05
Jan
09

MENGKAMPANYEKAN GENDER PADA MASYARAKAT


Pada suatu hari ketika kami melakukan perjalanan Dinas ke luar kota, dan menghadiri seminar kaum perempuan, kami bertemu dengan tokoh kaum perempuan Negri ini yang cukup terkenal, dari perbincangan tersebut ia menanyakan sejauh mana penerapan gender didaerah tempat saya tinggal.? Dan bagaimana pengaplikasiannya dalam pembangunan bagi daerah saya, Banyak hal yang kami bahas tentang Penerapan Pengarusutamaan Gender tetapi ada hal yang menarik yang perlu saya utarakan kepada Tokoh tersebut karena daerah dimana saya tinggal memiliki kekhasan dalam menerapkan Gender dengan Program yang special yang hanya ada di disini, Ingin tau Program apa yang diterapkan, simak tulisan berikut ini : Gender berasal dari kata gen yang artinya pembawa sifat embrio laki-laki maupun perempuan. Pembedaan ini sangat penting, karena selama ini kita sering kali mencampur adukkan cirri-ciri manusia yang bersifat kodrat ( gender ) yang sebenarnya, bisa berubah atau diubah. Pembedaan peran gender ini sangat membantu kita untuk memikirkan kembali tentang pembagian peran yang selama ini telah melekat pada manusia perempuan dan laki-laki. Banyak kasus dalam tradisi, maupun aturan birokrasi yang meletakkan kaum perempuan lebih rendah dari pada laki-laki. Status perempuan dianggap rendah, pekerja perempuan sedikit di posisipengambil keputusan dan penentu kebijakkan, bahkan dalam pengupahan, perempuan menikah sebagai lajang, karena dianggap mendapat nafkah dari suami dan terkena pajak tinggi. Pelabelan/citra baku yang bersifat negative terhadap perempuan seperti : pandangan terhadap peran domestic perempuan mengakibatkan peran publiknya dianggap perpanjangan peran domestiknya. Laki-laki marah dinggap tegas, perempuan dianggap emosional. Laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah mengakibatkan kerja perempuan dianggap sambilan sehingga kurang dihargai. Laki-laki ramah dianggap perayu, perempuan ramah dianggap genit. Selain hal tersebut beban ganda pada perempuan merupakan factor untuk mengkampanyekan PUG kepada masyarakat, dimana pekerjaan dalam rumah tangga, 90 % dikerjakan perempuan. Peran reproduksi di rumah tidak berkurang dengan adanya peran public dan peran pengelolaan komunitas ( walaupun perempuan telah masuk dalam peran public/meniti karier peran dalam rumah tangga masih besar

FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KESENJANGAN GENDER

Produk dan peraturan perundang-undangan yang masih bias gender. – Pemahaman ajaran agama yang tidak komprehensif dan cenderung parsial – Persepsi dan pemahaman para pengambil keputusan,TOMA-TOGA – Terhadap arti dan makna KKG. Di lain pihak analisa social yang ada – Dan analisa kebudayaan yang selama ini digunakan untuk memahami realitas social tidak dapat menangkap realitas adanya relasi kekuasaan yang didasarkan pada relasi gender dan dapat berpotensi menumbuhkan tekanan. Penerapannya Dalam Masyarakat . Secara teoritis di Indonesia, dasar pertalian keturunan, dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: (a) pertalian darah menurut garis Bapak(patrilineal), misalnya pada orang Dayak, Nias dan Sumba, (b) pertalian darah menurut garis ibu(matrilineal), misalnya pada keluarga Minangkabau, (c) pertalian darah menurut garis ibu dan garis Bapak(parental/bilateral), seperti pada orang Jawa, Sunda, Bali, dan Kalimantan. Keluarga suku Dayak mengenal sistem parental/bilateral, yaitu garis keturunan diambil baik dari pihak Ibu maupun pihak Bapak. Tempat tinggal setelah perkawinan pada umumnya adalah matrilokal(sumai mengikuti isteri). Dalam kehidupan rumah tangga, sejak dulu kala, perempuan Dayak lebih banyak mengerjakan pekerjaan pada ruang domestik, sedangkan laki-laki mendominasi ruang publik. Misalnya laki-laki bertanggung jawab pada masalah keamanan dan keselamatan keluarga, mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga, keamanan, politik, dan kegiatan sosial kemasyarakatan. Perempuan lebih banyak hanya terlibat pada kegiatan ritual keagamaan. Dalam kehidupan politik dan pemerintahan, perempuan Dayak masih jauh tertinggal(Widen, 2003). Dari segi mentalitas, perempuan Dayak kalah gesit dibanding perempuan lainnya di luar Dayak seperti perempuan Jawa, Batak, Manado, Banjar, Sunda, dan lain-lain. Perempuan Dayak boleh dikatakan kurang gesit, lamban, pasif, kurang kreatif, kurang berwibawa, kurang percaya diri dan kurang independen. Saya melihat adanya mentalitas perempuan Dayak seperti ini sedikit banyaknya disebabkan oleh sistem dowry(palaku) seperti berbagai kasus di atas tadi.

Pada orang Dayak palaku(dowry) bervariasi. Dulunya palaku bisa berupa emas, guci, gong, dan benda-benda berharga lainnya. Namun dewasa ini ada pergeseren nilai dan bentuk palaku, yaitu berupa sebidang tanah. Tanah ini bisa berupa sebidang tanah yang masih kosong, bisa juga dalam bentuk kebun rotan, kebun buah-buahan, atau kebun karet. Kehadiran seorang lelaki baru pada keluarga perempuan memiliki nilai positif karena ia adalah tenaga kerja tambahan dalam keluarga perempuan. Oleh sebab itu kehadiran seorang laki-laki memberikan simbol penting dalam keluarga Dayak, baik ia hadir sebagai menantu atau kelahiran seorang anak laki-laki. Sejak kecilpun anak laki-laki dan perempuan sudah diajarkan untuk bekerja dan mengerjakan pekerjaan sesuai jenis kelaminnya dan sesuai ruang(domestik dan publik) yang dialami oleh ibu dan Bapak mereka. Pimpinan adat, tokoh masyarakat, dan yang bisa menjadi wali asbah dalam keluarga(inti dan kerabat), dan yang menjadi saksi dalam pernikahan adalah laki-laki. Status sosial paling tinggi perempuan pada komunitas Dayak hanyalah sebagai wadian/basir(belian) baik pada ritual penyembuhan orang sakit maupun pada ritual kematian. Kehidupan komunal orang Dayak, baik dalam rumah tangga maupun dalam kehidupan Hukum Adat, pemerintahan dan politik masih didominasi oleh kaum lelaki, yaitu dominasi patriarki. Dominasi patriarki demikian menurut Widen(2003) memang dibentuk oleh nilai-nilai budaya dan pengalaman masa lalu yang kemudian tersosialiasi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Akibatnya, bahkan hingga sekarang ini, budaya patriarki, secara umum dianggap sebagai “budaya” yang tidak bisa diubah, dan beberapa komunitas di Indonesia, termasuk Dayak menganggap hal itu sebagai bagian dari “kodrat” kaum perempuan. Maka dari itulah gender perlu dikampanyekan. Perbedaan konsep gender secara social telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Secara Umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat dimana manusia beraktifitas. Dalam upaya mendukung dan mengkampanyekan gender perlu dilakukan beberapa hal sebagai berikut : Mekanisme yang mengefektifkan penyelenggaraan PUJ tersebut disusun sesuai dengan kebutuhan. Misalnya: di Kabupaten dalam musrenbang tetap suara keterwakilan perempuan diperhitungkan, juga dalam membentuk desa prima yaitu perempuan desa yang maju mandiri, mengentaskan peran serta perempuan dalam hal kesejahteraan perekonomiannya, selain itu Program PM2L di Kalimantan Tengah inipun mengupayakan pengentasan kemiskinan bagi kaum perempuan yang memiliki beban ganda dengan usaha mikro kecil dan menengah. Dalam teknis pelaksanaannya di daerah kabupaten diadakan stering committee, yang biasanya dari sekretaris desa juga wadah penggerak PUJ dari berbagai instansi pemerintah kabupaten yang ada. Yang antara lain merupakan wadah komunikasi untuk menyamakan persepsi tentang PUJ juga wadah pembelajaran bagi peningkatan kemampuan anggota sebagai katalisator yang efektif dalam pelaksanaan PUJ. Hal lain yang termasuk penting yaitu mampu mengembangkan komitmen segenap jajaran pemerintah kabupaten/kota dan Provinsi dalam pengarusutamaan Gender ( PUJ ) juga dibentuknya forum timbale balik yang melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan, pementauan dan evaluasi. Perlunya mengkampanyekan gender agar adanya perubahan dalam pengambilan keputusan yang responsive gender. Indikator sensitif gender dipergunakan dan dikembangkan sebagai proses bersama sebagai opini public baik perempuan maupun laki-laki.

Program yang responsif gender

Bidang Hukum : Program pembentukkan peraturan perundang-undangan Bidang Ekonomi : Program perluasan dan pengembangan kesempatan kerja, Peningkatan Kualitas Kerja, Perlindungan Tenaga Kerja. Bidang Pembangunan : Perbaikan Struktur dan Pengembangan Budaya Bidang Pendidikan : Pendidikan SD,SMP,SMA, PT dan Pendidikan Luar Sekolah. Bidang Sosial dan Budaya : Program Lingkungan Sehat, Perilaku sehat dan pemberdayaan masyarakat.. Program upaya kesehatan, perbaikan gizi masyarakat dan program pengembangan potensi social. Pentingnya program tersebut disosialisasikan adalah untuk mengenali dan menangani isu-isu yang berhubungan dengan perbedaan gender, dengan memperhatikan isu dan kebutuhan gender yang spesifik bagi perempuan dan laki-laki, perencanaan sensitive gender dapat mendorong penggunaan sumber daya yang ditargetkan secara lebih efisien.. Kami berharap kedudukan dan peran perempuan sebagai individu, bagian dari keluarga, agen perubahan social di berbagai aspek kehidupan, dapat mengisi pembangunan yang berkelanjutan. Oleh sebab itu komitmen terhadap pembangunan pemberdayaan perempuan perlu terus menerus ditingkatkan dengan penuh kesadaran untuk mencapai masyarakat yang sejahtera , adil dan makmur.


3 Responses to “MENGKAMPANYEKAN GENDER PADA MASYARAKAT”


  1. 1 iwanmalik
    Januari 8, 2009 pukul 5:15 am

    Artikel bagus, saya suka membacanya & berbobot.
    http://iwanmalik.wordpress.com
    Info Pendidikan, Wirausaha & Kimia terapan

  2. Januari 8, 2009 pukul 8:24 am

    Mas Iwan Blognya juga luar biasa lho ! banyak variasinya, sampai aku lupa waktu harus rapat he…he…hee

    Regards, agnes sekar

  3. 3 cyber07130003
    Februari 9, 2009 pukul 2:00 am

    menarik sekali, dan saya setuju dengan anda


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 469,689 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: