26
Nov
08

PENGARUH STREOTIPE TERHADAP KARIER PEREMPUAN (2)


KEDUA, PERBEDAAN SEKS

Seperti contoh-contoh di atas tadi sifat-sifat lelaki dan perempuan selalu bertolak belakang. Bila laki-laki dipandang lebih rasional, maka perempuan dianggap irasional. Laki-laki lebih mandiri (independen), maka perempuan dianggap kurang mandiri (dependen).

Namun para peneliti tentang jender seperti Deuax dan Lewis (1984) menemukan kasus lain bahwa bila terdapat sifat positif pada laki-laki akan terjadi sifat negatif pada perempuan dan sebaliknya. Artinya perempuan tidak bisa serta merta selalu dicap negatif 100%, karena laki-laki juga memiliki kelemahan. Kasus seperti ini disebut dengan bipolar yaitu bahwa stereotipe memiliki dua kutub. Hal ini disebabkan karena penilaian seseorang terhadap sifat-sifat laki-laki dan perempuan banyak mengalami perbedaan yang signifikan. Oleh sebab itu melalui pendekatan seks (jenis kelamin) maka sifat laki-laki dan perempuan tidak bisa dilihat sebagai dua kutub yang saling bertentangan, karena pada kenyataannya ada sisi yang memiliki kesamaan dan bipolar.
KETIGA, KATEGORI STEREOTIPE
Pendekatan kategorisasi menyatakan adalah hal yang tidak mungkin kalau
manusia memiliki semua sifat-sifat negatif itu atau tidak memiliki
semua sifat-sifat negatif itu atau tidak memiliki sama sekali. Karena
pada kenyataannya semua manusia (laki-laki dan perempuan) memiliki
sifat positif dan negatif pada diri mereka. Penegasan selanjutnya
(berdasarkan hasil penelitian) mengatakan bahwa tidak hanya perempuan
yang lemah, kurang mandiri dan irasional, ternyata laki-laki juga
memiliki sifat demikian. Misalnya, kendatipun laki-laki dianggap lebih
kuat secara fisik, namun sebaliknya  perempuan lebih kuat secara
psikologis. Kemudian untuk melihat dominasi dalam keluarga apakah
laki-laki atau perempuan. Bila kita membandingkan antara keluarga
Minangkabau di mana keluarganya menganut sistem matriarkat dan
keluarga Jawa yang patriarkat pasti akan mengalami perbedaan. Jadi
menurut pandangan kategorisasi, bahwa cap negatif itu tidak hanya
memiliki oleh kaum perempuan, tapi ternyata bisa juga dimiliki kaum
lelaki.
AKAR STEREOTIPE
Ada dua teori yang menggali tentang asal-usul munculnya stereotipe
ini. Teori setitik kebenaran (Kernel of Truth) dan teori peranan
sosial. Teori setitik kebenaran didasarkan pada asumsi bahwa
stereotipe memilik beberapa bukti empiris yaitu adanya perbedaan yang
signifikan antara sifat-sifat laki-laki dan perempuan. Bahwa perbedaan
sifat tersebut bukan didasarkan pada perbedaan jenis kelamin, namun
akibat pernyataan yang berlebihan sebagai upaya memperoleh kebenaran.
Berdasarkan hasil penelitian kesamaan-kesamaan sifat laki-laki dan
perempuan banyak ditemukan daripada perbedaannya. Namun ada
kecenderungan orang untuk mencari kelemahan atau kejelekan orang lain
secara berlebihan dibanding mengangkat sifat-sifat positifnya. Teori
peranan sosial melihat bahwa stereotipe muncul dari perbedaan peranan
sosial antara laki-laki dan perempuan. Teori ini sebenarnya
berhubungan erat dengan pembagian peran domestik dan peran publik
antara laki-laki dan perempuan. Secara teoritis ada empat sisi yang
dapat dianalisis untuk melihat perbedaan antara laki-laki dan
perempuan. Pertama adalah melalui pembagian kerja (division Of Labor),
bahwa perempuan adalah pekerja pada ruang domestik dan ruang publik.
Konsep antara ruang domestik dan ruang publik membuat dikotomi antara
positif-negatif atau penting kurang penting. Ruang publik dinilai
sebagai sesuatu yang lebih penting, lebih berharga, lebih berbahaya
dibanding ruang domestik. Kedua adalah peran jender yang diharapkan.
Ada kebiasaan bagi kebanyakan orang mengharapkan banyak anak laki-laki
dibanding anak perempuan, karena anak laki-laki adalah penerus
kelangsungan hidup keluarga.  Tidak jarang terjadi satu keluarga
memiliki banyak anak karena berusaha mencari anak-anak laki-laki.
Sejak kecil anak laki-laki dan perempuan sudah dibedakan tugas dan
kewajibannya. Anak perempuan diajar memasak, menjahit, mencuci piring
dan membersihkan rumah, sementara anak laki-laki diajar untuk
mengambil air, mencari kayu di hutan dan berburu. Oleh sebab itu pada
saat mereka sudah besar, orang tua mengarahkan anaknya. Anak perempuan
menjadi guru dan perawat, anak laki-laki menjadi tentara dan pilot
atau hakim/jaksa.
Ketiga, Jenis keterampilan dan mitos, Ada mitos : “anak perempuan
tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena akhirnya bekerja di dapur
juga”. Keyakinan seperti ini sudah merendahkan kaum perempuan, bahwa
perempuan tidak memiliki kemampuan atau keterampilan untuk bekerja di
luar rumah tangga. Akibatnya budaya kita sekarang memandang bahwa
perempuan kurang cocok menjadi pemimpin karena tidak memiliki
kemampuan untuk menjadi pimpinan. Perempuan tidak bisa bekerja di
dunia politik, karena pekerjaan yang cocok adalah mendidik anak-anak,
melayani suami, membersihkan rumah dan memasak. Keempat, Perbedaan
jenis kelamin dalam hal prilaku sosial. Banyak orang kurang
mempercayai perempuan. Misalnya, pada saat pertemuan, meski seorang
perempuan memiliki  pendidikan tinggi seringkali pendapatnya diabaikan
oleh laki-laki. Pendapat laki-laki dianggap lebih penting/benar
dibanding peremuan. Kemudian urusan-urusan tradisional perempuan
seringkali tidak dianggap oleh laki-laki maupun sistem yang berlaku,
negara dan agama. Urusan dapur misalnya, sering dianggap remeh
dibandingkan soal ganti rugi tanah. Beberapa agama dan sistem budaya
menyakini bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Hanya
laki-laki lah yang menjadi pemimpin dalam segala bidang kehidupan.
PENGARUH STEREOTIPE PADA KARIER
Munculnya dan sekaligus diyakini cap-cap negatif tentang perempuan
seperti diuraikan di atas tadi, secara tidak langsung sangat
berpengaruh bagi pengembangan  karier perempuan. Artinya cap-cap
negatif tersebut sedikit banyak mengurangi kepercayaan masyarakat
terhadap perempuan dalam hal ini memberikan peluang-peluang yang
sederajat dengan kaum lelaki. Padahal sesungguhnya banyak perempuan
yang memiliki potensi yang sama bahkan melebihi potensi laki-laki
dalam menjalankan roda pemerintahan maupun di dalam dunia politik.
Hanya saja masalahnya, banyak perempuan belum diberikan kesempatan dan
kepercayaan untuk memegang jabatan-jabatan strategis seperti Kepala
Dinas, Kepala Biro, Asisten , Bupati, Sekwilda dan lain-lain.
Sehubungan dengan stereotipe atau cap-cap negatif tersebut disarankan
kepada semua perempuan untuk tidak tersinggung atau terpaku dan apatis
akibat cap-cap tersebut. Sekalipun cap-cap itu ada benarnya, namun
kita wajib berusaha untuk memperbaiki diri dan keluar dari lingkaran
stereotipe tersebut, dan sekaligus menunjukkan dan membuktikan kalau
kita kaum perempuan mampu dan dapat dipercaya untuk memegang suatu
jabatan yang penting. Karena stereotipe adalah hasil konstruksi
sosial-budaya, maka kitapun yakin hal itu bisa diubah menjadi
sifat-sifat yang positif dan bermanfaat untuk pembangunan. Kepada
masyarakat disarankan agar memiliki daya kritis dalam hal membaca dan
menyikapi  berbagai situasi dan wacana yang berkembang dewasa ini.
Terutama kaum perempuan berpikir secara ilmiah dan kritis itu sangat
perlu agar tidak mudah terpancing oleh isu-isu yang negatif dan tidak
gampang menjadi sasaran kejahatan atau gosip-gosip yang tidak
bertanggung jawab. Apabila ada perempuan yang masih senang membuat
gosip, memiliki sifat iri dan dengki, suka mengadu domba, atau
menjelek-jelekan orang lain, atau ingin menjatuhkan orang lain dengan
cara yang kampungan, itu berarti bahwa kita jastifikasi atau
pembenaran tentang-tentang cap-cap negatif tersebut.
Pada era globalisasi dan moderinisasi ini banyak tantangan dan masalah
yang akan kita hadapi, terutama persaingan/kompetensi dalam berbagai
hal. Mendurut pendapat saya, untuk memenangkan persaingan itu hanya
ada satu syarat yaitu kualitas. Kita harus memiliki kualitas SDM yang
hal dalam segala bidang seperti menejerial (kepemimpinan), kepribadian
yang tangguh, memiliki etika yang terpuji, pengetahuan yang luas,
cekatan dalam bekerja, proaktif dalam mengambil keputusan, kemandirian
dalam menyusun dan mengembangkan program kerja dan memiliki tanggung
jawab terhadap semua pekerjaan yang telah, sedang dan akan dikerjakan,
serta jujur dan terbuka dalam pengelolaan keuangan. (*).


0 Responses to “PENGARUH STREOTIPE TERHADAP KARIER PEREMPUAN (2)”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 469,689 hits
November 2008
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

%d blogger menyukai ini: