08
Jan
09

PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF BUDAYA


Pemahaman kebudayaan menyangkut persoalan perempuan, status dan perannya dalam kehidupan sosial sangat bervariasi sesuai dengan perkembangan keadaan dan waktu. Juga tergantung pada bagaimana pemahaman-pemahaman tersebut berhubungan dengan posisi kaum perempuan di berbagai komunitas. Para antropolog sekalipun, yang tengah menyelidiki posisi perempuan dalam perkembangan masyarakat secara tidak sadar ikut dalam perdebatan menyangkut asal-usul dan universalitas keterpinggiran kaum perempuan. Dengan begitu kajian terhadap hubungan hierarkis antara laki-laki dan perempuan menjadi penting.

Laki-laki dan perempuan secara alamiah, bilogis dan genetis berbeda, adalah sebuah kenyataan, sebagai kodrat Tuhan yang tidak dapat diubah. Akan tetapi yang kemudian melahirkan perdebatan adalah ketika perbedaan secara alamiah ini lalu kemudian menimbulkan pemahaman yang beragam pada tiap orang dan kelompok masyarakat. Perbedaan pemahaman ini selanjutnya dikenal dengan konsep gender, yaitu beberapa sifat yang dilekatkan pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural(Fakih, 1997:8). Misalnya stereotype perempuan yang dikenal lemah lembut, keibuan, emosional atau lebih sabar. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa dan sebagainya. Stereotype seperti ini dapat dipertukarkan dan bisa jadi berbeda pada masing-masing masyarakat, tergantung pada budaya dan sistem nilai yang dibangun.

Aristoteles dikutip dalam Bhasin(1996:30) adalah seorang filsuf Yunani ternyata juga memberikan pemahaman tertentu terhadap perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Dia mengemukakan sebuah teori bahwa laki-laki adalah manusia yang aktif dan perempuan bersifat pasif. . Bagi Aristoteles, perempuan adalah laki-laki yang tidak lengkap dan manusia yang tidak memiliki jiwa. Dia berpendapat bahwa inferioritas biologis perempuan mengakibatkan mereka juga inferior dalam berbagai hal. Tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan rasio, dan oleh karenanya berdampak pada lemahnya perempuan dalam membuat keputusan. Termasuk juga Sigmund Freud(dalam Bhasin, 1996:30) seorang psikolog terkenal, mengklaim bahwa aspek biologis perempuan mempengaruhi aspek psikologisnya, yang selanjutnya berpengaruh pada kemampuan dan peran sosialnya. Doktrin Freudian ini berkembang luas, yang kemudian dianut oleh banyak kalangan, dan menjadi pedoman, acuan bagi para pendidik, pekerja sosial maupun politisi.

Diawali dari pemahaman-pemahaman tertentu terhadap perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan yang terisosialisasi dalam waktu yang cukup panjang, bermuara pada terbentuknya sistem nilai. Sistem nilai yang menjadi pola, tuntutan, bahkan mengikat masyarakat dalam bersikap pada proses sosialnya. Sistem nilai yang membentuk kultur tertentu dalam memposisikan dan memberi peran pada perempuan dalam pergaulan hidup bermasyarakt.

Pada prinsipnya, adanya perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, sesungguhnya tidaklah menjadi masalah dan oleh karena itu tidak perlu dipermasalahkan. Secara kodrati kaum perempuan dengan organ reproduksinya bisa hamil, melahirkan dan menyusui, dan kemudian memiliki peran gender sebagai perawat, pengasuh, dan pendidik adalah hal yang

Alamiah Persoalannya adalah ternyata peran gender perempuan dinilai dan dihargai jauh lebih rendah dibanding peran gender laki-laki. Peran gender ternyata melahirkan ketidakadilan, pendiskriminasian dan penindasan terhadap kaum perempuan. Hal ini pada dasarnya adalah sebuah konstruksi sosial budaya yang dibangun oleh komunitas tertentu.

Ketertindasan perempuan, secara antropologis, dipandang oleh Sherry Ortner(dalam Moore, 1998:30) disebabkan oleh sebuah sistem nilai yang diberikan makna tertentu secara kultural. Ortner menempatkan ketertinggalan perempuan pada tataran ideologi dan simbol kebudayaan. Dalam budaya universal, ketertindasan perempuan, menurut Ortner merupakan manivestasi dari pemahaman antara budaya dan alam yang kemudian dibandingkan dengan posisi laki-laki dan perempuan pada peran sosialnya. Secara umum, kebudayaan memberikan pembedaan antara masyarakat manusia dan alam. Kebudayaan berupaya mengendalikan dan menguasai alam yang selanjutnya dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Oleh sebab itu kebudayaan berada pada posisi superior dan alam dipihak inferior. Kebudayaan diciptakan untuk menguasai, mengelola dan mengendalikan alam untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan masyarakat. Dalam hubungannya dengan laki-laki dan perempuan, maka perempuan selalu diasosiasikan dengan alam, dan laki-laki diasosiasikan dengan kebudayaan. Oleh karenanya merupakan suatu hal yang alami jika perempuan berada pada posisi yang dikontrol, dikendalikan dan dikuasai. Konsep ini ada kesamaan dengan konsep orang Turki tentang perempuan, bahwa perempuan diasosiasikan dengan tanah dan laki-laki diasosiasikan dengan benih(padi) sebagai pemahaman atas reproduksi(Robbins, 1997:11)

Pendekatan lain yang bisa dipakai untuk memahami penindasan terhadap perempuan adalah analisis Karl Marx(dalam Heilbroner, 1991:34) tentang kekuasaan kelas. Marx melihat bahwa politik ekonomi kapitalisme sebagai biang keladi kehancuran dan ketertindasan sebagian besar warga masyarakat. Kapitalisme menciptakan kelas, dalam arti kelas yang memiliki modal, kelas kaya dan kelas miskin, majikan dan buruh. Untuk menjelaskan posisi perempuan dalam analisis Marx ini tentang kelas, memang perempuan tidak dapat dikategorikan sebagai satu kelas saja. Artinya ia datang dari golongan buruh(proletar) saja atau golongan borjuis saja. Tetapi perempuan yang bekerja di bidang domestik dapat dikatakan sebagai satu kelas. Mereka sesungguhnya bekerja, memiliki pekerjaan yang kurang lebih sama tanggung jawabnya dengan pekerjaan di bidang lain. Namun lagi-lagi hasil kerja mereka dinilai rendah atau tidak dihargai sama sekali. Maka jadilah perempuan sebagai kelas yang dikuasai karena dianggap tidak menghasilkan nilai-nilai ekonomi.

Kemudian Friedrick Engels(1972;103), seorang filsuf Jerman, menerangkan bagaimana perubahan kondisi material mempengaruhi hubungan keluarga, hubungan laki-laki dan perempuan. Ia menjelaskan bahwa pada awalnya laki-laki dan perempuan tidak mengenal perkawinan. Mereka sama-sama bebas untuk menentukan kepada siapa mereka ingin berhubungan seks. Atau dapat dikatakan semua menikah dengan semua, sehingga mereka sering berganti-ganti pasangan. Sampai pada suatu kondisi dimana populasi perempuan lebih sedikit daripada laki-laki, dan karenanya banyak laki-laki yang tidak ingin melepaskan perempuannya. Mulai saat itulah terbentuk tradisi perkawinan dengan pasangan hidup.

Pada saat laki-laki harus memilih pasangannya, maka ia harus pindah ke dalam lingkungan keluarga perempuan(matrilokal), karena perempuan dianggap aset yang memiliki akses terhadap sumber-sumber ekonomi. Pada kondfisi seperti ini, menurut Engels, sistem yang berlaku dalam masyarakat adalah sistem matrilineal dengan pola kehidupan matriarkat dengan kekuasaan ekonomi dan politik di pegang perempuan. Perempuan berada pada kelas penguasa dan laki-laki sebagai kelompok yang dikuasai. tetapi Engels tidak sampai pada penjelasan apakah laki-laki pada saat itu tertindas, terpinggirkan atau termarginalisasi.

Pada saat berburu binatang mendominasi dan menjadi sumber ekonomi penting, maka terjadi pergeseran kekuasaan. Division of Labour terbentuk. Akibatnya perempuan semakin terseret dan terkungkung pada pekerjaan domestik dan tidak lagi dianggap penting, karena laki-laki sekarang sudah memiliki nilai yang lebih daripada perempuan. Hasil buruan selain untuk dimakan, juga dapat dipertukarkan dengan barang-barang lain. Sehingga hasil produksi laki-laki semakin dihargai. Laki-laki menjadi tokoh sentral dan seringkali menjadi pengambil suatu keputusan, sampai pada akhirnya laki-laki mengakhiri garis matrilineal dan menggantikannya dengan garis patrilineal yang patriarkat, karena keinginan untuk mewarisi dan menguasai harta benda. Engels mengatakan pada saat itulah terjadi kekalahan sejarah perempuan. Dua pendekatan pemahaman yang digunakan untuk melihat posisi ketertindasan perempaun di atas agaknya memiliki hubungan yang signifikan. Perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan membawa pemahaman tentang peran, tugas dan fungsi sosial laki-laki dan perempuan. Berangkat dari sini lahir anggapan bahwa yang pantas berburu dan mencari nafkah adalah laki-laki. Seiring dengan perkembangan masyarakat, perbedaan kerja antara wilayah domestik dan publik semakin menajam yang membawa pada terbentuknya spesialisasi kerja. Akibatnya, laki-laki semakin eksis dalam dunia sosial, bisnis, industri, dan juga dalam kehidupan keluarga. Sehingga ia dapat mengekspresikan dirinya dalam keempat bidang ini. Sementara perempuan semakin terkurung dalam sangkar emas keluarga.

Oleh karena surplus ekonomi yang dihasilkan oleh laki-laki yang membuat laki-laki semakin berkuasa, maka perempuan semakin terpinggirkan, tersubordinasi dalam kehidupan sosial karena sangat tergantung pada laki-laki. Perkembangan perempuan selanjutnya adalah berubahnya pola keluarga monogami yang matriarkat menjadi patriarkat, dimana kerja rumah tangga perempuan menjadi pelayan pribadi. Perempuan menjadi pelayan laki-laki dalam rumah tangga yang disingkirkan dari semua partisipasi di bidang produksi dan sosial. Ketidakberdayaan perempuan untuk mengkaunter dominasi laki-laki dikompensasikan dengan membangun jargon-jargon tertentu sebagai penghibur diri. Ambil sebuah contoh, jargon perempuan adalah makluk mulia, perempuan sebagai tiang negara, surga di bawah telapak kaki ibu, mendidik, mengasuh dan merawat anak, termasuk mengurus suami adalah pekerjaan mulia bagi perempuan, dan sebagainya.

Menurut sejarahnya, tindakan kekerasan yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya bermula dari Common Law di Inggris(1896) yang memberikan hak dan kekuasaan bagi seorang suami untuk mendidik atau mendisiplinkan istrinya dengan cara menggunakan tongkat yang tidak lebih besar dari ibu jari – disebut dengan istilah rule of thumb, untuk dipukulkan kepada isterinya apabila siteri bersalah atau melawan suaminya.

Realitas Gender Pada Orang Dayak

Banyak orang berpendapat bahwa orang Dayak sudah mempraktekkan konsep jender dengan setara dan adil. Kesimpulan demikian hanya didasarkan pada observasi sepintas tentang pembagian peran dalam keluarga Dayak di daerah perdesaan yang dikaitkan pula dengan konsep budaya Betang. Pendapat demikian masih terlalu dini dan perlu dibuktikan melalui penelitian yang mendalam. Artinya masih ada kesenjangan kesetaraan dan keadilan jender. Untuk jelasnya tentang kesenjangan kesetaraan dan keadilan jender pada komunitas Dayak, di bawah ini akan diuraikan secara singkat tentang berbagai fenomena sosial budaya yang menggambarkan tentang hal itu. Kesenjangan Kesetaraan dan keadilan Gender pada komunitas dayak sebagai berikut :

1. KomunitasDayak, kendatipun menganut pola keluarga parental, juga mempraktekkan pola patriarkat, dimana laki-laki sebagai kepala keluarga dan berkuasa dalam hal mengambil keputusan, pemenuhan ekonomi, aktivitas sosial, budaya, dan politik, dan keamanan keluarga.

2. Budaya Menganyau(headhunting) yang dilakukan oleh laki-laki dewasa berhubungan dengan berbagai tujuan seperti konstruksi identitas maskulinitas laki-laki untuk meningkatkan prestise, kekuatan, keberanian, status sosial, dan pendidikan. Contoh Rambang Sawit(Temanggung Rambang) di desa Riam Sembali(Tbg Ramei) Kalimantan Tengah sudah mengumpulkan lebih dari 1000 kepala, memiliki lebih dari 50 istri, dan ratusan anak dan cucu.

3. Budaya Betang. Dalam Betang(Rumah Betang), laki-laki tidur di luar bilik, anak perempuan di dalam bilik. Ruang pendidikan(Bakowo) untuk anak-anak, di bagian ngaju untuk anak laki-laki dan bagian ngawa untuk anak perempuan. Di sini ada konsep ruang publik-domestik, dan konsep ngaju-ngawa yang berpengaruh dalam membentuk karakter orang Dayak.

4. Konsep Ngaju-Ngawa selalu terlihat pada berbagai upacara perkawinan, kematian/keagamaan, menanam padi, dimana perempuan selalu berada di bagian belakang(ngawa) dan laki-laki berada di bagian depan(ngaju).

5. Pengambilan suatu keputusan penting dalam keluarga yang berperan adalah laki-laki, bukan perempuan. Untuk hal ini dalam keluarga orang Dayak selalu ada yang disebut dengan wali asbah biasanya seorang laki-laki, baik dalam keluarga inti maupun dalam keluarga luas.

6. Dalam kegiatan pertanian, mulai dari menebas, menebang, membakar dan menanam padi peran laki-laki lebih dominan dan perempuan sebagai pendamping. Sedangkan dalam kegiatan merumput, menuai padi, dan proses pembersihan padi perempuan lebih dominan, laki-laki sebagai pendamping. Akan tetapi dalam melakukan kegiatan luar(sosial, budaya dan politik) laki-laki tetap dominan, dan oleh karena kegiatan pertanian ini perempuan tidak bisa terlibat lebih banyak dalam kegiatan di ruang publik. Perempuan berada di ruang domestik untuk pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak-anak.

7. Dalam Mitologi versi Dayak Maanyan, Imula Alah, Tuhan(maskulin) menciptakan manusia pertama seorang lelaki. Yang menjadi pemimpin adat, kelompok, desa dan lain-lain selalu laki-laki. Perempuan, paling tinggi statusnya adalah sebagai belian untuk mengobati orang sakit dan dalam ritual kematian. Sedangkan dalam versi Dayak Ngaju dalam mitologi Batang Garing awal mula alam semesta ini bermula kehancuran Batang Garing akibat perkelahian maha dahsyat dua ekor enggang jantan memperebutkan enggang betina. Akhirnya terciptalah alam semesta dan dua insan berlainan jenis. Dari dua manusia ini lahirlah 3 anak laki-laki: Maharaja Sangiang tinggal di alam atas bersama Ranying dan ia merupakan asal usul segala Dewa/Sangiang. Maharaja Sangen tinggal di daerah Batu Nindan Tarung yang menjadi sumber kepahlawanan; dan Maharaja Buno tinggal di bumi dan menjadi moyang pertama manusia(Ukur, 1993:10). Lebih lanjut Ukur menyatakan bahwa dalam berbagai mitologi Dayak tentang penciptaan selalu terjadi atas perkawinan kosmis. Perinsip maskulin selalu didampingi oleh yang feminin. Namun fungsi feminin di sini hanyalah sebagai pendamping maskulin. Dengan demikian dapat dibayangkan bahwa perempuan masih berada di bawah dominasi laki-laki. Terakhir Orang Dayak juga percaya bahwa alam atas dilambangkan oleh burung enggang(maskulin) dan alam bawah dilambangkan oleh jata(feminin)

Faktor Penghambat Kesetaraan Gender

Pertama: Nilai Budaya Dayak. Berbagai nilai budaya yang dibahas tadi telah membentuk konsep dan relasi jender pada orang Dayak. Sama halnya dengan nilai-nilai agama, nilai budaya dipandang Benar(harga mati) dan tidak boleh dilanggar. Kendala besar bagi perempuan adalah merubah karakter ngawa dan ngiwa menjadi ngaju dan ngambu.

Kedua: Nilai-Nilai Agama. Semua agama yang kita ketahui selalu memiliki tokoh maskulin bukan feminin. Seperti Nabi Isa, Nabi Muhammad, Ranying, Sang Hyang Widhi, Budha Gautama dan lain-lain. Kaharingan mengajarkan bahwa makna hidup ini tidak terletak pada kesejahteraan, realitas, atau objektivitas seperti difahami oleh manusia modern, tetapi pada kemampuan manusia untuk menjaga keseimbangan kosmos.

Agama Kristen dan Islam menganjurkan perempuan tunduk pada suaminya sebagaimana mereka patuh pada Tuhan penciptanya. Misalnya kita ambil Efesus 5:22: Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, (23) karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala Jemaat. Dan Kolose 3: 18: Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Dalam agama Islam tergambar ketidakadilan jender. Misalnya Wiharti dalaam Kapos 20 November 2001 menyinggung masalah poligami dan dominasi terhadap perempuan. Dalam Alquran disebutkan bahwa: “Laki-laki adalah penguasa dari kaum perempuan.” Kemudian lanjut Winarti banyak orang menyalahgunakan anjuran Nabi Muhammad untuk berpoligami. Khusus dalam agama, ada ketakutan dari kaum perempuan untuk melawan ketidakadilan dari laki-laki/suami dengan alasan takut dosa dan masuk neraka. Selalu membenarkan bahwa hidup dan matinya hidup ini ada di tangan Tuhan yang akhirnya membuat orang tidak kreatif, tidak berinisiatif untuk melakukan kegiatan yang dianggap bertentangan dengan ajaran agama.

Ketiga: Produk Hukum dan Politik. Banyak sekali produk hukum dan kebijakan politik yang tidak berpihak kepada perempuan. Misalnya UU No:1/1974 dan PP 10/1983 tentang perkawinan. Berbagai kasus tentang perempuan masih belum banyak disentuh oleh hukum.

Keempat: Faktor Stereotipe Yang Negatif. Tampaknya faktor stereotype negatif perempuan sulit sekali untuk dirubah. Seolah-olah hal itu telah menjadi kodrat bagi perempuan, sehingga perempuanpun semakin terpuruk karena masyarakatpun seolah-olah mengakui akan kebenarannya. Misalnya perempuan emosional, dependen, tidak berpendirian, dan lain-lain.

Kelima: Faktor Kesalahan perempuan Sendiri. Sebenarnya yang sangat menentukan dan yang pertama-tama melakukan perubahan itu adalah perempuan itu sendiri. Namun masalahnya banyak perempuan “buta” informasi/hukum/politik/teknologi. Kemudian banyak perempuan tidak mempermasalahkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan jender. Mereka menganggap bukan masalah, sehingga bersifat apatis dan menyerah pada keadaan yang ada.

Mengkampanyekan pengarusutamaan gender akan bermanfaat bagi kaum perempuan dewasa ini, baik dalam masyarakat, politik, pemerintahan, dan lembaga keagamaan karena pengarusutamaan gender merupakan media adaptasi manusia dengan lingkungannya, oleh karenanya pengarusutamaan gender selalu bersifat dinamis, bisa berubah, diubah, dan disesuaikan dengan perkembangan masyarakat. Oleh karenanya, sebagai upaya umat manusia patut menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat, maka kebudayaannya perlu dievaluasi dengan melakukan reinterpretasi dan reposisi dengan perkembangan lingkungan yang ada di sekitarnya.


2 Responses to “PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF BUDAYA”


  1. Januari 18, 2009 pukul 4:53 pm

    Tulisan yang betul-betul harus disimak lebih cermat lagi.. Permasalah yang ada di daerah dampingan saya di Kabupaten Timor Tengah Selatan Propinsi Nusa Tenggara Timor hampir sama dengan yang ada di Kalimantan Tengah. Perbedaan kesetaraan gender yang sangat signifikant, sehingga mengharuskan kami tetap melakukan kampanye dan memfasilitasi tentang hal tersebut.
    Mungkin ada kiat-kiat dari apa yang sudah dilakukan di Kalimantan Tengah yang bisa kami contoh untuk dilaksanakan di daerah dampingan kami.;

    Salam,
    OmpuNdaru

  2. Juni 20, 2009 pukul 11:05 am

    Selamat pagi Ompun Jawabannya telah kami posting dengan judul Mengkampanyekan Gender di Kalimantan Tengah, Maaf ketelisut, ketika saya bolak balik baru kelihatan, maklum ngeblognya cari-cari waktu, Terima kasih komentnya Ompun, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 469,689 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: