24
Agu
09

TERLALU PENTING UNTUK DIREMEHKAN


MASA DEPAN YANG TERABAIKAN

Belajar dari pengalaman dan kenyataan yang kita alami disekitar kita, akan sampaikah kita kepada masa depan yang penuh kebahagiaan ? Mari kita renungkan dapatkah kita mencapai masa depan yang sama sekali berbeda dengan masa lalu ? Gambaran atau kondisi masa depan yang ideal, yang dibentuk oleh anggota organisasi berdasarkan visi pribadi, yang kemudian dikembangkan menjadi visi bersama. Untuk mencapai masa depan yang harmonis harus diupayakan peningkatan mutu yang berkesinambungan, penganggaran dan perencanaan sumber daya manusia serta pemantauan kinerja yang berkelanjutan . Manfaat untuk melihat masa depan yaitu memungkinkan organisasi lebih produktif, tidak hanya reaktif dalam mewujudkan masa depan organisasi. Memungkinkan organisasi memulai dan m,emacu aktivitasnya, tidak sekedar merespon saja, sehingga dapat lebih memantapkan pengendalian aktivitasnya kearah pencapaian tujuan. Selain hal tersebut juga meningkatkan kemampuan berorganisasi dalam menyusun strategi yang lebih baik dengan cara-cara yang sistematik, melalui pendekatan yang rasional dan logis dalam memilih strateginya. Nilai manusiawi yang satu ini adalah terlalu penting untuk diremehkan begitu saja. Sebagian besar kita sedang bingung dan dari hari kehari menjadi semakin bingung. Dalam kebingungan yang semakin berkembang menjadi sinting ( UN- REASON ) ini,dimana sesame PNS saling menyalahkan,kemudian saling menerpa dan saling menyingkirkan, yang terlupakan adalah masa depan. Dan jangka temporal jauh ke depan ini semakin tidak diperdulikan, semakin dianggap tidak relevan keadaannya, dengan semakin kaburnya makna dari hubungan antar PNS, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selama ini usaha-usaha pembangunan sepertinya menganggap remeh pembinaan makna dan sama sekali memusatkan perhatian pada upaya memberi isi dari kinerja PNS. Tak mengherankan jika masa depan menjadi asing berhadapan dengan hidup instant “ here and now “

Suatu hari saya sharing dengan sesame PNS yang sama-sama menjabat jabatan yang levelnya, sama dapat disimpulkan dari sharing tersebut banyak kejanggalan yang didapat, atau saya yang kurang jeli menangkap apa maksud sharing tsb. Bertingkah aneh-aneh lucu & menggelikan, Kemauannya tak jelas, sulit dimengerti, Suka mengancam, menakut-nakuti & Menggertak orang. Sering marah-marah, Suka mengejek & merendahkan orang lain, Bahkan kalau menghukum orang merasa bangga dan senang. Inilah yang dinamakan bertentangan dengan karakter meraih masa depan. Untuk mewujudkan tsb seharusnya mendorong orang lain dalam mengembangkan diri untuk mencapai tujuan masa depan, dengan disiplin yang berkesinambungan, memfokuskan energi baru serta mengembangkan kesabaran pribadi sesorang hingga orang tsb mencapai sasarannya

. Proses yang bergerak dari awal sampai akhir sehingga keputusannya dapat dinikmati dan memberikan kepuasan pada orang banyak. Untuk meraih masa depan yang gemilang kita harus memproses dan memahami masa kini dan masa lalu yang digunakan untuk menjebatani bagaimana berinteraksi dan bertindak untuk meraih apa yang diharapkan dimasa depan. Kita harus melukiskan masa depan yang diinginkan yang ingin diciptakan, seakan-akan terjadi saat ini. Masa depan menunjukkan kemana kita akan pergi dan dapat
memperkirakan apa yang akan terjadi bila kita sampai disana. Cara pandang jauh kedepan kemana organisasi harus dibawa agar dapat eksis, antisipatif dan inovatif. Gambaran yang menantang tentang keadaan masa depan yang diinginkan oleh kita bersama.
PNS yang tidak memikirkan masa depannya, yang takut melawan resiko justru memiliki dua resiko sekaligus. Pertama, resiko kegagalan melawan ketakutannya sendiri. Dan yang kedua, gagal dalam mewujudkan apa yang menjadi harapannya. Seburuk-buruknya kegagalan adalah kegagalan dalam melawan ketakutannya sendiri. PNS yang takut melawan resiko, sebaiknya belajar lagi bagaimana menjadi aparat pemerintah yang baik. Sebab, paradigma yang baru kita di tuntut untuk selalu menemukan inovasi-inovasi baru demi kesempurnaan profesi kita, khususnya pada saat kita melayani masyarakat. Tidak cukup hanya dengan berpatokan yang kebiasaan kita sehari-hari, Jika dipandang masih kurang kita harus berani mengambil resiko dengan menyempurnakan. Berani mengambil resiko itu bukan berarti berani membabi buta,tetapi harus dilakukan dengan penuh perhitungan. Kalau memang baik,tidak perlu ragu-ragu untuk dikerjakan meskipun kadang kita dianggap menyalahi prosedur dsb. Keberanian kita untuk melangkah itu merupakan nilai tersendiri, minimal kita akan menjadi orang yang selalu siap untuk berubah atau menerima resiko .
Tidak sedikit ditemui PNS yang sedang mengalami gangguan , hal ini menjadi semakin parah hingga kontraksi waktu bergerak dari jangka pendek ,dari horizon tertutup ketidak adanya horizon, hingga akhirnya terpaku pada “ waktu riil “ . Hal ini membuat kehidupannya dikuasai oleh tirani urgensi ( Mendesaknya cara kerja dan pengaturan sendiri ) Dengan dalih “ Just On Time “. Tirani Urgensi dengan gaya pendadakannya membuat criteria aksi yang simple, fleksibilitas dan adaptasimenjadi azas absolute dalam pengambilan keputusan. Keluwesan ini bisa saja membuahkan manfaat sesaat,terutama dilatar politik, bahkan ada yang mengadopsikannya sebagai “ demokrasi “ Kita harus mengupayakan tidak terjebak dalam perangkap ganda yang berupa realisme katastropis ( keingkaran ) dan ilusif ( retret ) tsb. Kita perlu merintis jalan kearah jauh kedepan. Kita perlu merubah tatapan dan penalaran tentang masa depan. Kita harus mengadakan pembaharuan pikiran melalui pengenalan, untuk kemuadian dikembangkan dan dihayati, satu nilai manusia yang selama ini kita abaikan meraih masa depan.
Kita harus belajar mengenali kekutan, kelemahan, tantangan/ancaman,peluang yang dimiliki dan dihadapi suatu organisasi pada saat ini maupun yang diperkirakan berpotensi akan muncul pada masa depan, yang digunakan sebagai bahan untuk menyusun Perencanaan stratejik pada masa depan. Segala proses yang sedang dilakukan akan dapat diselesaikan dengan baik apabila kita hadapi dengan sikap yang dewasa. Tantangan yang dihadapi kadang tidak dapat dielakkan solusinya tetap pada kedewasaan diri. Ketika masyarakat rewel minta ini dan minta itu, mudah mengkritik padahal kita sudah merasa bekerja keras pastilah akan kita rasakan ketidak enakkan, Hal seperti itu akan kita temui dan menjadi menu sehari-hari. Jika kita tidak mau mengubah diri, Jika kita tetap menjadi orang yang mudah tersulut api emosi, maka akan sulit bagi kita memberi pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dan menciptakan masa depan yang baru. Perlu dipahami bahwa tolak ukur untuk meraih masa depan dapat dilihat sejauh mana memproses masa kini dengan pandangan jauh kedepan dengan perencanaan ,serta mempersiapkan learning infrastructure. Merubah mental model ke cara berpikir sistemik dan menyeluruh, bukan partial fix. Perimbangan waktu dan pemikiran yang proporsional untuk masa depan , dan yang terakhir membuat perubahan pemikiran, sikap kapasitas praktek, Eksperimentasi dan pengaturan kinerja yang lebih proporsional erta mengintegrasikan segala sesuatu yang telah dipelajari dan diaplikasikan dalam kehidupan kini.

About these ads

44 Responses to “TERLALU PENTING UNTUK DIREMEHKAN”


  1. Agustus 24, 2009 pukul 10:18 am

    Salam kenal Bu Agnes,

    Saya sedang melanjutkan pendidikan S 2 di Jogjakarta, kebetulan yang Ibu tayangkan berkaitan dengan materi yang sedang saya gumuli dalam tugas yang diberikan Dosen, Ibu untuk meraih masa depan diperlukan etika masa depan yang memiliki visi prospektif sejauh mana pandangan tentang ini Bu ?

    • Agustus 25, 2009 pukul 4:06 am

      Selamat pagi Romi, Etika masa depan yang memiliki visi prospektif adalah sikap intelek yang melihat sesuatu dimasa depan bukan sebagai realitas tersembungi yang sudah memiliki suatu eksistensi dan dapat ditemukan orang dengan menggunakan metode-metode ilmiah yang sesuai, tetapi lebih berupa hasil yang telah diperkirakan atau diperoleh secara kebetulan, oleh aksi-aksi yang kita lakukan dengan sengaja,sistematik,konsisten dan terarah sebelumnya. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  2. Agustus 24, 2009 pukul 10:25 am

    Salam kenal Bu Sekar, Untuk meraih masa depan yang gemilang dikatakan jangan meremehkan masa depan, dalam artian perumusan setiap proyek pemerintah harus mengacu pada masa depan sehingga desain kolektif tentang masa depan yang didambakan dapat terwujud. Apa kewajiban kita semua agar dapat melangkah mendahului perkembangan zaman ?

    • Agustus 25, 2009 pukul 4:20 am

      Selamat pagi Radar seseorang yang memiliki etika masa depan tentu memasukkan prinsip etika masa depan dalam setiap kegitan terlebih kegitan pemerintah yang hasilnya dapat dinikmati oleh banyak orang dalam waktu yang panjang.. Rekonstruksi jangka panjang temporal ini memberi kesempatan untuk mengantisipasi perkembangan masa depan dan sekaligus, berkaitan erat dengan itu,mengelakkan cengkeraman dari yang serba mendadak, dan jebakkan urgensi, dengan perkataan lain to foresee in order to prevent. Dan disinilah etika masa depan melibatkan prospektif and antisipasi, yang berkewajiban membuat langkah-langkah mendahului perkembangan keadaan, bagai pemain catur yang harus menganalisis potensi perkembangan yang terungkap disetiap fase permainan dan sekaligus mengantisipasi sedapat mungkin gerakan-gerakan buah catur. Jadi visi prospektif merupakan jawaban rasional bagi para fatalis, orang-orang yang terbelenggu oleh ketidak pastian dan terbiasa fleksibel. Terima kasih komentnya Radar, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  3. Agustus 24, 2009 pukul 4:52 pm

    Masa depan tercipta dari perencanaan dan perbuatan yang telah dan sedang kita lakukan di masa kini.

    • Agustus 25, 2009 pukul 4:24 am

      Selamat pagi Alamendah, Setuju pendapat anda, yang terpenting bukanlah apa yang disebut masa depan itu melainkan apa yang dapat diperbuat oleh masa depan itu ( It is not what the vision is, but what the vision does ) Okay ?

  4. Agustus 24, 2009 pukul 9:34 pm

    haddiiirrr….
    malam2 mengunjungi sahabat… hhmm… ada kopi hangatkah untukku…????

    hhmmm… setiap membaca postingan bu sekar, saya selalu terkagum2, penuh pertimbangan en matang sekali…sekedar memngingatkan bu, berpandangan ke depan harus, tapi jangan lupakan begitu saja masa lalu…, agar kesalahan masa lalu tidak terulang lagi di masa yang akan datang
    keep the fight bu… smoga makin banyak para abdi negara seperti anda…

    cu….

    • Agustus 25, 2009 pukul 4:29 am

      Setuju pendapat anda perigi tua, kita harus waspada dalam banyak hal mengenai kekuatan,kelemahan,tantangan /ancaman,dan peluang yang kita miliki pada saat ini maupun yang diperkirakan berpotensi akan muncul dimasa depan, karena dari peristiwa tsb kita dapat melangkah dengan perencanaan yang stratejik, Bukan demikian perigi Tuia ? Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  5. 9 bibit m
    Agustus 24, 2009 pukul 11:03 pm

    Begitulah .. aku jg gak begitu tahu, apa setiap laporan project yg kusampaikan akan dipakai atau tdk. Mereka (pemerintah via departemen) yg bikin kegiatan .. tp apa itu asal bisa nyerap dana saja tanpa dipikir apa follow up-nya? Masak Bappenas tdk berfungsi? Sayang kalo laporan cuma ditumpuk2 di gudang, dimakan rayap, padahal sdh ngabisin duit negara.
    NB : dlm KKBI tdk ada ‘resiko’ tp adanya ‘risiko’ (akibat tdk menyenangkan) ; katastropis? yg dimaksud ‘katastrofa’ ya mbak? (malapetaka ; akhir suatu drama tragedi)

    • Agustus 25, 2009 pukul 5:18 am

      Selamat pagi Bibit, mengingat makna hidup dan kehidupan menyurut,berhubung kebulatan pengetahuan terpecah belah hingga menjadi tidak pasti sebagai pegangan aksi,karena arah waktu berputar terbalik, kita kebingungan, maka dari itulah bersikap mengantisipasi, dan berusaha untuk tidak terjebak dalam situasi seperti hal tsb dengan kembali pada prinsip etika masa depan yang lebih mengutamakan kepentingan orang banyak Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda,

      Regards, agnes sekar

  6. Agustus 25, 2009 pukul 2:26 am

    Seseorang yang merasa terancam tetapi tidak mampu mengatasi ancaman tersebut, akhirnya ia merasa tertindas dan terkekang. Barangkali ini sedikit menggambarkan kondisi psikilogis hasil sharing mbak dengan para PNS itu. Jika kondisinya demikian sulit untuk memberikan gambaran dan perencanaan masa depan. Mereka akan selalu sibuk mengatasi ancaman tersebut dengan ancaman juga.
    Ahh…sahur dulu deh….

  7. Agustus 25, 2009 pukul 5:23 am

    Selamat pagi Aldy, Berhadapan dengan kepudaran komitmen dengan pengaburan mensianisme dan keilmuan, maka masa lalu tampil sebagai satu-satunya kepastian.Surut ke masa lalu dianggap sebagai kompensasi terhadap ketiadaan masa depan kolektif.Maka itu disana sini ada suara sumbang yang sebetulnya menutupi dari komitmen yang telah pudar tsb. Okay terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

  8. Agustus 25, 2009 pukul 6:36 am

    Salam kenal Bu Sekar, saya salut membaca Blognya Ibu yang kesemuanya berkualitas dan susah dinikmati oleh orang-orang biasa saja seperti saya, namun saya bisa menangkap sedikit sedikit, begini Bu menurut saya untuk meraih masa depan sepertinya kita kena kendala persaingan yang ketat karena kita tau orang-orang lain juga berebut ingin maju, ingin jabatan, ingin naik pangkat, ingin kaya. Bagaimana pendapat Ibu mengenai hal ini ? Trims

    • Agustus 25, 2009 pukul 10:34 am

      Selamat pagi Rahmat, Salam kenal kembali,
      Untuk meningkatkan daya saing di masa depan kita harus bekerja lebih cerdas, harus mampu memberdayakan akal pikiran kita sehingga kita mampu mencapai hasil maksimal atau tugas yang dibebankan kepada kita.Bekerja dengan cerdas berarti kita dituntut untuk selalu mengutamakan akal pikiran dari pada otot. Otot penting tetapi yang lebih penting adalah akal. Otot itu hanya penunjang saja untuk memaksimalkan kemampuan kerja akal pikiran kita.Yang kita alami selama ini adalah porsi otot besar daripada porsi otak,akibatnya kita menjadi manusia yang kurang efektif dan efisien, sehingga sudah pesimis dahulu sebelum bersaing untuk mencapai masa depan yang gemilang. Okay Rahmat terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  9. 15 celetukansegar
    Agustus 25, 2009 pukul 7:57 am

    Fokus dan Prioritas merupakan kunci meraih Masa Depan yang gemilang.

    Saya link blognya. Artikelnya bagus dan menarik.

    • Agustus 25, 2009 pukul 10:37 am

      Selamat pagi Celetukkan segar,setuju pendapat anda, dan dengan senang hati monggo di link pada blog anda, Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  10. Agustus 25, 2009 pukul 2:28 pm

    wah luar biasa tulisan panjenengan..
    what the meaning of future.. itu kadang yang saya renungkan..
    karena bagi saya, lebih utama kusyu’ pada masa ini, saat ini, try to do the best…
    insya allah masa depan akan cerah menyambangi kita…
    salam
    fathin

    • Agustus 25, 2009 pukul 7:09 pm

      Selamat malam Fathin, New Paradigm in the making, I need fresh insight, because competition will be fierce and the market will be merciless, Thank’s visit my blog, God bless you always.

      Regards, agnes sekar

  11. Agustus 25, 2009 pukul 4:25 pm

    Mbak Agnes yang berbahagia,

    Saya menginformasikan Ada award dari saya, silahkan ambil di http://rawapada.com/2009/08/25/pasopati-award

    Mohon diterima dengan baik, salam sejahtera..

    • Agustus 25, 2009 pukul 7:11 pm

      Terima kasih Pambudi, saya lengsung ke TKP. GBU.

      Regards, agnes sekar

  12. Agustus 25, 2009 pukul 7:53 pm

    “Seburuk-buruknya kegagalan adalah kegagalan dalam melawan ketakutannya sendiri.”
    mantabs ini, mbak.
    tugas besar adalah bagaimana mengubah iklim feodal dalam organisasi pemerintahan menjadi lebih egaliter tanpa batasan level dalam berinteraksi. jika ini dilakukan maka keberhasilan program adalah niscaya. dan ini tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu pendek. satuan waktunya adalah generasi. jadi generasi ke berapa sistem ini akan menjadi lebih baik :-)
    diriku jadi ingat bahwa orang tidak akan menjadi berani jika dia tidak pernah mengalahkan rasa takutnya.
    sepertinya ini sekali nulis, sekali jadi, langsung posting, ya, mbak. titik koma dan ejaannya masih kacau, ndak seperti biasanya serba tertib teratur gemah ripah loh jinawi dalam berkalimat :-)
    salam…

    • Agustus 25, 2009 pukul 8:15 pm

      Selamat malam Noe, Kaitannya dengan masa depan bahwa kita tidak perlu takut yang berlebihan melawan diri sendiri. Keberanian menentukan sikap itu mutlak perlu, keberanian memberikan kita bekal yang cukup sehingga kita dapat mengukur apakah masa depan yang diharapkan itu dapat tercapai. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang seharusnya dihindari jauh-jauh. Semakin kita berani melangkah dan menentukan sikap untuk masa depan semakin kebahagiaan masa depan dapat dipastikan dapat tercapai. Betul sekali dugaan Noe, nulis , sekali, langsung jadi maklum lagi puasa. Terima kasih postingannya, Sukses untuk Noe.

      Regards, agnes sekar

  13. Agustus 25, 2009 pukul 8:11 pm

    “Jika dipandang masih kurang kita harus berani mengambil resiko dengan menyempurnakan”.

    Saya sangat setuju dengan pendapat ini Bu. Karena sudah seharusnya segala kekurangan itu disempurnakan sehingga ada peningkatan dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Pada dasarnya setiap orang akan selalu berusaha untuk menutup kekurangan yang ada pada dirinya. Kalau memang apa yang dikerjakan itu baik dan dapat meningkatkan kualitas pelayanan pada masyarakat, toh tak ada salahnya diterapkan. Kita dapat menilainya dengan melihat tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh aparat negara.

    • Agustus 25, 2009 pukul 8:35 pm

      Selamat malam Mufti, seorang abdi negara harus berani mengambil resiko dengan berdasarkan Iman yang kuat, agar tidak terkkecoh. Kepercayaan bahwa manusia seharusnya berserah diri sepenuhnya hanya kepada Allah, tidak kepada yang lain. Keyakinan ini sangat penting agar menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pelayan masyarakat memiliki prinsip yang kuat sehingga langkah dan tindakkannya selalu mendapat petunjuk,dengan demikian berani bertindak untuk memperbaiki tindakkannya/mengambil resiko. Demikian Noe, semoga bermanfaat. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

      • Agustus 25, 2009 pukul 9:34 pm

        Resiko ada dimana-mana, ia bisa hadir dimana saja tanpa di undang. Resiko seperti batang pohon, semakin tinggi semakin kencang angin menerpanya, semakin tinggi jabatan semakin besar resikonya. Tapi resiko itu hukum alam, tidak dapat dicegah datangnya. Tetapi dapat diperkecil dampaknya, karena itu resiko bukan sesuatu yang harus ditakuti, hanya perlu diwaspadai. Ini tambahan jawaban yang sebelumnya Terima kasih atensinya Sukses untuk anda.

        Regards, agnes sekar

  14. Agustus 26, 2009 pukul 12:21 am

    kadang sulit menemukan partner yang bisa satu visi ama kita. Seringkali ada gap yang menjejal diantara kedua pihak.. Jalan terbaik,, bekerja semaksimal mungkin, se profesional mungkin, tanpa kenal lelah, n terus jaga komunikasi..

    setidaknya itu akan membuat organisasi tetap hidup n berjalan di relnya

    lam persahabatan ^_^

    • Agustus 26, 2009 pukul 8:21 am

      Salam persahabatn kembali Elmoudy, senang bisa sharing dengan anda,
      Dimana-mana gap pasti ada, yang namanya bekerja pastilah penuh dengan kesulitan demi kesulitan. Tidak ada pekerjaan yang mudah, karena itu kenapa kita dituntut untuk profesional. Bukankah kita kerjakan tidak semua orang bisa, hanya orang -orang tertentu saja. Kalau kita sendiri mengeluh, apalagi orang lain yang tidak dibekali dengan keterampilan yang kita miliki. Padahal secara usia dan pemikiran kita seharusnya sudah mampu berpikir secara dewasa. Memahami bahwa dunia seperti itulah yang kita hadapi, kita harus siap dan tegar menghadapinya. Tidak pantaslah bagi kita bersikap seperti anak belasan tahun yang masih menggantungkan diri pada orang tua. Hendaknya seorang abdi negara itu memahami bahwa keluh kesah hanya akan berdampak negatif terhadap kinerjanya yang nantinya akan berpengaruh terhadap hasil akhir kerjanya. Kalau mau sedikit berpikir jernih akan mengertilah bahwa keluh kesah adalah persoalan juga. Orang yang gampang mengeluh berarti dengan sengaja membebani dirinya dengan persoalan baru. Demikian mouldy, semoga sharing ini dapat bermanfaat. Terima kasih komentnya , Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  15. Agustus 26, 2009 pukul 1:45 am

    Benar yang ibu tulis. Seharusnya PNS menjadi contoh, tidak lantas menjadi yang tidak jelas tersebut. Bisa jadi pengelolan organisasi yang terlalu melebar menimbulkan efektifitas yang kurang produktif .tapi aku pikir adalah perluasan job des dan sistem pengawasan dari jobdes itu sendiri selain perencanaan serta tata kelola organisasi tersebut. sehinga apa yang menjadi acuan yang kita inginkan menjadi tercapai

    • Agustus 26, 2009 pukul 8:45 am

      Selamat pagi kawan lama, Kita harus memberikan contoh yang baik kepada masyarakat bagaimana seharusnya setiap menghadapi problematika hidup yang kita alami. Kita adalah sekumpulan orang terlatih, berkali-kali dibekali dengan pelatihan dan pembinaan tentunya harus lebih mampu bersikap dewasa dibanding orang kebanyakan. Bangsa ini belum sepenuhnya dewasa ini yang harus kita fahami bersama. Entah dari sejarah, kebiasaanatau mudah sekali bersikap mudah menyerah dan putus asa, akibatnya, kita dalam segala hal ketinggalam jauh dari negara-negara. Karena itu sebagai orang pemerintah yang memiliki tugas melayani masyarakat, kita harus mampu menunjukkan bahwa kebiasaan semacam itu sangat buruk, tugas kita semua untuk mengubah kebiasaan buruk yang selama ini masih kita miliki. Demikian kawan lama, Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  16. Agustus 26, 2009 pukul 7:51 am

    Salam kenal Bu sekar, saya dari Purwokerto, media lokal disini beberapa hari belakangan ini ada memuat artikel tentang krisis masa depan. Perilaku ini dikondisikan oleh mopia waktu dan mopia sosial, Menurut Bu agnes bagaimana tentang krisis masa depan ini ? Trims.

    • Agustus 26, 2009 pukul 9:26 am

      Selamat siang Anshori, Kata Krisis berarti, menurut kamus besar Bahasa Indonesia, keadaan yang berbahaya,genting,suram. Bila demikian ungkapan ” Krisis Masa Depan ” mengingatkan bahwa yang sedang dalam keadaan memprihatinkan, kalaupun bukan sekarat, itu adalah masa depan. Mengingat perilaku kita sekarang yang secara implisit mengingkari masa depan tersebut. Dapat kemungkinan si penulis artikel tsb mengkhawatirkan masa depan dari organisasi yang ia masuki selama ini. Demikian Anshori, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  17. Agustus 26, 2009 pukul 11:15 pm

    tulisannya bagus sekali….

    memang masa depan itu dari masa lalu, masa depan ditentukan dari masa lalu…saya kira solusinya adalah selalu melaukan yg terbaik yg kita bisa sehingga dihari kedepannya tidak ada penyesalan…toh walaupun akhirnya dimasa depan kita gagal tapi kita sudah berbuat seoptimal mungkin dimasa lalu dan saya kira kita ndak menyesal akan itu….biasanya sih kalau PNS yg mengalami “gangguan” itu macem2 masalahnya, seperti takut tersaingi sama rekan sejawat apalagi yg masih muda dan berpotensi, bisa juga masalah keluarga dibawa kekantor dsb….juga masalah PNS yg parah adalah…mohon maaf…sering mbolos, sehingga mengurangi produktivitas kerja…itu perlu diatasi dengan pendekatan yg lebih hati ke hati…saya kira juga yang sering membolos itu harusnya mikir seberapa banyak tiap atahun yg melamar jadi PNS dan mereka2 yg lolos itu adalah yg beruntung dan juga mungkin terbaik…..

    • Agustus 27, 2009 pukul 7:48 am

      Selamat pagi Tono, Setuju pendapat anda bahwa apa yang kita raih masa depan tergantung dari yang kita kerjakan sekarang.SEgala sesuatu yang kita kerjakan tergantung dari niatnya, Jadi, jangan membatasi niat hanya sekedar untuk kesenangan sesaat saja,tetapi kerjakan semua pekerjaan yang di ridhoi ALLAH. Gaji yang kita dapatkan nilainya tidak ada seujung kukunya dengan ridho Allah,tetapi kalau kita niati bekerja untuk mencari ridho Allah maka bukan saja ridho Allah yang kita peroleh melainkan gaji dan kenikmatan lain sebagai mahklukNya. Melayani masyarakat termasuk perbuatan yang di ridhoi oleh Allah. Apalagi jika pelayanan itu diniati dengan benar,melayani masyarakat itu disamping akan bernilai ibadah juga akan mendapatkan simpati dari masyarakat. Niat yang lurus dan benar akan mampu menepis keinginan-keinginan yang menyimpang. Terima kasih komentnya Tono, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

      • Agustus 27, 2009 pukul 2:23 pm

        Sekedar inform, maaf ya tono saya sudah 4 x posting coment di blognya selalu tidak bisa masuk katanya sign in dahulu, dan saya telah lakukan itu tapi tetap eror, apalagi syarat yang harus dipenuhi ? Trims

  18. 35 KangBoed
    Agustus 27, 2009 pukul 12:20 am

    Para Sahabat mari kita gunakan momentum PUASA RAMADHAN ini untuk mempersatukan RASA.. membentuk satu keluarga besar dalam persaudaraan ber dasarkan CINTA DAMAI DAN KASIH SAYANG.. menghampiri DIA.. menjadikan ALLAH sebagai SANG MAHA RAJA dalam diri.. menata diri.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Tenang ..
    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    • Agustus 27, 2009 pukul 8:07 am

      Selamat pagi Kang Boed, Setuju bahwa kita harus menyatukan rasa dan menjernihkan pikiran, karena pikiran yang jernih mudah untuk dipakai berpikir. Jika akal sehat dan jiwa bening dapat menghindarkan kehidupan kita dari perilaku menyimpang. Pengawasan adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hambanya,bayangkan andai Allah membiarkan diri kita sebebas bebasnya pastilah kita akan menjadi manusia yang celaka baik didunia maupun diakherat. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

      • Agustus 27, 2009 pukul 3:22 pm

        Bu, komengnya Jin Botol itu dimanya-manya sama, itu mlulu, Kangbut sebenarnya tiap kunjungan tidak pernah membaca tulisannya, jadi langsung ambil kolom komeng dan paste komeng2 nyang sudah disiapken. Jadi nggak lutu kan? :roll:

        • Agustus 27, 2009 pukul 7:34 pm

          Maklumlah Mas, wong Kang Boed yang penuh kasih sayang kesemua orang, lagi tebar pesona ha…ha..

  19. Agustus 27, 2009 pukul 3:03 pm

    Selamat sore mbak Agnes,
    Berbicara masa depan tentu terbentang suatu bayangan atau gambaran bahwa masa depan akan tambah besar tantangan bagi siapapun, baik birokrasi, pengusaha maupun para wirausaha. Tak ada yang perlu ditakutkan sepanjang kita juga sudah menyiapkan diri baik secara mental maupun kesiapan profesionalias kita.
    Dimasa depan, sikap2 yang non produktif dan rentan terhadap persaingan seharusnya ditinggalkan dan diganti dengan profesional dan bermoral.Tanpa itu maka kita akan tertinggal atau ditinggalkan oleh pesaing kita.
    Budaya cari muka, menjilat, adu domba,minta dilayani, dan lain-lain pada saatnya tidak akan laku lagi.
    Selamat melanjutkan kegiatan mbak, sukses selalu.
    Salam dari Surabaya.

    • Agustus 27, 2009 pukul 7:31 pm

      Selamat malam Pak De, Pandai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman itu lebih baik, karena perubahan itu tidak selalu buruk. Dengan berpikir positif kita akan dapat menemukan nilai-nilai baru yang ,menguntungkan hidup kita sendri. Juga tidak perlu kita terlalu sensitif dan romantis dan menganggap yang lama jauh lebih baik dari yang baru, Bisalah, sesuatu yang baru pastilah tidak mudah diterima walaupun sebenarnya yang baru itu jauh lebih baik dari yang lama. Paradigma baru mungkin awalnya terasa menjadi beban dan memaksa kita untuk mengubah sikap secara delapan puluh derajat. Kemanapun kita berpikir seolah-olah terancam dan kita menjadi jauh lebih rendah dari masyrakat. Tidak perlu bersikap demikian. Wajarlah karena masyarakat memang yang membuat Pemerintah itu ada, tanpa masyarakat tidak akan ada yang namanya negara dan pemerintah. Terima kasih komentnya Pak De, Sukses untuk Pak De.

      Regards, agnes sekar

  20. Agustus 27, 2009 pukul 3:19 pm

    Semangat sore dan semangat hari Kamis bu Sekar, terus terang saja saya bingung mo komeng apa, karena tulisannya buanyak sekali, thirik-thirik dan tidak ada tebal/miringnya, jadi bingung buat nyang mo fast reading bu. Mohon mangap nggih. :lol:

    • Agustus 27, 2009 pukul 7:33 pm

      Selamat sore Mas Wandi, terima kasih sudah mampir di blog ini.

      regards, agnes sekar

  21. Agustus 27, 2009 pukul 9:13 pm

    hidup ini sudah kelewat direduksi nilai dan maknanya. sehingga sesuatu yang mestinya dalam, justru menjadi dangkal. ketika orang bicara profesionalisme misalnya, maka yang dipikirannya cuma ada akurasi, on time dan value of money… lain tidak

    • Agustus 27, 2009 pukul 9:53 pm

      Selamat malam Arifin, Harus ada sekian waktu dalam sehari kesempatan untuk merenung, mengevaluasi diri, sejauh mana yang telah kita perbuat yang bermanfaat bagi orang lain. Waktu kita jangan hanya dihabiskan menjalani rutinitas duniawi yang sering kali membawa hidup ini menjadi gersang, Lihatlah dengan jujur apa yang terjadi pada diri kita seharian itu minimal sehari sekali. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 313,944 hits
Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Sekilas Berita

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.198 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: