05
Agu
09

CITA-CITA PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945


MEMBERDAYAKAN RAKYAT AGAR MAMPU BERSIKAP EFEKTIF DAN EFISIEN DALAM SEGALA HAL

Cita-cita proklamasi 17 Agustua 1945 serta prinsip-prinsip dalam menuju cita-cita tersebut, antara lain adalah Pancasila dan UUD 1945.
Tanah air yang luas ( daratan dan lautan ) dengan potensi alam yang banyak jumlah dan jenisnya, yang berbeda-beda antar pulau, antar provinsi, antar kabupaten/kota bahkan di daerah yang lebih kecil ( kacamata/desa ).
Harapan kita semua terciptanya tata pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN. Terwujudnya aparatur Negara/pemerintah dalam system administrasi Negara yang yang mampu mendukung kelancaran pelaksanaan tugas penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dengan mempraktekan prinsip-prinsip Good Governance. Kelembagaan secara systemic dengan orientasi pada perwujudan Visi –Misi bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memberdayakan SDM, manfaatnya adalah upaya untuk lebih memberdayakan “ Daya “ yang dimiliki oleh manusia itu sendiri dalam arti memiliki kemampuan ( Competency ) yaitu pengetahuan ( Knowledge ),keahlian/keterampilan ( skill ) dan sikap ( attitude ) Hal ini bukan berarti bahwa daya dan unsure-unsur lainnya tidak perlu seperti uang, metode, peralatan, mesin dan pasar akan tetapi berdayanya, bergunanya dan bermanfaatnya unsure-unsur tsb justru sangat ditentukan oleh daya yang ada pada manusia itu sendiri..

Cita-cita proklamasi juga mensinergikan seluruh actor, yaitu pemerintah, dunia Usaha, dan masyarakat dalam Tim yang solid, Menata ulang kelembagaan Pemerintah, membangun organisasi sesuai kebutuhan dan tuntutan public. Meredefinisi visi, misi, peran, strategi, Implementasi, dan Evaluasi Kelembagaan Pemerintah..Mengoptimalisasi peran dan posisi PNS dalam wadah NKRI. Posisi dan peran adalah dua kata yang menarik bagi setiap PNS. Tetapi lebih menarik lagi untuk disegarkan kembali kedalam ingatan kita, sebab biasanya yang meliputi pikiran kita adalah hak yang mengambil porsi paling besar dibandingkan dengan kewajiban. Begitu tahu kita menduduki jabatan tertentu biasanya dalam bayangan kita hak apa yang akan kita peroleh. Boleh-boileh saja tetapi hendaknya pikiran itu diimbangi dengan keinginan dan tekad kuat untuk berprestasi dengan jabatannya tersebut. Jabatan baru adalah harapan baru bagi orang-orang di sekitar kita yang memberikan kepercayaan kepada kita atas kedudukan itu sendiri. Kita memang tidak boleh bosan dan jemu untuk selalu belajar tentang posisi dan peran yang sedang kita mainkan. Kita harus exist dimanapun kita ditempatkan , tidak ada istilah tidak bisa. Tidak ada istilah kagok atau ragu-ragu untuk melaksanakan dengan sepenuh hati posisi yang sedang kita hadapi. Biarpun sebenarnya jabatan itu melenceng jauh dari bidang ilmu yang kita miliki. Asal itu semua memang benar-benar tugas dan bukan hasil rekayasa seharusnya harus kita jalani dengan sebaik baiknya. Ketika kita menjadi bawahan kita harus tau tugas kita sebagai bawahan itu apa, bagaimana seharusnya menjadi bawahan yang baik. Bagaimana melayani atasan dengan baik dsb. Dan ketika kita beruntung menjadi atasan kita juga harus belajar menjadi atasan yang baik. Belajar bagaimana memperlakukan bawahan dengan manusiawi sehingga akan tercipta anak buah yang tunduk dan patuh kepada atasan.

Semangat untuk lebih baik dari masa lalu ( Reformasi ) semangat untuk secara konsekwen dan konsisten melaksanakan system yang ada, seperti OTDA. Kita sering lalai terhadap tujuan dan prinsip-prinsip yang sudah disepakati. Hanya tau , bahwa potensi alam kita cukup kaya, tetapi tidak tau bagaimana mensyukuri dengan upaya yang intensif untuk pemberdayaan dan pengembangannya. Nilai-nilai budaya yang tinggi hanya jadi kebanggaan tetapi tidak diamalkan. Semangat reformasi ( ingin penampilan yang lebih baik dan lebih benar dari pada masa lalu ) tidak diawali dengan evaluasi yang cermat tentang yang baik dan yang jelek dari masa lalu, seharusnya yang baik dikembangkan terus dan yang jelek diperbaiki atau diganti dengan yang lebih baik.. Banyak pegawai tetapi kurang, sebaiknya sedikit pegawai tetapi cukup “ Ini berarti banyaknya pegawai tidak menjadi jaminan bahwa pegawai tersebut dibutuhkan oleh organisasi, bahkan dengan banyaknya pegawai justru menjadi beban. Akibatnya terjadi in efisiensi bagi organisasi. Sebelum melakukan penambahan pegawai ( recruitment ), terlebih dahulu dilakukan analisa jabatan. Untuk menentukan jabatan/pekerjaan apa yang tersedia, kualitas dan kuantitasnya berapa, harus terukur.. Eksistensi SDM semakin penting dan berperan strategis, dan dapat dikatakan menjadi kunci keberhasilan organisasi dalam setiap proses pelaksanaan kegiatan organisasi. Agar SDM dapat berperan, berfungsi dan mampu competitive maka kompetensi SDM merupakan syarat yang tidak dapat diabaikan karena melalui kompetensi yang berkualitas akan menunjukkan kemampuan ( Competensi ) seperti yang diharapkan.

Sebagai PNS kita harus memahami bahwa dunia selalu berkembang. Pengetahuan manusia terus bertambah, orang-orang pintar makin banyak. Kehidupan menuntut kita untuk bersikap efektif dan efisien dalam segala sesuatu. Saingan semakin banyak sehingga jika tidak pintar-pintar bersikap kita akan terseret oleh arus zaman.. Dulu orang-orang tua menganjurkan agar kita bekerja keras kalau kita ingin sukses. Anjuran itu sekarang harus kita rubah, yang lebih tepat saat ini adalah bekerja dengan cerdas. Padahal maknanya tidak terlalu jauh berbeda.. Hanya saja bekerja keras menyiratkan kita harus memaksimalkan otot kita, sedangkan bekerja dengan cerdas yang harus kita berdayakan adalah kemampuan berpikir kita.
Rakyat perlu motivasi untuk mencapai tujuan dari cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, Rakyat perlu pencerahan dalam berbagai masalah. Kita harus mempunyai program jangka panjang, Program Jangka Sedang Lima Tahunan serta Program Jangka Pendek satu Tahunan. Kita harus memberdayakan rakyat agar mereka mampu memberdayakan dan mengembangkan potensi dan peluang yang ada , sehingga sebelum tahun 2020 bangsa Indonesia Daerah Kalimantan Khususnya sudah siap Mandiri dan siap Bersaing dalam NKRI yang kita cintai ini.

About these ads

29 Responses to “CITA-CITA PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945”


  1. Agustus 5, 2009 pukul 9:04 pm

    Bu Sekar untuk menggapai cita-cita Proklamsi dengan memberdayakan SDM, termasuk PNS nya, dalam arti para PNS di Kalteng harus memiliki komitmen tinggi terhadap profesinya, tapi pada kenyataannya, masih banyak PNS yang pada jam kerja keluyuran di pasar dan di jalan-jalan, bagaimana dengan hal ini Bu ?

    • Agustus 5, 2009 pukul 9:47 pm

      Selamat malam Rudi, kalau kita ingin tahu komitmen pokok kita sebagai aparat pemerintah, kita mesti faham betul apa yang ada di kode etik profesi. Jiwa korsa kita harus kita pupuk sehingga kita menjadi sekelompok warga negara yang memiliki karakteristik khas sebagai aparat pemerintah yang memiliki kelebihan dan semangat kebangsaan yang seharusnya lebih dari warga kebanyakan. Bekerja itu dengan jiwa, kurang lebih begitulah sikap seorang abdi negara yang memiliki komitmen tinggi dalam bekerja. Bekerja bukan sekedar kita punya seragam punya kantor yang namanya instansi pemerintah, punya badge dsb. Tetapi bekerja karena kita merasa kita adalah sekelompok warga negara yang memiliki tugas untuk membangun negara ini. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  2. Agustus 5, 2009 pukul 9:58 pm

    Bu Agnes, untuk mencapai cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 tentu harus didukung oleh konsep-konsep umum yang berkualitas serta memiliki sasaran pendukungnya, Ibu bagaimana konsepnya dan bagaimana sasaran pendukungnya ?

    • Agustus 6, 2009 pukul 6:41 am

      Selamat pagi Nina, konsep umumnya : Menetapkan strategi dan langkah-langkah dalam memproses tujuan reformasi dan OTDA serta memfasilitasi proses serta menetapkan rambu-rambu dalam mencapai sasaran tsb diatas. Bertanggung jawab terhadap terwujudnya koordinasi, Integrasi, sinkronisasi dan Simplikasi di Daerahnya. Sedangkan sasaran pendukungnya : Sesegera mungkin mendidik dan melatih SDM Bangsa Indonesia yang berbasis kompetensi :- Bangun karakter Kebangsaan, kemanusiaan dan keagamaan- SDM Bangsa Indonesia mempunyai kemampuan teknis, manajemen, administrasi untuk memberdayakan dan mengembangkan potensi dan peluang di lingkungannya,- Keseimbangan aspek kesejahteraan dan aspek keamanan ( HANKAM ). Semua sektor dan bidang ( baik kelembagaan maupun perorangan ) bergerak searah secara menyeluruh dan terpadu untuk suksesnya sasaran pokok sasaran antara yang diperlukan adalah satu visi, satu persepsi dan satu misi. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  3. Agustus 5, 2009 pukul 11:13 pm

    Tabea…. Met Baku Dapa n Salam Kenal. Artikelnya Bagus2 n Menarik. Aku Suka Itu. Sukses Selalu. Thanks,-

    • Agustus 6, 2009 pukul 6:43 am

      Selamat pagi Raymond, Terima kasih supportnya dan kunjungannya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  4. 7 guskar
    Agustus 6, 2009 pukul 7:54 am

    selamat pagi mbak..
    sekedar refleksi. dalam naskah proklamasi disebutkan “hal2 yg mengenai pemindahan kekuasaan dan lain2 diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yg sesingkat2nya”
    pemindahan kekuasaan nggak usah dibahas lagi, krn mekanismenya sdh jelas dng pemilu. yg penting adalah semangat “dan lain2nya” ini, yg saya terjemahkan di masa sekarang adalah pembangunan di bidang fisik dan non fisik. OTDA mestinya dpt dipergunakan dng semaksimal mungkin, krn semangat OTDA dulu adalah pemerataan pembangunan. Pelaksanaan pembangunan harus dng cara yg seksama… dan berkesinambungan (klo tidak bisa dng tempo yg sesingkat2nya)

    • Agustus 6, 2009 pukul 10:40 am

      Selamat siang Guskar,
      Tugas kita semua harus memberdayakan rakyat agar mereka mampu memberdayakan dan mengembangkan potensi dan peluang yang ada dengan semangat OTDA. Rakyat perlu pencerahan dalam berbagai masalah seperti : Berideologi, Berpolitik, Berekonomi, Berbudaya, Berpendidikan, Beragama, Berhankam, Berhukum, Berdemokrasi, Bereformasi dan berotoda dsb. Semangat OTDA adalah pelimpahan kewajiban dan tanggung jawab kepada Daerah, titik beratnya ada di kabupaten/kota yang merupakan unit terendah yang memiliki perangkap lengkap dalam rangka intensifikasi pemberdayaan dan pengembangan potensi yang ada di daerah yang terpadu dengan pemberdayaan rakyat. Untuk hal tsb diatas Pemerintah berperan sebagai motivator, fasilitator dan regulator. Sementara rakyat akan berperan sebagai obyek dan subyek yang tepat guna dan berdaya guna, sehingga pembangunan secara fisik dan non fisik dapat terwujud dengan baik. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  5. Agustus 6, 2009 pukul 4:47 pm

    salam jumpa mbak Sekar.

    Cita2 proklamasi adalah menciptakan masyarakat adil makmur,murah sandang murah pangan dng kepemimpinan yang penuh kebijaksanaan dng berlandaskan pancasila.Untuk itu orang tua dan pemimpin seharusnya menjadi panutan bagi generasi mudanya.Nilai2 budaya luhur dengan semangat kerja keras ,mati raga dan penuh iman hendaknya ditanamkan mulai dari klg-sekolah dan masyarakat.Gaya hidup para remaja saat ini banyak yg berubah.Rasa sosial dan sopan santunnya terabaikan.Mereka senang menggunakan bhs gaul dpd bhs Indonesia,lebih senang musik barat dpd musik daerah,lebih senang bicara dpd bekerja termasuk pemakaian HP seharian.Inilah keprihatinan kita yg seharusnya segera dibenahi dan segera bertindak cepat mengarahkan anak bangsa.Jika hal ini berlanjut……..jatidiri bangsa taruhannya.

    salam dan doa.MERDEKA..!

    • Agustus 6, 2009 pukul 8:18 pm

      Salam jumpa pula Yang Kung, nilai-nilai sosial akan bergeser dengan sendirinya jika kita membiarkan nilai-nilai sosial yang utuh itu tetap exist, untuk itu perlunya mempersiapkan masyarakat mengikuti proses belajar secara individual, kelompok, maupun menyeluruh dan mengubah ke arah positif meliputi intelektual dan emosional, dengan maksud menumbuh kembangkan rasa keterbukaan, kebersamaan, saling asih saling asuh mengangkat dan menumbuh kembangkan potensi masyarakat, sehingga nilai-nilai susila dan sopan santun masih dapat terpelihara dengan baik. Terima kasih komentnya Yang Kung, Sukses untuk Eyang.

      Regards, agnes sekar

  6. Agustus 6, 2009 pukul 8:25 pm

    Salam kenal Bu Sekar, untuk mewujudkan Cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 salah satu itemnya adalah menyalurkan OTDA secara menyeluruh dan konsekwen, Maaf Bu mau tanya alur pengembangan Instrumen Evaluasi kelembagaan Pemerintahnya yang bagaimana Bu

    • Agustus 6, 2009 pukul 8:48 pm

      Salam kenal kembali Ratna,, Alur pengembangan instrumen Evaluasi Kelembagaan Pemerintah adalah kompleksitas Vertikal yang terdiri dari kompleksitas struktur Organisasi, Tingkat lebar rentang kendali, Bobot kewenangan, Bobot kewajiban, serta Bobot tanggung jawab. Kompleksitas horizontal adalah Tingkat spesialisasi, Sifat spesialisasi, Tata hubungan antar spesaialis Dan yang terakhir adalah diferensiasi spasial : Tingkat pembagian pelayanan berdasarkan tempat/wilayah. Demikian yang dapat saya jelaskan, Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  7. 13 KangBoed
    Agustus 7, 2009 pukul 5:26 pm

    Hahahaha.. miris dan menyedihkan.. AMANAH para pendahulu tergilas sudah.. negeri kaya raya bukan semakin merdeka rakyatnya.. entah kedepannya akan seperti apa..
    Salam Sayang

    • Agustus 7, 2009 pukul 6:03 pm

      Selamat malam Kang BOed, semoga cita-cita Proklamasi membawa arti yang strategis mewujudkan kesejahteraan rakyat melalui cita-cita ini pula berharap dapat terjalin kerja sama, komitmen dan koordinasi yang erat antar semua sektor untuk mengisi pembangunan dalan negara ini, dan diharapkan untuk kita semua menjadi pelaku untuk membangun Negri ini kearah kemajuan, Demikian Kang Boed, Sukses untuk Akang.

      Regards, agnes sekar

  8. Agustus 7, 2009 pukul 9:18 pm

    Sebagai warga negara yang baik sudah sepantasnya kita turut mengisi pembangunan di alam kemerdekaan ini dengan sikap positif di bidang apapun. Potensi daerah memang harus semakin ditingkatkan, demikian pula pemerataan pembangunan, hasil bumi dan kekayaan alam sudah selayaknya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat. Sayangnya, masih ada daerah yang potensi dan sumber daya alamnya belum diolah secara maksimal karena keterbatasan teknologi dan SDM.

    Salam kenal dari saya…

    • Agustus 8, 2009 pukul 8:31 am

      Selamat pagi Mufti, Prioritas pembangunan adalah mempercepat pemulihan ekonomi dan memperkuat landasan pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan berdasarkan sistem ekonomi kerakyatan. Pembangunan kesejahteraan rakyat serta meningkatkan kualitas kehidupan beragama dan ketahanan budaya dengan cara meningkatkan pembedayaan masyarakat dengan memberikan akses kepada masyarakat untuk memperoleh dan memanfaatkan hak hak masyarakat dalam mengembangkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya. Demikian Mufti, semoga bermanfaat, Terima kasih sharingnya Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  9. Agustus 8, 2009 pukul 1:42 am

    haddiirrr….ibu, selamat dini hari…
    semangat proklamasi entahlah sekarang tak terasakan lagi… peringatannya hanya ceremonial saja tanpa menyentuh inti dari semuanya… entahlah, andai semuanya seperti bu sekar, saya berani berharap banyak, namun berapa gelintirkah yang seperti anda????
    cu…

    • Agustus 8, 2009 pukul 2:49 pm

      Selamat siang perigi tua, kita berharap semua melalui cita-cita proklamasi dapat mweujudkan dan menjelaskan serta menegaskan peraturan mengenai pelaksanaan pembangunan dengan di ejawantahkannya melalui tugas masing-masing unit kerja dan bagaimana kerja samanya. Tingkat kejelasan prosedur kerja secara praktis ( langkah kerja yang beruntung secara logis dan terkait dalam pelaksanaan tugas masing-masing unit kerja, juga tingkat kejelasan kebijakkan kerja sehingga pejabat atau pegawai memperoleh kebebasan memutuskan menurut pendapat sendiri tanpa melanggar prinsip peraturan atau hukum yang berlaku dalam pelaksanaan tugas masing-masing unit kerja. Terima kasih komentnya, sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  10. Agustus 8, 2009 pukul 5:10 am

    yang harus dilakukan adalah me-reorientasi dan me-revitalisasi kehidupan berbangsa dan bernegara…

    me-reorientasi.., pada apa sesungguhnya niat dan tujuan berbangsa dan bernegara…
    me-revitalisasi.., pada pijakan nilai-nilai dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara…

    tanpa itu…, bangsa ini akan kehilangan pijakan sekaligus kehilangan arahnya…

    • Agustus 8, 2009 pukul 2:54 pm

      Selamat sore Itempoety, setuju pendapatnya bahkan rakyat harus di rehinking the future, dengan menuntut oerasi cara baru yang radikal dan pergeseran kontinoue dalam berbagai hal serta pemikiran kreatif, In need of fresh insight dan pemikiran alternatif, dalam skenario yang baru, Terima kasih komentnya Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  11. Agustus 8, 2009 pukul 5:12 pm

    Kita telah bebas merdeka secara fisik sejak 64 tahun yang lalu.
    Menjadi perenenunagan dan refleksi Kita telah bebas dari faktor-faktor pembatas apa saja.
    Untuk mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan yg hakiki (dalam arti positif tentunya).
    Warm Regards

    • Agustus 8, 2009 pukul 8:58 pm

      Yang masih harus dilengkapi memberdayakan ekonomi kerakyatan, Dalam bidang Pendidikan sudah ada pernyataan kurikulum berbasis kompetensi, serta upaya pengentasan kemiskinan, upaya mengatasi pengangguran dan pemberantasan korupsi, masyarakat belum seluruhnya faham tentang strategi dan langkah-langkah untuk mewujudkan itu. Mereka cenderung berbicara tentang ekses dan bukan proses. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

  12. Agustus 10, 2009 pukul 10:07 am

    baru bisa mampir, mbak…
    seandainya para pns seperti mbak agnes semua, alangkah indahnya tata pemerintahan dalam negeri ini. minimal jiwanya, tindak tanduk menyusul kemudian.
    sekarang kita ada di masa perbaikan terhadap segala sektor bernegara, khususnya di sumber daya manusia. sekarang saatnya kita membalikkan kurva yang mudah2an sudah di titik nadir ini untuk melaju naik lagi dengan dasar dan harapan cita-cita proklamasi itu. sesuai dengan tujuan luhur para founding father.
    di tengah gempuran hegemoni barat dan dunia teroris serta isme-isme yang makin berkembang, kita yakin bisa.
    salam…

    • Agustus 10, 2009 pukul 10:45 am

      Selamat siang Noe,Bekerja dengan ihklas merupakan dasar untuk melaksanakan kegiatan. Ihklas adalah berbuat sesuatu semata-mata hanya kepada yang lain. Ihklas dapat pula diartikan tulus tanpa pamrih, artinya bekerja tidak untuk mendapatkan balasan dari orang lain. PNS dinamakan ihklas bekerja jika tujuan bekerjanya itu bukan semata-mata untuk mendapatkan gaji, untuk meningkatkan karirnya, untuk jaga gengsi, untuk meningkatkan karirnya, untuk jaga gengsi atau untuk kepentingan duniawi lainnya. Tetapi bekerja karena Allah telah memerintahkan hambaNYA untuk bekerja. Karakteristis orang yang ihklas adalah hatinya penuh kesabaran. Ia menerima apa saja yang diberikan kepadanya selama pemberian itu merupakan haknya. Ia tidak mau meminta sesuatru yang bukan haknya, meskipun banyak cara untuk mendapatkannya. Ia selalu bersemangat bekerja dan menunjukkan kinerja puncak meskipun gajinya kecil dan atasannya jarang mengawasi. Demikian, Noe , harapan kita semua agar semua pejabat harus integritas dengan ihklas.

      Regards, agnes sekar

  13. 25 Endang Kusmana
    Agustus 11, 2009 pukul 3:17 pm

    Dengan semangat proklamasi mari kita tingkatkan semangat membangun, persatuan dan kesatuan bangsa. PNS sebagai abdi negara dan abdi masyarakat harus menjadi suri tauladan yang baik.

    • Agustus 11, 2009 pukul 4:50 pm

      Setuju Endang, kita harus memiliki kesadaran yang tinggi untuk mengihklaskan sebagai abdi negara dan abdi masyarakat,Menjadi abdi masyarakat bukan berarti merendahkan diri, bahkan sebaliknya adalah menuju satu derajat lebih tinggi kearah kemuliaan. Baik dimata manusia maupun dimata Allah. Sebagai PNS perlu mereaktualisasi kembali nilai-nilai keabdian sebagai dasar membentuk jiwa pengabdian yang tulus ihklas dan tanpa pamrih. Mental pelayanan harus bisa mengalahkan mental untuk minta dilayani.Walaupun sama-sama berasal dari akar kata yang sama, namun kedua kata bentukan baru tsb dalam prakteknya seperti bumi dengan langit. Sudah saatnya PNS mengucapkan selamat tinggal kepada paradigma lama yang usang dan basi. Kita songsong paradigma baru dengan semangat pengabdian agar kita lebih mampu tampil sebagai pelayan yang benar-benar melayani masyarakat.Bukan sekedar melayani jika ada kepentingan atau imbalan tertentu saja tapi dalam setiap keadaan. Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  14. Agustus 12, 2009 pukul 9:39 pm

    Selamat malam mbak Agnes,
    Semoga mbak dan keluarga dalam keadaaan sehat selalu,

    Tulisan anda begitu kritis untuk menjadi perenungan, membuat saya ingin berbagi catatan bahwa Indonesia berada dalam posisi yang strategis, memiliki sumber daya alam yang melimpah, serta jumlah penduduk yang besar, yang berarti potensial sebagai man power maupun sebagai pasar. Kondisi yang memungkinkan bagi terciptanya kesejahteraan rakyat tersebut ternyata juga menumbuhkan nafsu kapitalisme internasional untuk menguasainya.

    Cita-cita Proklamasi Kemerdekaan bukanlah sekadar memperoleh kemerdekaan politik, melainkan merombak struktur masyarakat warisan feodalisme dan kolonialisme, menjadi suatu masyarakat yang adil dan bebas dari eksploitasi manusia oleh manusia. Itulah sebabnya slogan kemerdekaan hanyalah jembatan emas. Mengingkari hal ini berarti mengingkari cita-cita Proklamasi Kemerdekaan. Apa gunanya kemerdekaan politik dalam bentuk pemerintahan oleh bangsa sendiri jika yang terjadi kemudian adalah penindasan manusia oleh manusia yang justru lebih dahsyat dibanding jaman kolonial? Merombak strukur masyarakat, itulah esensi kemerdekaan di situasi kita pada saat ini, bahwa semua orang (agama,suku dan ras) yang hidup dinegeri ini boleh mengambil bagian dalam proses perubahan dan berhak menikmati keadilan serta kemamkmuran.

    Jika demikian, berarti bagaimana mengaktualisasikan cita-cita proklamasi itu sendiri adalah secara bersama semua elemen lapisan bangsa, bergandengan tangan sehati sepikir untuk berani mengambil keputusan menuju perubahan. Paling tidak hal kongkretnya adalah merubah paradigma lama pribadi lepas pribadi, cara kita berpikir, cara kita bekerja (apapun pekerjaan kita) menjadi lebih berkualitas untuk ditiap lingkungan komunitas kita yang terkecil yakni keluarga dan Rumah Tangga sekitar kita. Perubahan menuju kemakmuran ada dalam keputusan kita bersama yang merindukan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

    Salam sejahtera selalu,
    Pambudi Nugroho

    • Agustus 13, 2009 pukul 8:31 am

      Selamat pagi Pambudi, komentnya ini saya balas di Air Port Cengkareng sambul menunggu pesawat yang ke Palangka Raya, ya momentnya tepat untuk membalas koment karena situasi di Bandara sangat dingin karena full AC dan suasana masih belum begitu ramai, Pambudi yang berbahagia,
      Ketika kita merenungkan kembali cita-cita proklamasi 17 Agustus 1945 tentang makna dari Proklamasi yang pada akhirnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Kesibukan keseharian membuat kita terlena akan tujuan dari Proklamasi tsb, sehingga kita lupa seharusnya turut serta mempercepat menggapai cita-cita tsb, yang di wujudnyatakan dalam kehidupan ini. Jika ia sebagai pegawai, jadilah pegawai yang baik, jika menjadi pejabat jadilah sebagai pejabat sebagai amanah dengan prinsip Integritas, jika ia sebagai wiraswasta jadilah sebagai pengusaha yang baik yang taat pada ketentuan yang ada. Bukankah kita hidup karena Allah menciptakan dan memberikan kita kehidupan ? Kehidupan ini ada awal dan ada akhirnya, hidup kita di dunia ini tidak kekal. Pada saatnya kita kembali ketika masa ” kontrak ” itu sudah berakhir. Selagi kita masih sehat dan kuat, kita harus merenungkan kembali bahwa kontrak itu ada batasnya. Maka dari itu semasa kita hidup di dunia ini menjadi yang terbaik dan mematuhi semua kontrak tsb dengan sebaik-baiknya, agar hidup kita tentram, aman dan makmur, Bukan demikian Pambudi ? Terima kasih sharingnya, Sukses untuk anda.

      Regards, agnes sekar

  15. 29 KinAr yes
    Maret 2, 2014 pukul 9:33 pm

    kalau tujuan proklamasinya apa? bls.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 285,427 hits
Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.197 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: