30
Jan
09

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA ( KDRT )


1. TERMINOLOGI DAN KDRT
Ditetapkannya tanggal 25 November sebagai Hari Internasional Anti kekerasan Terhadap Perempuan didasarkan pada tiga peristiwa penting, yaitu: (a) Pembunuhan terhadap Mirabel Sisters(Patricia, Minerva, dan Maria Teresa) oleh Pemerintah Diktator Trujillo, Republik Dominika tanggal 25 November 1960; (b) Kongres Perempuan I untuk Amerika Latin dan Karibia di Bogota-Kolombia pada tahun 1981; (c) pada tahun 1991 PBB secara resmi menetapkan hari pembunuhan tanggal 25 November itu sebagai Hari Internasional Untuk Penghapusan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2004, pasal 1 poin 1, yang dimaksud dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga(KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Yang dimaksud dengan rumah tangga dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 ini adalah:
(a) suami, sisteri dan anak
(b) orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang
sebagaimana dimaksudkan pada huruf (a) karena hubungan darah,
perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap
dalam rumah tangga;

(c) orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam
rumah tangga tersebut. Orang yang bekerja(membantu) di rumah
tangga dipandang sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu
selama ia berada dalam rumah tangga yang bersangkutan.

2. BENTUK KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
A. Kekerasan Fisik yaitu perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Misalnya perbuatan memukul, menempeleng, meninju, menampar, menendang, mendorong, melempar sesuatu, menjambak rambut, mencekik, dan penggunaan senjata tajam
B. Kekerasan Psikis, yaitu perbuatan yang bersifat verbal yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. Misalnya mengejek, mencela, menghina, memaki dengan kata-kata kotor, mengancam akan menyiksa, membawa pergi anak-anak, akan membunuh, melarang berhubungan dengan keluarga, atau dengan kawan dekat, atau melakukan intimidasi bahkan isolasi.
C. Kekerasan Seksual, yaitu pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga, dan pemaksaan hubungan seksual
terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Misalnya pemerkosaan.
D. Penelantaran Rumah Tangga(Kekerasan Ekonomi), yaitu perbuatan menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut. Misalnya: membatasi pemberian nafkah, tidak merawat anak-anak, meninggalkan rumah tangga dengan tidak bertanggung jawab, memaksa anak-anak mengemis, memaksa anak/isteri melakukan prostitusi.

3. AKAR KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA
Untuk melihat persoalan kekerasan terhadap perempuan dan KDRT, maka alat analisinya adalah Analisis Jender. Jender adalah hasil konstruksi sosial-budaya yang membedakan peran perempuan dan laki-laki baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Pemahaman demikian diturunkan secara kultural dan terinternalisasi menjadi kepercayaan/keyakinan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga diyakini sebagai suatu idiologi.. Sebagai hasil konstruksi sosial-budaya, jender tidak abadi, jender bisa berubah dan bisa diubah dari waktu kewaktu, dan sangat dipengaruhi oleh budaya, pendidikan, kelas sosial, agama, dan ras. Jender juga berhubungan dengan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak. Karena jender melahirkan perbedaan sosial antara perempuan dan laki-laki yang sering diyakini sebagai kodrat, dan tidak bisa diubah, maka konsep jender mempengaruhi keyakinan tentang bagaimana seharusnya perempuan dan laki-laki berpikir dan bertindak. Misalnya pembawaan perempuan lemah lembut, patuh, emosional, rapuh, sementara laki-laki kuat, gagah, rasional, tegas, dan berkuasa. Perbedaan posisi perempuan dan laki-laki akibat konsep jender tersebut, ternyata menciptakan ketidakadilan dalam bentuk subordinasi, dominasi, diskriminasi, beban kerja berlebihan, marginalisasi dan stereotipe yang merupakan sumber atau akar utama munculnya tindakan kekerasan terhadap perempuan. Mengapa demikian?
Keyakinan bahwa kodrat perempuan itu halus, posisinya di bawah laki-laki, melayani, dan bukan kepala rumah tangga, menjadikan perempuan sebagai properti milik laki-laki yang berhak memperlakukan apa saja, termasuk juga melakukan kekerasan. Hal yang istimewa dimiliki laki-laki sebagai akibat dari konstruksi jender, menempatkan laki-laki pada posisi yang memiliki kekuasaan(power) lebih tinggi daripada perempuan. Pola hubungan demikian membentuk sistem yang disebut dengan PATRIARKI. Idiologi patriarki ini berlangsung dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan kehidupan bernegara, bahkan dalam kadar tertentu diperkuat oleh “tafsir: dari ajaran agama. Dalam masyarakat patrilineal(faham patriarki-kebapaan) masyarakat menempatkan pria lebih tinggi, lebih berkuasa, dan sebagai kepala, sedangkan perempuan harus patuh pada suami dan hanya mengurus rumah tangga dan anak-anak. Sistem dalam pemerintahan kitapun masih menganut sistem faternalistik. Inilah akar budaya yang melegitimasi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan KDRT.

4. FAKTOR PEMICU TERJADINYA KDRT
Ada beberapa faktor yang sering dipandang sebagai pemicu KDRT, yaitu: (a) pertengkaran masalah uang, suami mengetatkan uang belanja, memberi uang belanja pas-pasan, sementara isteri banyak kebutuhan lainnya, (b) cemburu karena isteri bekerja dan memiliki kedududukan dan penghasilan lebih tinggi daripada suaminya, (c) problem/kelainan seksual seperti impotensi, hiperseks, frigid, dan sadisme seksual, (d) pengaruh miras, narkoba, perjudian, dan utang, (e) pertengkaran tentang anak, ketidak serasian cara pandang terhadap cara pendidikan anak, (f) suami di PHK atau menganggur, (g) isteri ingin meningkatkan pendidikan atau sibuk dalam organisasi/bisnis, sering bila isteri bekerja isteri mulai besar kepala karena tidak merasa tegantung lagi pada suami secara ekonomi, (h) kehamilan yang tidak dikehendaki atau kemandulan, dan (i) poligami dan perselingkuhan, dan lain-lain.

5. PROSES KEKERASAN
Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga tidaklah selalu muncul dengan seketika, tetapi terjadi melalui proses tertentu. Secara umum proses terjadinya adalah sebagai berikut: (a) muncul masalah yang memicu ketegangan, (b) dilanjutkan dengan ungkapan verbal yang kasar kepada suami/isteri atau anak-anak, (c) kata-kata kasar dilanjutkan dengan penyiksaan, (d) dalam posisi ini perlawanan justru akan meningkatkan ledakan emosi, (e) setelah puas melampiaskan emosinya, ketegangan menurun, dan diikuti penyesalan dari pelaku. Biasanya kekerasan dalam rumah tangga khususnya antara suami dan isteri, isteri sebagai korban senantiasa ada dalam posisi yang terpojok, karena isteri senantiasa memiliki beban moral untuk menyelamatkan ikatan keluarga, daripada berusaha untuk menyelamatkan diri sendiri.

6. DAMPAK DARI KEKERASAN
Beberapa dampak yang mungkin timbul akibat terjadinya KDRT adalah:
Dampak pada istri: (a)perasaan rendah diri, malu dan pasif,(b)gangguan kesehatan mental seperti kecemasan yang berlebihan, susah makan dan susah tidur, (c) mengalami sakit serius, luka parah dan cacat permanen, (d) gangguan kesehatan seksual.
Dampak pada anak-anak: (a) mengembangkan prilaku agresif dan pendendam, (b) mimpi buruk, ketakutan, dan gangguan kesehatan, (c) kekerasan menimbulkan luka, cacat mental dan cacat fisik.
Dampak pada suami: (a) merasa rendah diri, pemalu, dan pesimis,(b) pendiam, cepat tersinggung, dan suka menyendiri.

7. MERAHASIAKAN TERJADINYA KEKERASAN
Hingga saat ini masih sangat sedikit kasus KDRT muncul ke permukaan. Menurut Masri Singarimbun(1990) paling sedikti ada 8 faktor mengapa perempuan lebih suka merahasiakan terjadinya berbagai bentuk kekerasan terhadap diri mereka sendiri, yaitu: (a) citra diri perempuan rendah, (b) percaya suatu saat suami akan berubah, (c) ketergantungan ekonomi pada suami, (d) kebutuhan anak-anak akan dukungan ekonomi dari ayah mereka, (e) ragu apakah mereka dapat hidup sendiri, (f)perceraian membawa malu/aib, (g)sulit mendapatkan pekerjaan bagi wanita yang punya anak, dan (h) buta hukum dan tidak tahu kemana harus mengadu.

8. UPAYA PEMULIHAN DAN PREVENTIF
Beberapa upaya/langkah pemulihan dan preventif terhadap kekerasan terhadap perempuan dan KDRT adalah:
a. Dharma Wanita/BKOW atau LSM yang perduli pada perempuan
membuka HOTLINE sebagai wadah curhat dan konsultasi para korban
kekerasan.
b. Dharma Wanita/BKOW atau LSM yang perduli tentang perempuan
mengkoordinir suatu wadah atau asosiasi para korban kekerasan.
Wadah seperti ini mengadakan pertemuan secara rutin untuk bertukar
pikiran, berdiskusi, dan sharing tentang berbagai masalah yang
dihadapi dan bagaimana jalan keluar yang baik dari masalah yang
dihadapi oleh perempuan.
c. Menjalin hubungan keluarga yang harmonis dan terbuka antara suami-
istri-anak dan keluarga lainya.
d. Menanamkan nilai-nilai agama
e. Perempuan agar berpakaian yang sopan dan tidak mengundang birahi
dan kejahatan.
f. Perempuan harus berani dan tegas dalam menghadapi laki-laki agar
mereka merasa segan pada perempuan
g. Anak-anak gadis harus bisa berpikir kritis dan rasional apabila teman
lelakinya ingin berbuat yang tidak pada tempatnya
h. Kendatipun suami dan isteri sama-sama sibuk, cobalah beri perhatian
pada anak-anak dan luangkan waktu untuk berdiskusi dan bercanda
dalam keluarga
i. Dalam rumah usahakan agar anak laki-laki dan anak perempuan tidak
tidur sekamar setelah usia 01 tahun ke atas. Demikian juga kakek dan
cucu perempuannya.
j. Perhatikan kamar mandi agar tidak ada lobang yang bisa tempat
mengintip
k. Biasakan selalu mengunci kamar pada saat ganti pakaian dan tidur
l. Biasakan merajia kamar anak-anak pada saat mereka tidak ada untuk
mengetahui apakah ada obat-obatan terlarang, VCD porno, majalah
porno dan lain-lain.
m. Jangan menghadapi masalah dalam rumah tangga dengan emosi, atau
menaruh curiga yang berlebihan pada istri/suami.
n. Bila salah satu pasangan sedang marah/emosi, sebaiknya yang lain
menggunakan ilmu Silence is golden, baru kemudian
mendiskusikannya pada saat-saat yang memungkinkan.

9. PENUTUP
Tindak kekerasan terhadap perempuan dan KDRT tidak kenal usia, status, etnis, warna kulit, tempat dan waktu. Selalu mungkin saja terjadi, bukan saja karena ada niat, tetapi juga terbukanya peluang untuk melakukan tindak kekerasan tersebut. Berbagai bentuk tindak kekerasan seperti dalam rumah tangga, perkosaan, pelecehan seksual, perdagangan perempuan, kejahatan perkawinan dan tenaga kerja. Jenis kekerasan seperti kekerasan fisik dan nonfisik(psikologis). Berbagai tindak kekerasan ini terjadi tentunya karena adanya relasi atau interaksi sosial yang semakin terbuka dan dipengaruhi oleh berbagai nilai demokrasi, modernisasi dan nilai-nilai global yang semakin melemahkan nilai-nilai budaya dan moral kita. Adalah tanggung jawab kita semua untuk memahami permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan KDRT. Satu hal yang perlu kita sadari bahwa kekerasan terhadap perempuan/KDRT oleh suami, misalnya, sering sekali adalah akibat prilaku istrinya sendiri yang terlalu emosional dan tidak rasional tatkala menghadapi masalah dalam rumah tangga. Laki-laki, bukan hanya perempuan perlu instrospeksi diri untuk melihat sumber-sumber pemicu kekerasan dalam rumah tangga antara suami dan isteri dan anak-anak. Kita perlu sadar hukum, perlu berani bertindak, dan terbuka. Demikian pula tidak menabukan masalah pendidikan seks kepada anak-anak

About these ads

24 Responses to “KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA ( KDRT )”


  1. 1 Joe
    Januari 30, 2009 pukul 11:34 am

    Jika kita baca buku “Kenapa Berbikini Tak LAnggar UU Pornografi,” (ada di gramedia) maka yang menolak UU POrn seharusnya mendukung, sebalilknya yang mendukung seharusnya menolak. Kenapa bisa begitu? Dunia memang sudah terbolak-balik. Biar kita tidak terbolak-balik juga, maka buku di atas sangat penting tuk dibaca.

  2. Januari 30, 2009 pukul 12:05 pm

    Okay terima kasih sarannya. Sukses untuk anda.

    Regards, agnessekar.wordpress.com

  3. 3 agunk agriza
    Januari 30, 2009 pukul 6:18 pm

    mudah2an dalam keluarga ak, papa mama nggak terlibat KDRT :)

  4. Januari 30, 2009 pukul 7:11 pm

    Semoga demikian ya gung, harapan kita bersama tentu yang terbaik ya khan ?

    agnessekar

  5. Januari 31, 2009 pukul 9:07 pm

    ih waw… Ibu yang satu ini kayanya pejuang perempuan era milenium neh…
    betul bu. tapi dsini kita gx bsa saling menyalahkan… apapun faktanya karena lelaki dan perempuan itu tercipta harusnya saling melengkapi bukan saling menindas..

  6. Januari 31, 2009 pukul 9:19 pm

    Betul, seratus untuk anda. Terima kasih komentarnya.

    Regards, agnes sekar

  7. Januari 31, 2009 pukul 9:22 pm

    jangan lupa kunjung2 d blog kita ya bu…

  8. Januari 31, 2009 pukul 9:48 pm

    Oh ya tentu, blog yang menarik dan penuh kreatifitas, Yahud pokoke !

    Regards, agnessekar

  9. Januari 31, 2009 pukul 10:09 pm

    bu.. segera di lacak ke TKP (blog xentala)
    jwbn atas ketakutan terbesar ibu…hehehehe..
    mav ya bu itu ala kami..

  10. Januari 31, 2009 pukul 10:22 pm

    Begitu lengkap.. Informatif dan bisa dijadikan acuan untuk melakukan kegiatan kampanye atau semacam sosialisasi.
    Kegiatan saya juga ketika di tengah-tengah masyarakat adalah seperti yang digambarkan dari banyaknya tulisan Mba’ Sekar. Saya jadi banyak belajar di sini, terutama mengenai Gender. Saya kebetulan di Soe, kerja di INGO, jadi adakalanya melakukan seperti yang dipaparkan pada tulisan ini.
    Betul-betul detail. Terima kasih Mba’ Sekar..

    Salam,
    OmpuNdaru

  11. Februari 1, 2009 pukul 4:20 am

    Okay makasih komentnya. GBU.

    Regards, agnes sekar

  12. Februari 1, 2009 pukul 11:02 pm

    Tidak semua KDRT itu dilakukan oleh pria, perempuanpun sangat mampu utk melakukan KDRT. Namun intinya bukanlah mampu at tdk mampu, pria atau perempuan tp bagaimana cara agar KDRT tdk tercipta dalam Satu keluarga. Setiap keluarga pasti mempunyai suatu masalah apabila didalam keluarga tersebut ada saling keterbukaan, sy yakin kekerasan tidak akan terjadi.

  13. Februari 2, 2009 pukul 3:25 am

    Betul Pak Safii, itu salah satu solusi untuk meminimalkan KDRT, Okay sukses untuk anda.

    Regards , agnes sekar

  14. Februari 3, 2009 pukul 8:13 am

    KDRT memang sering terjadi. Ini bisa disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya kurangnya komunikasi.
    Bukan begitu Ibu. Terus kita serukan kebebasan yang seuthnya untuk para perempuan.
    Lam kenal

  15. Februari 3, 2009 pukul 9:51 am

    Okay makasih komentnya nessy, sukses untuk anda.

    Regards, agnessekar.wordpress.com

  16. Februari 6, 2009 pukul 12:15 pm

    Hemmm setuju…. sebagai lelaki saya paling tidak suka yang namanya KDRT. Salut buat ibu, terus kampanyekan anti KDRT pada tiap keluarga…
    N makasih ya bu, dah nyempetin ngelongok ke blog kami.
    Salam kenal,
    Irvan/APBS

  17. Februari 6, 2009 pukul 2:17 pm

    Sami-sami Irvan.

    Regards , agnes sekar

  18. Maret 18, 2009 pukul 6:51 am

    menghargai perempuan adalah mutlak… ingatlah bahwa kalian dilahirkan dari perut seorang perempuan… so lindungi danjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan semampu anda bisa lakukan…
    (lho koq malah dakwah disini tho…) hihi…

    maaf bu mampir, salam kenal… sukses teruss membawa aaspirasi perempuan melalui blogger…!!

  19. Maret 18, 2009 pukul 12:42 pm

    Selamat siang bongkeng, senang anda bisa memberi komentar yang baik, Ya memang surga ditelapak kaki Ibu, Terima kasih, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

  20. Mei 7, 2009 pukul 10:37 am

    sayangi, cintai dan lindungilah para perempuan bukan seperti kisah dibawah ini:

    http://ksemar.wordpress.com/2009/02/20/nolak-rujuk-caleg-pnbk-langkat-siram-istri-pake-air-keras/

  21. Mei 7, 2009 pukul 1:29 pm

    Selamat siang Ksemar, ya…ya…setuju perempuan butuh dilindungi, Terima kasih komentnya, Sukses untuk anda.

    Regards, agnes sekar

  22. Mei 16, 2009 pukul 12:22 pm

    Merenungkan dampak kekerasan, praktek dan lingkungan yang penuh kekerasan terhadap anak-anak melalui karya perupa Haris Purnomo dan budayawan Sindhunata

    Menunggu Aba-aba : Bayi Bertato, Kepompong dan Pisau Sangkur

    Bagi saya karya-karya Haris Purnomo dalam pameran Kaum Bayi : Alegori Tubuh-tubuh yang Patuh ini merupakan kritik atas peradaban, kekerasan dunia orang dewasa, kekerasan tatanan masyarakat baik di lapangan politik, ekonomi, budaya, teknologi terhadap alam dan sesama manusia. Bumi air tanah tumbuh bayi-bayi mungil dengan tato sekujur tubuh, dalam bedong ber-pisau sangkur. Hangat kepompong dalam proses metamorfosis menjadi bentuk lain, kepribadian lain.

    Mereka Menunggu Aba-aba!!!!

    grekgrek, grekgrek, grengkek, grekgek atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

    grek grek suara motor penggerak pisau sangkur menghipnotis ruang bentara budaya yang temaram mencabik kenyamanan, membuat ngeri, seperti dengkur pasukan perang, tentara pembunuh …… alien, mutan, monster…

    atau seperti bunyi orang mengasah sangkur

    Mereka Menunggu Aba-aba!!!

    bayi-bayi lelap dan jaga yang menimbulkan sayang dan haru itu, menyembul harap dan bahagia dan kengerian di sekitarnya, kontradiksi pedih, kemanusiaan abad ini….

    silah kunjung ….

    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/menunggu-aba-aba-bayi-bertato-kepompong.html

  23. Oktober 6, 2010 pukul 6:23 pm

    kdrt

  24. Februari 13, 2013 pukul 6:23 am

    I like the valuable info you provide in your articles. I will bookmark your blog and check again here frequently.

    I’m quite certain I will learn lots of new stuff right here! Good luck for the next!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


MY THOUGHT ABOUT THIS WORLD

Penulis

In here, I write my thought about this world, from any idea that speak about my job to my activities with my families and friends, which I like to share for you.
OK, Thanks for your attention and I hope it will be useful for us, especially for you.
GBU

Statistik Blog

  • 297,147 hits
Januari 2009
S S R K J S M
« Des   Feb »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

RSS Tentang Perempuan

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.197 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: