan Tengah




MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 563,875 hits
Desember 2017
S S R K J S M
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.