15
Jan
09

KEMISKINAN DAN KELUARGA BERENCANA


Ada banyak pemahaman tentang kemiskinan. Dari segi kemiskinan absolut, kemiskinan dapat diartikan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan material dasar secara layak serta kegagalan untuk mencapai tingkat kelayakan minimum(Meier, 1989). Pemahaman ini berhubungan dengan kemiskinan material. Padahal bila kita membicarakan tentang kemiskinan, ia tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan material dasar saja, tetapi juga berhubungan dengan berbagai dimensi lainnya seperti kesehatan, pendidikan, budaya, jaminan masa depan dan peranan sosial. Paling sedikit ada tiga pendekatan untuk melihat sumber kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat. Pertama, Kemiskinan Struktural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor buatan manusia seperti distribusi aset produktif yang tidak merata, kebijakan ekonomi yang tidak adil, KKN, Illegal Logging, kegagalan PLG, serta tatanan perekonomian dunia yang cenderung menguntungkan kelompok masyarakat tertentu. Kedua, Kemiskinan Kultural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor budaya(termasuk kepercayaan/ agama), seperti malas, tidak disiplin, boros, judi, banyak anak, poligami, tertutup dan statis, masih bertumpu pada kehidupan komunal, serta ketergantungan pada lingkungan alam. Ketiga, Kemiskinan Natural adalah kemiskinan yang disebabkan oleh faktor-faktor alamiah atau natural seperti cacat tubuh, sakit, lanjut usia, lahan kritis dan tidak subur, banjir, tsunami, tanah longsor, dan kebakaran hutan, dan lain-lain.

Di Kalimantan Tengah angka kemiskinan mencapai angka 41 %. Dari tahun ke tahun jumlah angka kemiskinan di Kalimantan Tengah menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Misalnya persentase Keluarga Miskin selama 5 tahun terakhir adalah: tahun 2001 (28,35%); tahun 2002 (28,48%), tahun 2003 (31,61%), tahun 2004 (27,70%), dan tahun 2005 (41,58%)(Sumber: BPS Kalimantan Tengah).
Secara umum, penyebab kemiskinan di Kalimantan Tengah mencakup ketiga faktor di atas, yaitu disebabkan oleh faktor kultural, struktural, dan faktor natural. Salah satu penyebab kemiskinan kultural, khususnya di Kalimantan Tengah, adalah besarnya jumlah anggota keluarga dalam rumah tangga yang tidak sebanding dengan penghasilan keluarga. Faktor ini berhubungan dengan tradisi dalam masyarakat kita yang masih membudayakan prinsip: ”Banyak Anak Banyak Rejeki.” Perinsip seperti ini mungkin ada benarnya pada saat jumlah penduduk kita masih sedikit dan memerlukan banyak tenaga kerja di sektor ekonomi subsisten. Memang dulunya, anak-anak adalah aset ekonomi dan tenaga kerja bagi orangtua yang masih menggantungkan hidupnya pada ekonomi subsisten. Namun untuk saat ini dan seterusnya prinsip: “Banyak Anak Banyak Rejeki” tersebut sudah kurang relevan dengan perkembangan jaman karena jumlah penduduk terus meningkat sementara sumber lapangan pekerjaan pun semakin menipis/terbatas. Misalnya saja hutan yang subur untuk kegiatan ekonomi subsisten serta kekayaan sumber daya alamnya semakin berkurang dengan adanya kegiatan HPH dan Bangli, Perkebunan skala besar, Pertambangan, Transmigrasi, Kebakaran hutan dan lahan dan lain-lain. Demikian juga sumber daya sungai dan danau, khususnya ikan sebagai sumber protein, akhir-akhir ini semakin sulit diperoleh akibat kegiatan PETI, racun/tuba, dan penyetruman. Sedangkan masyarakat yang masih menggantungkan kehidupan ekonominya pada ekonomi subsisten(ladang berpindah dan nelayan) hampir mencapai 60% dari jumlah penduduk seluruhnya. Di Kalimantan Tengah saja yang jumlah penduduknya hampir 2 juta orang, terdapat 41% keluarga miskin. Pertambahan jumlah penduduk miskin ini ada hubunganya dengan semakin berkurangnya sumber daya hutan dan sungai/danau sebagai sumber ekonomi subsisten tadi serta semakin terbatasnya lapangan pekerjaan di bidang pemerintahan seperti PNS.

Program KB (Keluarga Berencana) merupakan salah satu bentuk program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan, yaitu dengan cara mengatur perkawinan, mengatur kapan harus punya anak, mengatur jarak kelahiran, dan mengatur jumlah anak yang ideal dalam suatu keluarga. Sebagai contoh, akan mudah mendidik dan mengasuh 2 orang anak daripada 7 – 10 orang anak dengan kondisi ekonomi yang pas pasan.
Kalau kita amati tayangan berita di media massa, khususnya televisi dan surat kabar, maka daerah-daerah kumuh, perkampungan miskin, daerah terpencil, tempat pengungsian, didominasi oleh anak-anak non produktif. Jumlah angka pengangguran pun setiap tahunnya semakin meningkat. Coba kita bayangkan seorang PNS dengan gaji 2 juta sebulan. sementara isteri tidak bekerja dan menanggung 4 orang anak yang sedang sekolah. Pengeluaran untuk dapur, bensin sepeda motor, uang belanja anak-anak, SPP tiap bulan, listrik, air, telepon, HP dan lain-lain tampaknya jauh dari cukup. Lalu bagaimana dengan kehidupan seorang petani dan nelayan dengan penghasilan yang sangat minim dengan jumlah anak 3 – 8 orang?? Bagaimana dengan pendidikan, kesehatan, dan masa depan anak-anak mereka??

Di negara-negara yang sudah maju, kesadaran akan pentingnya keluarga kecil bahagia, sehat, dan sejahtera merupakan hal yang sangat mendasar. Oleh sebab itu di Cina misalnya ada Undang-Undang yang mengatur bahwa setiap keluarga hanya boleh memiliki satu orang anak, dan apabila lebih akan mendapat sangsi yang berat. Di Amerika dan Australia banyak pasangan tidak resmi(kumpul kebo) yang belum berani menikah karena belum memiliki pekerjaan tetap. Pasangan yang telah menikahpun banyak yang tidak berani memiliki anak karena alasan tidak mau repot dengan pekerjaan dan karena belum memiliki pekerjaan tetap yang bisa menjamin ekonomi rumah tangga. Berbeda daripada keluarga-keluarga di Indonesia. Banyak pasangan yang sudah memiliki 1-3 anak namun belum memiliki pekerjaan tetap dan oleh karenanya masih “menyusui” pada orang tua mereka. Kasus seperti ini mungkin ada hubungannya dengan prinsip keluarga orang Jawa: “Makan Tidak Makan Yang Penting Ngumpul”

Saya pikir masih belum terlambat bagi kita semua untuk membentuk keluarga kecil bahagia, sehat dan sejahtera dengan semboyan: “Dua Anak Cukup”. Program KB bukan hanya untuk Pegawai Negeri dan orang kaya, tetapi untuk seluruh anggota masyarakat dengan tidak memandang latar belakang suku, agama, kelompok, dan tingkat sosialnya. Kita tidak cukup hanya mengharapkan program pengentasan kemiskinan dari pemerintah saja, tetapi seluruh masyarakat harus berpartisipasi secara aktif ikut mengentaskan kemiskinan dengan salah satu caranya adalah mengikuti Program Keluarga Berencana. Di samping itu, tokoh agama dan tokoh masyarakat/adat serta pihak Perguruan Tinggi perlu ditingkatkan partisipasinya dalam mendukung kegiatan pemerintah melalui kegiatan penyuluhan, sarasehan, kegiatan seni dan budaya, serta melalui kegiatan-kegiatan keagamaan. Membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya Keluarga Berencana harus dilakukan secara terus menerus dan dengan berbagai pendekatan sosial seperti memberikan contoh/tauladan melalui diri kita sendiri, visualisasi/film tentang keluarga miskin dan keluarga bahagia dalam hubungannya dengan program KB, penyuluhan tentang beberapa keuntungan secara sosial dan ekonomi dari Program KB, serta penelitian untuk menggali berbagai kearifan lokal yang dimiliki masyarakat untuk menunjang program KB. Misalnya, ada beberapa kelompok masyarakat yang memiliki kearifan lokal untuk mengatur jarak kelahiran, untuk menghentikan kehamilan, dan untuk membantu proses kelahiran agar tidak merasa sakit serta perawatan paska melahirkan seperti untuk mengecilkan perut dan merawat kelamin perempuan dan lain-lain.
Memang masih banyak tantangan dalam penerapan Program KB ini. Salah satunya adalah rendahnya tingkat pendidikan(formal) masyarakat kita di daerah pedesaan/pedalaman. Mindset mereka umumnya telah dibentuk oleh norma-norma agama dan nilai-nilai budaya yang mereka anggap sebagai sesuatu hal yang absolut, dan oleh karenanya Program KB pun mereka anggap bertentangan dengan norma agama dan nilai budaya yang mereka miliki. Tantangan seperti ini bisa dipecahkan melalui berbagai pendekatan sosial budaya. Misalnya menjalin kerjasama yang baik dengan berbagai tokoh agama dan tokoh adat serta perguruan tinggi. Laju pertumbuhan penduduk kita harus ditekan dan bersamaan dengan itu tingkat kesejahtaraan keluarga harus ditingkatkan secara adil dan merata.


8 Responses to “KEMISKINAN DAN KELUARGA BERENCANA”


  1. Januari 20, 2009 pukul 9:55 am

    Keluarga berencana semestinya bukan istilah yang kita sakralkan misalnya 2 anak cukup. Inti dasarnya adalah kata “rencana” sehingga program ini tidak terkesan memaksa. Saya kira tidak perlu menyalahkan agama atau norma, tapi salahkan pendekatan yang diambil dalam program ini sehingga seakan-akan berbenturan dengan agama dan norma. Saya kira agama dan norma juga mengajarkan bagaimana membangun keluarga, misalnya di Islam ada istilah sakinah, mawadah, wa rohmah………

  2. Januari 20, 2009 pukul 6:40 pm

    Saatnya kita giatkan program KB ini dan tanggulangi kemiskina dengan KB ini. Salam kenal

  3. Januari 21, 2009 pukul 8:23 am

    pertanyaan saya yang sangat mengusik hati saya, apakah program KB ini dapat mengurangi angka kemiskinan ??? seberapa banyak seh penyalahgunaan program KB ini oleh kalangan remaja dan pemuda yang masih belum menikah agar pasangan mereka tidak hamil ??? seberapa besar seh mamfaat KB dibandingkan dengan akibat negatifnya ??
    pertanyaan saya ini bukan bermaksud apa2 lho, saya cuma penasaran aja. ntar kalo saya merit juga akan ikut KB ko. tapi pertanyaan itu selalu mengusik hati aku. terimakasih banyak, salam kenal. http://www.kawasah.co.cc

  4. Januari 21, 2009 pukul 10:15 pm

    Terima kasih komentarnya Pak, tentu karena program KB tujuannya adalah untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia, dengan meminimalkan keluarga prasejahtera, karena jika diperhatikan keluarga miskin rata- rata mempunyai anak lebih dari dua ( tidak ber KB ). Sekedar diketahui Pak KB itu tujuannya untuk pasangan yang sudah menikah, sedangkan jika digunakan oleh pasangan yang belum menikah hal tersebut merupakan penyimpangan. Memang ada penyimpangan yang dilakukan tetapi tidak sebesar dari penggunaan yang sebenarnya. , contoh seperti yang saya tulis diatas. Okay sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

  5. 5 Benedict Agung Widyatmoko
    Februari 13, 2009 pukul 2:26 pm

    Halo Ibu Agnes, apa kabar ?
    Faktor kemiskinan di Kalteng [khususnya Palngkaraya], menurut saya karena program transmigrasi yang pernah digalakkan pemerintah, sempat tidak berjalan semestinya. warga transmigran di Bereng Bengkel misalnya lebih memilih urbanisasi dan menetap di kota. Walhasil pembangunan wilayah yang direncanakan menjadi tidak terwujud sehingga lahan menjadi terbengkelai dan menjadi lahan rawa-rawa dan pemancingan.
    Itu pengalaman saya sewaktu tinggal di sana. Mudah-mudahan sekarang kondisinya sudah jauh berubah🙂
    Kereng Bantirai saya pikir sudah bagus dan ramai sekarang ya Bu🙂

    Salam hangat
    Ben

    http://benedikawidyatmoko.wordpress.com
    http://benagewe.blogdetik.com

  6. Februari 13, 2009 pukul 2:56 pm

    Itu juga salah satu penyebabnya, tetapi pemerintah sekarang sedang menerapkan program PM2L yang belakangan ini kelihatan kemajuannyanya, dan daerah Kereng Bangkiray sudah ramai bahkan ada terminal angkutan Luar kota dan sarana lainnya untuk pemenuhan kebutuhan daerah tsb. Terimakasih komentnya Mas Ben.

    Regards, agnes sekar

  7. Mei 31, 2009 pukul 6:31 pm

    salam kenal.
    Paradigma Kb 2 anak cukup sudah berubah menjadi 2 anak lebih baik. Memang kita harapkan keluarga kecil berkualitas, ya dari aspek pendidikan, kesehatan, ekonominya dsb. Ingat pertumbuhan ekonomi yang positif akan habis oleh konsumsi penduduk non produktif (piramida penduduk kita didominasi usia balita dan remaja non produktif). Maka pertumbuhan ekonomi, atau pake HDI tak banyak menolong bangsa yg no 4 terbesar jml penduduknya didunia ini bila tak diimbangi pengaturan kelahiran yang efektif menggunakan kontrasepsi rasional.. oke maju terus bu agnes sekar…

  8. Mei 31, 2009 pukul 8:39 pm

    Salam kenal kembali Masdick, terima kasih komentnya Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 469,689 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: