08
Des
08

PEREMPUAN DAN POLITIK


Apakah Politik Itu?

Secara terminologi, politik adalah upaya/siasat/perjuangan/taktik/teknik/metode/cara untuk mendapatkan kekuasaan atau untuk mencapai tujuan(Soekanto, 1983). Kamus Besar Bahasa Indonesia(1989) mendefiniskan politik adalah segala urusan dan tindakan(kebijakan, siasat) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Beberapa istilah yang berhubungan dengan politik adalah:

(a) politik buka kran: kebijakan untuk menyediakan segala kebutuhan hidup sebanyak-banyaknya.

(b) Politik burung unta: tidak mau menghadapi kesulitan

(c) Politik dagang sapi: tawar menawar antara beberapa partai politik dalam menyusun suatu kabinet koalisi

(d) Politik kampung: daya upaya mencapai tujuan dengan sasaran melalui masyarakat di kampung-kampung

(e) Politik kancil: main cerdik dengan segala macam tipu daya

Sesungguhnya politik itu adalah suatu upaya atau perjuangan yang dilakukan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintahan untuk mendapatkan kekuasaan atau tujuan tertentu. Sadar atau tidak sadar, kita semua sesungguhnya pemain politik. Hanya saja kita kadang tidak sadar kalau kita sudah berpolitik dengan isteri/suami, dengan anak-anak, dengan tetangga, dengan atasan, dengan bawahan, dengan teman sejawat, dengan pembantu, dengan siswa, dengan mahasiswa dan lain-lain. Misalnya, ada seorang suami menelpon isterinya dari kantor: “ Mah kayanya aku mungkin pulang malam, soalnya banyak tugas yang harus aku selesaikan.” Padahal, suami pulang malam bukan karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tapi ada janji dengan selingkuhnya di sebuah hotel. Contoh lain lagi ada seorang ibu dengan menangis meminjam uang kepada tetangga atau temannya. Tapi setelah dipinjami, langsung menghilang dan sulit sekali ditemui. Apalagi pada masa – masa pilkada sekarang ini. Pasangan calon dan tim sukses menggunakan segala cara untuk memenangkan pasangannya. Ada yang menggunakan simbol agama, suku, dan kebudayaan untuk menarik simpati para pemilih.

II.

Apakah politik itu baik atau tidak?


Jawabannya tergantung pada tujuan yang ingin dicapai. Dengan demikian politik itu bisa saja baik dan bisa juga tidak baik dan sangat tergantung pada pemahaman dan kepentingan masing-masing. Dasar untuk pemahaman inipun umumnya dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti adat-istiadat, agama, suku, pendidikan, kekerabatan, dan lain-lain. Umumnya politik itu selalu tidak kentara, sehingga sulit dipahami oleh orang-orang yang tidak mengerti politik. Misalnya seorang calon bupati yang beragama Islam pada saat-saat kampanye sering masuk ke gereja atau menghadiri kegiatan/upacara keagamaan dalam agama lain. Demikian sebaliknya calon bupati yang beragama Kristen sering masuk ke mesjid, surau atau langgar dan menghadiri kegiatan keagamaan dalam agama islam. Apakah cara demikian baik atu tidak?. Dalam konteks ini politik itu masih baik. Tapi dalam konteks yang lain, misalnya, salah satu staf/pegawai di suatu kantor disuruh tugas belajar(S2), tapi dengan maksud agar posisi staf tadi diisi oleh orang yang dikehendaki oleh pimpinan. Di sini konteks politik itu tidak baik untuk dirugikan, dan kemungkinan baik untuk yang melakukannya. Atau melakukan kepemimpinan dengan pendekatan konflik, sehingga ada anak buah yang diadu domba oleh pimpinannya. Kemudian kosa kata yang sangat intim dengan politik adalah: culas, pembohong, tidak jujur, bermuka dua/tiga. Misalnya, kita memiliki teman. Ia sangat benci pada kita, tapi ia selalu ramah dan murah senyum. Istilahnya lain di mulut, lain di hati. Ada teman yang berpura-pura sangat baik terhadap kita, tapi dibelakang ia menjelek-jelekkan dan menghina kita.

III

Siapakah Boleh Berpolitk?

Siapa saja boleh berpolitik, orang tua, anak-anak, remaja, guru, laki-laki maupun perempuan. Pada dasarnya semua orang harus bisa mengerti bagaimana bermain politik, baik dalam sekala kecil maupun dalam skala besar, baik di ruang domestik maupun di ruang publik. Seorang isteri harus mengerti politik untuk memahami prilaku anak-anaknya dan suaminya. Seorang ibu harus waspada dan mulai kritis untuk menilai setiap prilaku aneh dari anak-anak atau suaminya. Misalnya, seorang suami biasanya tidak pernah memakai parfum, sepatu tidak pernah dismir, pakaian kurang rapi. Pada suatu saat, suami tiba-tiba membeli parfum mahal, spetau dismir, pakaianpun harus distrika dan lian-lain. Kebiasaan seperti ini harus diwaspadai oleh seorang istri bisa-bisa suaminya mulai tersangkut dengan WIL. Atau seorang anak yang biasanya pendiam dan penurut, tiba-tiba nakal dan suka melawan.

IV

Apakah Politik itu perlu/penting?

Jawabannya sangat penting !!. Penting untuk siapa saja, kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja. Penting karena untuk menjaga agar kita terhindar dari berbagai jebakan atau niat jahat orang lain terhadap kita. Kemudian politik penting sebagai upaya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Politik ini sangat diperlukan dalam segala aspek kehidupan seperti: dalam berumah tangga, bertetangga, berorganisasi, berteman, di kantor/perusahaan, dalam masyarakat dan lain lain.

V

Perempuan dan Politik

Bagaimana dengan perempuan kita? Bolehkah dan haruskan mereka mengetahui dan menguasai politik(paling tidak dalam skala yang kecil)?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita membahas tentang berbagai kajian yang berhubungan dengan hal itu seperti aspek kebudayaan.

Perempuan dalam Perspektif Kebudayaan

Pemahaman kebudayaan menyangkut persoalan perempuan, status dan perannya dalam kehidupan sosial, sangat bervariasi sesuai dengan perkembangan keadaan dan waktu. Juga tergantung pada bagaimana pemahaman tersebut berhubungan dengan posisi kaum perempuan dalam berbagai komunitas. Para antropolog sekalipun, yang tengah menyelidiki posisi perempuan dalam perkembangan masyarakat secara tidak sadar ikut terlibat dalam perdebatan menyangkut asal-usul dan universaltas keterpinggiran kaum perempuan. Dengan begitu kajian terhadap hubungan hierarkis antara laki-laki dan perempuan menjadi penting.

Laki-lakidan perempuan secara alamiah, biologis dan genetis berbeda, adalah sebuah kenyataan, sebagai kodrat Tuhan yang tidak dapat diubah. Akan tetapi yang kemudian melahirkan perdebatan adalah ketika perbedaan secara alamiah ini lalu kemudian menimbulkan pemahaman yang beragam pada masing-masing orang dan kelompok masyarakat. Perbedaan pemahaman ni selanjutnya dikenal dengan konsep jender, yaitu beberapa sifat yang dilekatkan pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksikan secara sosial dan kultural(Fakih, 1997). Misalnya stereotipe perempuan yang dikenal dengan lemah lembut, keibuan, emosional atau lebih sabar.Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa dan sebagainya. Stereotipe seperti ini dapat dipertukarkan dan bisa dan jadi berbeda pada masing-masing komunitas, tergantung pada budaya dan sistem nilai yang dibangun.

Aristoteles, seorang filosof Yunani, dalam Bhasin(1996) memberikan pemahaman tertentu terhadap perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Dia mengemukakan sebuah teori bahwalaki-laki adalah manusia yang aktif dan perempuan bersifat pasif. Bagi Aristoteles, perempuan adalah laki-laki yang tidak lengkap, manusia yang tidak memiliki jiwa. Dia berpendapat bahwa inferioritas biologis perempuan mengakibatkan mereka juga inferior dalam berbagai hal. Tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan rasio dan oleh karenanya berdampak pada lemahnya perempuan dalam membuat keputusan. Termasuk juga Sigmun Freud, seorang psikolog terkenal,mengklaim bahwa aspek biologisperempuan mempengaruhi aspek psikologisnya, yang selanjutnya berpengaruh pada kemampuan dan peran sosialnya. Doktrin freudian ini berkembang luas, yang kemudian dianut oleh banyak kalangan, dan menjadi pedoman/acuan bagi para pendidik, pekerja sosial maupun politisi.

Di awali dari pemahaman tertentu terhadap perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan yang tersosialisasi dalam waktu yang cukup panjang, bermuara pada terbentuknya sistem nilai. Sistem nilai yang menjadi pola, tuntunan, bahkan mengikat masyarakat dalam bersikap pada proses sosialnya. Sistem nilai yang membentuk kultur tertentu dalam memposisikan dan memberi peran pada perempuan dalam pergaulan hidup masyarakat.

Pada prinsipnya, adanya perbedaan jender yang selanjutnya melahirkan peran jender yang didasarkan atas perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, sesungguhnya tidaklah menjadi masalah dan oleh karena itu ridak perlu dipermasalahkan. Secara kodrati kaum perempuan dengan organ reproduksinya bisa hamil, melahirkan, menyusui, dan kemudian memiliki peranjender sebagai perawat, pengasuh dan pendidik adalah hal yang alamiah. Persoalannya adalah ternyata peran jender perempuan dinilai dan dihargai jauh lebih rendah dibading peran jender laki-laki.Peran jender ternyata melahirkan ketidakadilan, pendiskriminasian dan penindasan terhadap kaum perempuan. Hal ini pada dasarnya adalah sebuah konstruksi sosial budaya yang dibangun oleh komunitas tertentu.

Ketertindasan perempuan, secara antropologis, dipandang oleh Sherry Ortner(dalam Moore,1998) disebabkan oleh sebuah sistem nilai yang diberi makna tertentu secara kultural. Ortner menempatkan kertinggalan perempuan pada tataran ideologis dan simbol kebudayaan. Ketertindasan perempuan dalam budaya universal, kata Ortner merupakan manivestasi dari pemahaman antara budaya dan alam yang kemudian dibandingkan dengan posisi laki-laki dan perempuan pada peran sosialnya. Secara umum, kebudayaan memberikan perbedaan antara masyarakat manusia dengan alam. Kebudayaan berupaya mengendalikan dan menguasai alam yang selanjutnya dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan. Oleh sebab itu kebudayaan berada pada posisi superior dan alam inferior. Kebudayaan diciptakan untuk menguasai, mengelola dan mengendalikan alam untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan masyarakat. Dalam hubungannya dengan laki-laki dan perepuan,maka perempuan selalu diasosiasikan dengan alam danlaki-laki diasosiasikan dengan kebudayaan. Oleh karenanya merupakan suatu hal yang alami jika perempuan berada pada posisi yang dikontrol, dikendalikan dan dikuasai.

Pendekatan lain yag bisa dipakai untuk memahmi penindasan terhadap perempuan adalah analisi Karl Marx tentang kekuasaan kelas. Marx melihat bahwa politik ekonomi kapitalisme sebagai biang keladi kehancuran dan ketertindasan sebagian besar warga masyarakat. . Kapitalisme menciptakan kelas, dalam arti kelas yang memiliki modal, kelas kaya dan kelas miskin, majikan dan buruh. Untuk menjelaskan posisi perempuan dengan analisis Marx tentang kelas, memang perempuan tidak dapat dikategorikan sebagai satu kelas saja. Artinya ia datang dari golongan buruh(proletar) saja atau golongan borjois saja. Tetapi perempuan yang bekerja di bidang domestik dapat dikatakan sebagai suatu kelas. Mereka sesungguhnya bekerja, mempunyai pekerjaan yang kurang lebih sama tanggung jawabnya dengan pekerjaan di bidang lain. Namun lagi-lagi hasil kerja mereka dinilai rendah atau tidak dihargai sama sekali.Maka jadilah perempuan sebagai kelas yang dikuasai karena dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi.

Kemudian Fiedrich Engels(1972), seorang filosof Jerman, menerangkan bagaimana perubahan kondisi marerial mempengaruhi hubungan keluarga, hubungan laki-laki dan perempuan. Ia menjelaskan bahwa pada awalnya laki-laki dan perempuan tidak mengenal ikatan perkawinan. Mereka sama-sama bebas untuk menentukan kepada siapa mereka mau berhubungan seks. Atau dapat dikatakan semua menikah dengan semua, sehingga mereka sering berganti-ganti pasangan. Sampai pada suatu kondisi dimana populasi perempuan lebih sedikit daripada laki-laki,dan karenanya banyak laki-laki yang tidak ingin melepaskan perempuannya. Mulai saat itu terbentuklah tradisi perkawinan dengan pasangan hidup. Pada saat laki-laki memilih pasangannya, maka ia harus pindah kedalam lingkungan keluarga perempuan(matrilokal), karena perempuan dianggap aset yang memiliki akses terhadap sumber-sumber ekonomi. Pada kondisi seperti ini, menurut Engels, sistem yang berlaku dalam masyarakat adalah sistem matrilineal dengan pola.

Kehidupam matriarkat dengan kekuasaan ekonomi dan politik dipegang perempuan, perempuan berada pada kelas penguasa dan laki-laki sebagai kelompok yang dikuasai. Tapi Engels tidak sampai pada penjelasan apakah laki-laki pada saat itu tertindas, terpinggirkan dan termarginalisasi.

Pada saat berburu binatang mendominasi dan menjadi sumber ekonomi penting, maka terjadi pergeseran kekuasaan . Division of labour terbentuk. Perempuan makin terseret dan terkungkung pada pekerjaan domestik dan tidak lagi dianggap penting, karena laki-laki sekarang sudah mempunyai nilai yang lebih dari pada perempuan. Hasil buruan selain untuk dimakan, juga dapat ditukarkan dengan barang-barang lain. Sehingga hasil produksi laki-laki lebih dihargai. Laki-laki menjadi tokoh sentral dan seringkali pengambil keputusan, sampai pada akhirnya laki-laki mengakhiri garis matrilineal dan menggantikannya dengan garis patrilineal yang patriarkat, karena keinginan untuk mewarisi dan menguasi harta benda. Engels mengatakan pada saat itulah terjadi kekalahan sejarah perempuan. Dua pendekatan pemahaman yang digunakan untuk melihat posisi ketertindasan perempuan di atas agaknya memiliki hubungan yang signifikan. Pebedaan biologis antara laki-laki dan perempuan membawa pemahaman tentang peran, tugas dan fungsi sosial laki-laki dan perempuan. Berangkat dari sini lahir anggapan bahwa yang pantas berburu dan mencari nafkah adalah laki-laki. Seiring dengan perkembangan masyarakat, perbedaan kerja antara wilayah domestik dan publik semakin menajam yang membawa pada terbentuknya spesialis kerja. Akibatnya, laki-laki semakin eksis dalam dunia sosial, bisnis, industri dan juga dalam kehidupan keluarga. Sehingga ia dapat mengekspresikan dirinya dalam keempat bidang ini. Sementara perempuan semakin terkurung dalam sangkar emas keluarga.

Oleh karena surplus ekonomi yang dihasilkan oleh laki-laki yang membuat laki-laki semakin berkuasa, amka perempuan semakin terpinggirkan, tersubordinasi dalam kehidupan sosial karena sangat tergantung pada laki – laki. Perkembangan selanjutnya adalah berubahnya pola keluarga monogami yang matriarkat menjadi patriarkat, dimana kerja rumah tangga perempuan menjadi pelayan pribadi. Perempuan menjadi pelayan laki-laki dalam rumah tangga yang disingkirkan dari semua partisipasi dibidang produksi dan sosial. Ketidakberdayaan perempuan untuk mengkaunter dominasi laki-laki dikompensasikan dengan membangun jargon-jargon tertentu sebagai penghibur diri. Ambil sebuah contoh, jargon perempuan adalah mahkluk mulia, perempuan sebagai tiang negara, surga di bawah telapak kaki ibu, mendidik, mengasuh dan merawat anak, termasuk mengurus suami adalah pekerjaan mulia bagi perempuan dan sebagainya.

Kemudian bila dilihat asal mula ketertindasan perempuan, seperti di Inggris, bermula dari Common of Law di Inggris(1896 yang memberikan hak dan kekuasaan bagi seorang sumai untuk mendidik atau mendisiplinkan istrinya dengan cara menggunakan tongkat yang tidak lebih besar dari ibu jari, yang dikenal dengan Rule of Thumb– untuk dipukulkan kepada istri. Adanya Rule of Thumb yang dikenal sebagai batas derajad kekerasan, namun akibat dari tindakan tersebut sulit dipastikan karena hal itu sangat tergantung padajenis bahan yang digunakan, cara melakukan kekerasan dan pada bagian tubuh mana yang dijadikan sasarannya.

Ideologi Patriarki Pada Komunitas Dayak Kalimantan Tengah

Patriarki merupakan sebuah sistem otoritas yang berdasarkan kekuasaan laki-laki tersosialisasi melalui lembaga-lembaga sosial, politik, dan ekonomi. Lembaga keluarga dipandang sebagai institusi otoritas sang BAPAK, dimana pembagian kerja berdasarkan jender dan opresi terhadap perempuan disosialisasikan dan diproduksi. Keluara sarat dengan muatan-muatan ideologis dan kepentingan kelas yang berkuasa, yaitu laki-laki(Ollenburger, 1996). Menurut hasil penelitian, ideologi patriarki tumbuh subur dalam keluarga yang menganut sistem patrilineal.

Secara teoritis, di Indonesia, dasar pertalian keturunan dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu: (a)pertalian darah menurut garis Bapak(patrilineal), misalnya pada keluarga Batak, Sumba dan Nias. (b) pertalian darah menurut garis ibu(matrilineal), misalnya pada keluarga Minangkabau, (c) pertalian darah menurut garis ibu dan bapak(parental/ bilateral), seperti pada keluarga Dayak, Jawa, Sunda, Bali. Suku bangsa Dayak menganut garis keturunan parental/bilateral, yaitu mengambil garis keturunan ibu dan bapak secara bersama-sama. Perwujudannya dapat dilihat dalam pembagian warisan dalam keluarga dan pemilihan tempat tinggal setelah menikah. Tempat tinggal setelah menikah pada umumnya adalah matrilokal(suami mengikuti isteri) atau patrilokal(isteri mengikuti suami). Tentang siapa mengikuti siapa setelah menikah lebih banyak ditentukan oleh faktor jumlah keluarga dan faktor ekonomi dan sesuai kesepakatan. Dalam kehidupan rumah tangga, sejak dahulu kala, perempuan Dayak lebih banyak mengerjakan pekerjaan pada ruang domestik, sedangkan laki-laki mendominasi ruang publik. Dalam kehidupan politik dan pemerintahan perempuan Dayak masih jauh tertinggal(Widen,2003). Dari segi mentalitas, perempuan Dayak kalah gesit dibanding kebanyakan perempuan lainnya seperti perempuan Jawa, Batak, Manado, Banjar, Sunda dan lain-lain. Perempuan Dayak boleh dikatakan krang gesit, lamban, pasif, kurang kreatif, kurang berwibawa, kurang percaya diri, kurang independen dan terlalu polos. Saya melihat adanya mentalitas perempuan Dayak seperti ini sedikit banyak disebabkan oleh adanya sistem dowry(palaku) seperti berbagai kasus tentang mas kawin dalam perkawinan pada berbagai suku bangsa sangat mahal dan langka, misalnya, emas, guci, gong dan benda-benda berharga lainnya. Namun dewasa ini ada pergesaran nilai dan bentuk palaku, yaitu bisa berupa sebidang tanah/sawah/kebun karet/kebun buah/kebun rotan. Kehadiran seorang lelaki dalam keluarga perempuan memiliki nilai positif karena seorang lelaki adalah tenaga kerja tambahan dalam keluarga perempuan. Oleh sebab itu kehadiran seorang laki-laki memberikan simbol penting dalam keluarga Dayak, baik ia hadir sebagai menantu maupun sebagai seorang anak laki-laki. Sejak kecilpun anak laki-laki dan anak perempuan umumnya sudah diajarkan untuk bekerja dan mengerjakan pekerjaan sesuai dengan jenis kelaminnya sesuai ruang(domestik/publik) yang dialami oleh ibu dan bapak mereka. Hal ini tidak terlalu tegas, karena umumnya pula anak laki-laki bisa mengerjakan pekerjaan perempuan seperti memasak nasi, mencuci, mencari sayur dan khususnya dalam kegiatan ekonomi subsisten. Pembagian pekerjaan sesuai jenis kelamin ini, sejak dahulu kala juga sudah dilakukan dalam BETANG atau Rumah Panjang yang dikenal dengan ruang BAKOWO, yaitu ruang pendidikan bagi anak perempuan dan anak laki-laki(bukan ruang pingitan). Pimpinan adat, tokoh masyarakat, dan yang bisa menjadi wali asbah dalam keluarga(keluarga inti dan keluarga kerabat) dan yang menjadi saksi dalam pernikahan adalah laki-laki. Status sosial paling tinggi perempuan pada komunitas Dayak hanyalah sebagai wadian/basir(balian) baik pada ritual penyembuhan orang sait maupun pada ritual kematian.

Kehidupan komunal suku Dayak, baik dalam rumah tangga maupun dalam kehidupan Hukum adat, pemerintah dan politik masih didominasi oleh kaum lelaki(faternalistik). Dominasi patriarki demikian menurut(Widen, 2003) memang dibentuk oleh nilai-nilai budaya dan pengalaman sejarah masa lalu yang kemudian tersosialisasi dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Akibatnya, bahkan hingga saat ini, budaya patriarki, secara umum dianggap sebagai budaya yang tidak bisa diubah, dan dianggap sebagai bagian dari “kodrat” kaum perempuan. Dampak dari warisan patriarki(laki-laki/suami kepala rumah tangga) pada komunitas Dayak adalah dependensi perempuan pada laki-laki secara umum dan isteri pada suami, anak-anak pada bapak masih kuat dan membudaya.

Tantangan dan Peluang Perempuan Berpolitik

Undang-Undang nomor 12 tahun 2003 tentang pemilihan umum, khususnya pasal 65 telah memberikan peluang yang menggembirakan bagi kaum erempuan untuk berpartisipasi aktif dalam dunia politik. Undang-undang tersebut menyatakan agar setiap partai politik memperhatikan keterwakilan perempuan dalam Parpol mereka sekurang-kurangnya 30%. Dari berbagai media massa diperoleh informasi bahwa beberapa partai politik tidak bisa memenuhi keterwakilan perempuan sebanyak 30%, yang disebabkan oleh berbagai hal. Pertama, adanya keengganan Parpol tertentu untuk merekrut perempuan sesuai qouta 30%, sehingga ada di antara perempuan yang direkrut menjadi caleg oleh Parpol tertentu, tapi berada pada nomor urut sepatu. Kedua, ternyata banyak perempuan yang belum siap masuk/terlibat dalam dunia politik dengan alasan pendidikan rendah dan belum memiliki pengetahuan yang memadai tentang dunia politik. Ketiga, ada kecendrungan bahwa perempuan menganggap dunia politik adalah dunianya laki-laki, sehingga dianggap tabu bagi kaum perempuan. Keempat, ada kecendrungan pula dari pejabat pemerintah(bupati dan gubernur) yang belum memiliki kepercayaan penuh terhadap perempuan untuk memegang jabatan-jabatan tertentu. Kendatipun sekarang sudah ada perempuan yang dianggat menjadi lurah, camat, kepala dinas/badan, kepala biro, namun masih terlalu sedikit jumlahnya dan belum sebanding dengan jumlah perempuan dan jumlah laki-laki.

Nilai-Nilai Budaya Yang Menghambat Kesetaraan Jender Dalam Dunia Politik Bagi Perempuan

  1. Tingginya rasa ketergantungan perempuan terhadap laki-laki(budaya patriarki)
  2. Kepribadian yang dibentuk oleh nilai budaya(kasus Betang dan Wali asbah)
  3. Stereotipe yang melekat pada laki-laki dan perempuan(hasil konstruksi sosial budaya yang bisa berubah-ubah dan bisa diubah)
  4. Pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan yang mengakibatkan munculnya konsep ruang domestik dan ruang publik.
  5. Adanya berbagai peraturan yang berhubungan dengan adat-istiadat dan perkawinan yang bias jender.
  6. Nilai-nilai agama yang bias jender( Prof. Nasaruddin Umar: Semua Kitab Suci Bias Jender)
  7. Kemiskinan, pendidikan dan kesehatan, dan kondisi geografis
  8. Globalisasi(dampak ekonomi global terhadap perempuan yang berhubungan dengan ketrampilan, PSK, buruh kasar)
  9. Buta politik. Berbagai kegiatan yang banyak dilakukan organisasi perempuan dan pemerintahan terhadap perempuan cendrung menyuburkan posisi perempuan pada ruang domestik.
  10. Mitologi(sejarah penciptaan dalam tradisi lisan yang selalu mengagungkan laki-laki)
  11. Berpikir tradisional dalam era global. Hal ini banyak diwarisi oleh generasi tua tanpa menilai relevansinya dengan perkembangan jaman dan globalisasi.

Beberapa Peluang Bagi Perempuan Untuk Terlibat Dalam Dunia Politik

  1. Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah
  2. Undang-Undang No. 12 tahun 2003 tentang Pemilihan Umum
  3. Jumlah penduduk perempuan lebih besar di banding laki-laki
  4. Sosialisasi dan pelestarian nilai-nilai tentang konsep wanita modern, emansipasi dan kesetaraan jender dalam novel: Layar Terkembang karya Sutan takdir Alisyahbana(1963), dan Buku Habis Gelap Terbitlah Terang(kumpulan surat-surat Kartini)
  5. Kemudahan akses untuk pendidikan(formal dan nonformal dan kesehatan(KB)
  6. Undang-Undang No. 9 tahun 2000 Tentang Pengarusutamaan Jender dalam Pembangunan
  7. Berbagai Konvensi produksi internasional yang berhubungan dengan pengahapusan kekerasan terhadap perempuan(UU No. 23 tahun 2004); penghapusan diskriminasi terhadap perempuan(UU No.7 Tahun 1984); hak-hak berpolitik bagi kaum perempuan(Konvensi PBB/UU No.68 tahun 1968; dan persamaan hak/perlakuan yang sama(Konvensi ILO No. 100 dan 111)
  8. Muncul dan bangkitnya berbagai organisasi perempuan(LSM) yang memiliki perhatian terhadap eksistensi perempuan
  9. Paradigma berpikir kaum lelaki terhadap dunia kaum perempuan sudah mulai mengalami kemajuan.

Penutup

Perempuan pada intinya harus mengetahui dan menguasai politik baik untuk kepentingan domestik maupun kepentingan publik. Berbagai kendala untuk terlibat langsung dalam dunia politik memangmasih ada, terutama nilai-nilai budaya dan agama yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai baru, apalagi dalam prakteknya kegiatan politik itu harus merubah pola berpikir dan bahkan prilaku seseorang dari semula baik menjadi sesuatu yang dianggap kurang baik. Namun demikian, kita akui bersah tangga.


0 Responses to “PEREMPUAN DAN POLITIK”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 469,689 hits
Desember 2008
S S R K J S M
« Nov   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: