21
Jan
09

KONSEP JENDER


I. PENGERTIAN JENDER
Istilah Jender tidak asing lagi ditelinga kita. Namun demikian, masih banyak diantaranya yang masih belum memahami baik definisi maupun makna dari Jender itu sendiri. Ada yang memahami jender sebagai perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan yang akhirnya terjebak dengan istilah seks yang memang bersifat kodrat. Ada banyak definisi mengenai jender. Diantaranya adalah Leonard Simanjuntak dkk(2001) mengartikan Jender(gender) adalah pembedaan peran, status, pembagian kerja yang dibuat oleh sebuah masyarakat berdasarkan jenis kelamin. Kemudian menurut Stoller(1968) dan Oakley(1972) jender adalah pembedaan peran antara laki-laki dan perempuan dan merupakan hasil kontruksi sosial atau atribut yang dikenakan pada manusia yang dibangun oleh kebudayaan manusia. Jender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat. Secara umum adanya jender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat di mana manusia beraktivitas. Hasil kontruksi sosial budaya seperti ini melekat pada cara pandang kita, sehingga kita sering lupa seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana permanen dan abadinya ciri biologis yang dimiliki oleh masing-masing kita. Masalah perbedaan jender di atas dapat diringkas dalam tabel berikut:

Perempuan Laki-Laki
Sifat Feminin Maskulin
Fungsi Reproduksi Produksi
Ruang Lingkup Domestik Publik
Tanggung Jawab Nafkah Tambahan Nafkah Utama

Pembedaan tersebut tidak hanya pada jender, tapi juga berdasarkan pembedaan kelas, kasta, warna kulit, etnis, agama, umur dan lain sebagainya. Tiap-tiap pembedaan ini seringkali menimbulkan ketidakadilan, tidak terkecuali pembedaan jender.
Seperti apa pembedaan-pembedaan itu? Misalnya, kita lihat bahwa pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menjahit, membersihkan rumah, mencuci pakaian sering dianggap pekerjaan perempuan
Demikian juga menyiangi kebun, mengumpulkan hasil panen, mengambil air, dalam beberapa masyarakat dianggap pekerjaan perempuan. Sementara yang dianggap pekerjaan laki-laki misalnya, memperbaiki rumah, memperbaiki perkakas, berburu, dan ikut dalam rapat-rapat atau pertemuan di masyarakat. Dapur dianggap sebagai tempat perempuan sementara ruang tamu dianggap tempat laki-laki. Laki-laki digambarkan kuat dan rasional, sementara perempuan dfigambarakan emosional dan lemah lembut. Padahal pekerjaan seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, bekerja di kebun, mengambil kayu, dan ikut dalam pertemuan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempaun.
Di samping itu jender adalah sebuah alat analisa, yaitu ibarat sebuah pisau untuk membedah kasus untuk dapat mehamai lebih mendalam hubungan sebab akibat yang menghasilkan sebuah kenyataan.

II. PERBEDAAN ANTARA SEKS DAN JENDER
Untuk memahami perbedaan antara Jender dan Seks(jenis kelamin) dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Seks (Kodrati Ciptaan Tuhan) Gender(Non Kodrati Buatan Manusia)
1. Adalah perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Perempuan menghasilkan sel telur, hamil, dan melahirkan. Laki-laki menghasilkan sperma.
1. Merupakan pembedaan peran, hak dan kewajiban, kuasa dan kesempatan antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat. Pembedaan jender bukan kodrat, melainkan buatan manusia.

2. Perbedaan seks sama di seluruh dunia bahwa perempuan hamil, dan menyusui, laki-laki tidak
2. Jender tidak sama di seluruh dunia, tergantung dari budaya dan perkembangan masyarakat di satu wilayah

3. Perbedaan seks tidak berubah dari waktu ke waktu. Dari dulu hingga sekarang dan masa datang, laki-laki tidak mengalami menstruasi, dan tidak hamil.
3. Jender berubah dari waktu ke waktu. Setiap peristiwa dapat merubah hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam masyarakat

BEBERAPA HAL YANG MEMPENGARUHI RELASI JENDER

Agama dan Kepercayaan suatu masyarakat biasanya memegang teguh satu kepercayaan atau agama yang mengatur segala aspek kehidupan. Mulai dari cara pandang terhadap alam, demikian juga terhadap manusia laki-laki dan perempuan. Kepercayaan tertentu tentang perempuan adalah sumber kehidupan dan pemelihara kemudian termanifestasi bahwa pekerjaan perempuan adalah mengurus anak, sementara laki-laki melakukan hal-hal lain di luar mengurus anak dan dapur rumah tangga. Selain itu agama-agama besar yang menceritakan perempuan diciptakan setelah laki-laki sering ditafsirkan bahwa perempuan berada pada posisi yang lebih rendah daripada laki-laki. Aaga dan kepercayaan dianut dan dihayati oleh masyarakat dan terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga kepercayaan dan keyakinan posisi dan status perempuan dan laki-laki. Posisi laki-laki dianggap lebih tinggi dan perempuan lebih rendah. Karena itu pendapat dan keputusan laki-laki dianggap lebih penting dibanding perempuan.

Sistem hukum atau norma menegaskan pembedaan laki-laki dan perempuan dalam peran, penguasaan dan akses, hak dan posisi. Hal ini tidak hanya terjadi pada komunitas-komunitas kecil dalam masyarakat, tetapi juga pada kelompok masyarakat yang lebih besar seperti negara. Aturan bahwa kepala keluarga adalah laki-laki terdapat tidak hanya dalam kelompok masyarakat tetapi juga dalam negara. Akibatnya pada saat perempuan berusaha mendapatkan akses untuk kredit dan mendapat sertifikat tanah menjadi sulit karena perempuan bukan kepala keluarga. Meskipun secara hukum perempuan berhak untuk memiliki sertifikat tanah atau mendapat kredit, namun kenyataannya dai tetap harus mendapat ijin dari suami atau kepala keluarga yang secara hukum adalah laki-laki.
Sistem dan lembaga politik. Mekanisme pengambilan keputusan dalam suatu masyarakat dan sistem pembagian kekuasaan dibangun sedmikian rupa dan membedakan peran politik laki-laki dan perempuan. Anggapan bahwa tugas perempuan adalah di dapur membuat perempuan tidak diberi akses pada pengambilan keputusan, atau seandainya ada lebih banyak berada di belakang layar, dan memberikan pendapatnya lewat suami.
Sistem ekonomi dan lembaga ekonomi. Menyangkut didalamnya adalah bagaimana masyarakat mengelola sumber daya alam, melakukan proses produksi, dan mendistribusikan hasil-hasil produksinya. Pada masyarakat subsisten biasanya laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama. Bahklan perempuan seringkali sangat berperan dalam menentukan kapan waktu tananm, jumlah yang harus disimpan dan jumlah yang harus dikonsumsi. Laki-laki menjalankan apa yang telah ditetapkan oleh perempuan. Masuknya sistem produksi dan distribusi modern dan mengganti sistem produksi subsisten maka mekanisme pembagian peran menjadi berubah. Pada satu masyarakat pasar dikuasai laki-laki. Laki-laki melakukan proses produksi dan berdagang sementara perempuan tetap dalam peran reproduktifnya yang tidak dinilai dengan uang, dan tidak memilik askes terhadap pasar Di masyarakat lain justru perempuan yang melakukan segalanya mulai dari produksi hingga pemasaran. Di sini jam kerja perempuan menjadi lebih panjang, perempuan tidak memiliki waktu untuk merawat dan mengembangkan dirinya, bahkan tidur lebih pendek. Di sisi lain laki-laki memiliki waktu lebih banyak untuk beristirahat, bercakap-cakap, maupun memperoleh informasi dari luar.
Pendidikandan sistem pengetahuan. Pada masayarakat adat, sistem pengetahuan asli(indigenous knowledge) antara laki-laki dan perempuan berbeda karena masyarakat membedakan peran laki-laki dan perempuan. Karena perempuan berbeda peran politiknya, maka laki-laki lebih mengetahui hal-hal tentang aturan adat ataupun informasi-informasi dari luar. Laki-laki memiliki kesempatan lebih untuk berkumpul, dan mendiskusikan segalam macam hal mengenai masa kini dan masa depan masyarakatnya. Ketiak pertemuan dengan dunia luar terjadi, laki-laki lebih cepat menangkap informasi tersebut. Sistem pendidikan dan pengetahuan dari luar seperti sekolah dan kurikulumnya serta program-program pembangunan berpengaruh besar dalam relasi jender. Perubahan besarbisa terjadi dengan adanya sistem pendidikan dan pengetahuan dari luar ini. Pendidikan formal misalnya amat bias laki-laki. Laki-laki betul-betul ditempatkan sebagai pengambil keputusan tertinggi di keluarga dan bekerja pada kegiatan-kegiatan produktif. Sementara perempuan bekerja pada bidang reproduktif. Hal ini tergambar dalam kurikulum pendidikan SD hingga SLTA. Ibu selalu digambarkan dirumah sedangkan ayah bekerja di ladang dna menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Padahal justru sebaliknya banyak perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.Pada kegiatan program pembangunan, ataupun pemberdayaan bias ini begitu terasa. Laki-lakilah yang diajak ikut serta dalam pertemuan, diskusi, berdebat, dan mengalaisa masalah. Akibatnya laki-laii semkain cerdas berpolitik dan mengelola masyarakat maupun alam, sementara perempuan tetap terkungkung dengan pengetahuan tradisionalnya yang perlahan terkikis akibat eksploitasi sumber daya alam.
Keluarga. Satuan masyarakt terkecil dimana segala macam hubungan antara laki-laki dan perempuan dapat tercermin. Mulai daripembedaan peran, pembagian kerja, penguasaan dan akses atas sumber-sumber baik fisik, maupun ideologis, hak, dan posisi dapat dilihat. Keluarga amat berperan dalam mengulang dan memelihara setiap budaya yang dihasilkan oleh masyarakat. Contoh paling sederhana bisa dilihat dalam hal makan. Ada satu masyarakt yang memberlakukan kebiasaan bahwa ibu makan paling belakang, pertam ayah, kemudian anak laki-laki dan perempuan, kemudian baru ibu yang paling belakang. Jenis makananpun berbeda antara ibu dan ayah. Makanan terbaik biasanya diberikan pada ayah, kemudian ibu mendapatkan apa yang tersisa di meja makan. Kebiasaan ini diajarkan pada anak-anak dan kemudian anak kepada cucu. Kebiasaan ini menunjukkan perempuan berada pada status lebihrendah daripada laki-laki. Pandangan tentang perempuan sebagai pemelihara menjadi sempit sekadar sebagai pelayan bagi keluarga. Padahal jika dilihat lebih jeli, perempuan dalam keluarga memimiliki kerja lebih besar dan memakan waktulebih banyak dibandingkanlaki-laki. Bisa dibayangkan betepa keluarga memmelihara ketidakadilan terhadap perepuan selama beberapa generasi.

MENGENALI KETIDAKADILAN JENDER

Paling sedikit ada lima jenis ketidakadilan jender yang perlu kita ketahui, yaitu:
Pertama, terjadi Marginalisasi(kemiskinan ekonomi) terhadap kaum perempuan. Meskipun tidak setiap marginlisasi perempuan disebabkan oleh ketidakadilan gender, yang dipersoalkan dalam analisis gender adalah marginalisasi yang disebabkan oleh perbedaan gender. Misalnya banyak perempuandesa tersingikir dan menjadi miskin akibat dari program pertanian Revolusi Hijau yang hanya memfokuskan padaperan lelaki. Hal ini karena asumsinya adalah bahwa petani itu identik dengan petani lelaki. Di samping itu, banyak sekali pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti guru TK atau sekretaris yang dinilai lebih rendah dibnading pekerjaan lekali, dan seringkali berpengaruh terhadap perbedaan gaji antara kedua jenis pekerjaan tersebut.

Kedua, Subordinasi(penomorduaan) adalah suatu penilaian bahwa suatu peran dinilai
dan dianggap lebih rendah dari peran yang lain. Dalam rumah tangga, masyarakat, maupun negara, banyak kebijakan dibuat tanpa menganggap penting kaum perempuan. Misalnya anggapan karena perempuan toh nantinya ke dapur juga, mengapa harus sekolah tinggi-tinggi, adalah bentuk subordinasi yang dimaksud. Bentuk dan mekanisme dari proses subordinasi tersebut dari waktu ke waktu dan tempat ke tempat berbeda. Misalnya karena anggapan bahwa perempuan itu emosional, dia tidak tepat untuk meminpin partai atau menjadi manejer. Hal ini adalah proses subordinasi dan diskriminasi yang disebebkan oleh gender. Selama berabad-abad atas alasan agama kaum perempuan tidak boleh meminpin apapun, termasuk masalah keduniawian, tidak percaya untuk memberikan kesaksiamn, bahkan tidak mendapatkan warisan. Timbulnya penafsiran agama yang mengakibatkan subordinasi dan marginalisasi kaum perempuan itulah yang dipersoalkan.

Ketiga, Beban Kerja Berlebih. Karena peran jender perempuan adalah mengelola rumah tangga, bayak perempuan menanggung beban kerja domestik lebih banyak dan lebih lama. Dengan kata lain, peran jender perempuan yang menjaga dan memelihara kerapian tersebut telah mengakibatkan tumbuhnya tradisi dan keyakinan masyarakat bahwa mereka harus bertanggung jawab atas terlaksananya keseluruhan pekerjaan domestik. Sosialisasi peran jender tersebut menjadikan rasa bersalah bagi perempuan jika tidak melakukan, sementara bagi kaum lelaki, tidak saja merasa bukan tanggung jawabnya, bahkan dibanyak tradisi dilarang untuk berpartisipasi. Beban kerja perempuan menjadi berlipat ganda karena mereka harus mengerjakan pekerjaan di luar rumah dan di dalam rumah.

Keempat, Cap-Cap Negatif(Stereotipe) terhadap jenis kelamin tertentu, terutama terhadap kaum perempuan dan akibatnya terjadi diskriminasi serta berbagai ketidakadilan lainnya. Karena ada keyakinan masyarakat bahwa lelaki adalah pencari nafkah(breadwinner) misalnya, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dinilai hanya sebagai tambahan dan oleh karenanya perempuan boleh dibayar lebih rendah. Itulah sebabnya dalam keluarga, sopir dianggap pekerjaan lelaki dan dibayar lebih tinggi dibanding pembantu rumah tangga(peran jender perempuan), meskipun tidak ada yang menjamin bahwa pekerjaan sopir lebih berat dan lebih sulit dibanding memasak dan mencuci.

Kelima, Kekerasan(violence) terhadap jenis kelamin tertentu, umumnya perempuan, karena perbedaan jender. Kekerasan di sini mulai dari kekerasan fisik seperti pemerkosaan dan pemukulan, sampai kekerasan dalam bentuk yang lebih halus sepertipelecehan(sexual harassment) dan penciptaan ketergantungan. Banyak sekali kekerasan terjadi pada perempuan yang ditimbulkan oleh adanya stereotipe jender. Perbedaan jender dan sosialisasi jender yang amat lama mengakibatkan kaum perempuan secara fisik lemah dan kaum lelaki umumnya lebih kuat. Banyak terjadi pemerkosaan justru bukan karena kecantikan, tetapi karena kekuasaaan dan karena stereotipe jender yang dilabelkan pada kaum perempuan.

Kesemua manisfestasi ketidakadilan jender tersebut di atas adalah saling berkait dan secara dialektik saling mepengaruhi. Manisfestasi ketidakadilan itu, tersosialisasi kepada baik kaum lelaki maupun perempuan secara mantap, yang lambat laun akhirnya baik lelaki maupun perempuan menjadi terbiasa dan akhirnya percaya bahwa peran jender itu seolah-olah menjadi kodrat.


9 Responses to “KONSEP JENDER”


  1. Januari 22, 2009 pukul 1:02 am

    postingannya top buanget, mbak….

  2. Januari 22, 2009 pukul 1:12 pm

    Okay thanks alot.

    by, agnes sekar

  3. Januari 25, 2009 pukul 12:25 pm

    kadangkala, tidak memberikan pekerjaan tertentu kepada wanita karena dia adalah wanita saya pikir adalah pelecehan, karena wanita dianggap tidak layak.

  4. Januari 25, 2009 pukul 4:12 pm

    Itulah contoh dari kontruksi masyarakat yang bisa dirubah dan diubah sesuai perkembangan zaman. Okay terima kasih komentarnya, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

  5. 5 berantaskorupsi
    Januari 29, 2009 pukul 7:57 pm

    Wah setuju banget mbak, kadang kita bisa melihat sendiri, bahkan melakukannya secara tidak sengaja..

  6. Januari 29, 2009 pukul 8:43 pm

    Kalo aku cowok, hehehe.

    Di mata Alloh laki-laki dan perempuan sama.

  7. Januari 30, 2009 pukul 5:17 am

    Betul sekali beat, sangat setuju.Thanks komentarnya

  8. 8 Bawi
    Februari 11, 2009 pukul 9:02 pm

    kONSEP GENDER harus dimulai dalam keluarga rumah tangga , harus dipahami oleh para orang tua…… ini perjuangan perempuan yang masih panjangggggggggggggg……

    Dimulai dari rumah dulu, para suami, istri, anak laki dan perempuan mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan tugas tanpa membedakan dia perempuan atau laki. semua dikerjakan bersama-sama. ,,,,,,keroyokan

    Sang Ibu jangan melakukan pekerjaan rumah tangga sendirian .SEMENTARA dan anak -anak dan suami semua dilayani. seperti tuan……itu membuat ketidak setaraan menjadi langgeng.. hanya karena ibu kewalahan mendidik dan memberi tugas kepada anak .

    Kebiasaan dalam keluarga , semua anggota keluarga mendapat TUGAS, HAK, TANGGUNGJAWAB DAN KEWAJIBAN YANG SAMA.
    Semua BERPARTISIPASI secara adil, kemudahan DAN FASILITAS untuk MENGAKSES sumber daya juga secara adil, diMANFAAT KAN bersama dan kontrol bersama ., semua secara adil. Tidak boleh ada anak emas.

    iNI DILAKUKAN TERUS MENERUS MENJADI BUDAYA DALAM KELUARGA , maka mereka akan menjadi kan kEADILAN DAN kESETRAAN gENDER itu sebagai gaya hidup, sebagai budaya dan mereka mengalami nya secara penuh dan optimal. Terus dilakukan dalam proses kehidupan.

    Disinilah , KARAKTER anak akan terbentuk untuk mengenali diri, memahami hak orang lain, menghargai keputusan orang lain, menghargai perbedaan pendapat ,belajar menghormati dan mentaati keputusan bersama, antara laki-laki atau perempuan sebagai individu yang dijamin hak nya oleh ORANG TUANYA.

    Itu akan terbawa sampai mereka dewasa, bhwa seseorang di lihat dan dipakai karena KEMAMPUAN bukan karena ia PEREMPUAN.

    Harap koreksi ya bu Agnes kalu pendapat ku salah… maklum belajar sharing pemikiran tentang gender.

  9. Februari 11, 2009 pukul 9:27 pm

    Sangat setuju Bawi, tidak membedakan antara perempuan dan Laki-laki dalam hak untuk berpartisipasi, mendapatkan manfaat yang sama dan semuanya dimulai dari scup yang kecil yaitu keluarga,kemudian masyarakat. Perempuan itu berbeda dengan Laki-laki tapi tidak untuk dibeda-bedakan. Sukses untuk Bawi.

    Regards, Agnes sekar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 469,689 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: